Kenaikan Harga Beras Dan Dampaknya Bagi Perempuan

Beras

Dalam beberapa bulan terakhir, harga beras terus merangkak naik. Kini harga beras sudah mencapai 30 persen. Rakyat miskin pun merasakan dampaknya. Terutama kaum perempuan yang berurusan dengan persoalan rumah tangga.

Seperti biasa, setiap terjadi kenaikan harga sembako, apalagi beras, kaum perempuanlah yang paling memutar otak. Kaum perempuan harus berjibaku memastikan ketersediaan beras sebagai bahan makanan utama untuk keluarganya.

Berdampak Langsung

Kenaikan harga beras berdampak langsung pada ekonomi keluarga. Khususnya keluarga yang berpendapatan menengah ke bawah.

Sebagaimana diakui oleh Biro Pusat Statistik (BPS), bahwa harga beras sangat berpengaruh pada garis kemiskinan: 23,39 persen. Dengan demikian, setiap kenaikan harga beras pasti akan berdampak langsung pada kemampuan rumah tangga dalam memastikan ketersediaan beras untuk keluarganya.

Dan tentu saja, situasi tersebut paling dirasakan oleh perempuan. Sebab, perempuan yang berperan sebagai Ibu Rumah Tangga (IRT) bertugas sebagai pengelola keuangan dan ekonomi rumah tangga.

Belum lagi, ada anggapan sosial selama ini yang menganggap bahwa urusan domestik adalah urusan kaum perempuan. Termasuk soal menyediakan makanan bagi keluarga. Hal inilah yang membuat kaum perempuan sangat rentan dengan berbagai kebijakan ekonomi pemerintah, terutama yang berkaitan dengan kenaikan harga kebutuhan pokok.

Hal ini akan sangat terasa pada perempuan dari keluarga miskin. Bayangkan, dengan pendapat keluarga yang pas-pasan, kaum perempuan ini diharuskan bisa memastikan ketersediaan makanan bagi keluarganya.

Dalam banyak kasus, hal itu memicu terjadinya kekerasan dalam rumah tangga. Komisi Nasional Anti Kekerasan Terhadap Perempuan (Komnas Perempuan) mencatat, hampir 60 persen kekerasan yang terjadi terhadap perempuan terjadi di dalam rumah tangga. Dan sebagaian besar kasus kekerasan dalam rumah tangga dipicu oleh persoalan ekonomi.

Tidak jarang juga, tekanan ekonomi memicu terjadinya kasus bunuh diri. Dan untuk diketahui, banyak kasus bunuh diri dilakukan oleh kaum perempuan. Terutama dari mereka yang berasal dari lapisan ekonomi terbawah.

Berbicara Solusi

Sejauh ini, untuk mengatasi kenaikan harga beras, pemerintah menempuh operasi pasar. Namun, operasi pasar ini tidak begitu signifikan dalam menurunkan harga beras.

Menurut saya, pemerintah harus mulai mengoreksi kebijakannya terkait pangan dan harga beras. Kenaikan harga beras saat ini sangat terkait dengan pasokan. Dan pasokan ini sangat terkait dengan ketidakmampuan pemerintahan mewujudkan swasembada beras.

Selain itu, fluktuasi harga beras ini juga sangat dimungkinkan oleh keputusan pemerintah melepas harga beras pada mekanisme pasar. Jadinya, pengadaan dan distribusi beras menjadi lahan subur bagi terjadinya praktek mencari keuntungan.

Karena itu, untuk mengatasi persoalan harga beras ini, pemerintah harus memastikan terwujudnya swasembada beras. Pemerintah juga harus menghentikan praktek melepaskan harga beras pada mekanisme pasar. Bagi saya, harga beras harus diputuskan oleh pemerintah dengan mempertimbangkan daya beli rakyat.

Untuk mengatasi masalah ini, pemerintah perlu mendirikan koperasi-kopersi yang mendistribusikan sembako murah, termasuk beras, terhadap keluarga miskin. Program beras untuk rakyat miskin (raskin) juga tetap harus dipertahankan.

Rini S.Pd, Koordinator Hubungan Internasional Aksi Perempuan Indonesia (API) Kartini

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut