Kemesraan Cina dan Amerika Latin

Seiring dengan pasang merah di Amerika latin, yang menyapu Dotrin Monroe bahwa Amerika latin hanyalah “halaman belakang” Amerika Serikat, pengaruh Cina di kawasan ini justru semakin menguat.

Sementara Trump ingin membangun tembok besar untuk memagari negaranya dari Amerika latin, Cina justru ingin menarik dan mengintegrasikan Amerika Latin ke dalam proyek besarnya: Jalur Sutra.

Bagi Amerika latin, Cina dan AS jelas berbeda. Amerika meninggalkan jejak kelam di Amerika latin, dari politik intervensi, mendorong kudeta, kejahatan HAM, hingga penjarahan sumber daya alam. Hingga hari ini, AS punya lebih dari 70-an pangkalan militer di Amerika latin dan Karibia.

Sangat berbeda dengan Cina. Negeri tirai bambu itu datang dengan uluran tangan untuk berbisnis, tidak mengintervensi urusan politik negara bersangkutan dan tidak mendirikan pangkalan militer.

Di Venezuela, cina menjadi mitra ekonomi strategis, yang menyuntikkan jutaan dollar AS untuk investasi di sektor infrastruktur maupun minyak.

“Venezuela dan Cina layaknya saudara sebangsa, yang membawa perdamaian, kerjasama dan pembangunan yang saling memajukan,” kata Presiden Venezuela, Nicolas Maduro, seperti dikutip venezuelanalysis.com, 15 Februari 2017.

Di panggung internasional, selain Rusia, Cina adalah sekutu strategis Venezuela, yang selalu membela Republik Bolivarian dari tekanan Amerika serikat dan sekutunya.

Di Bolivia, Cina juga menjadi mitra pembangunan yang handal, dengan investasi ratusan juta dollar untuk proyek infrastruktur dan energi. Selain itu, Cina juga menjadi sasaran ekspor lithium dari Bolivia.

Presiden Bolivia Evo Morales menganggap Cina sangat berbeda dengan IMF dan AS, karena tidak memaksakan syarat-syarat yang memberatkan Negara debitur untuk mendapat pinjaman.

“Jika kami mengakomodasi pinjaman dari IMF, kami harus tunduk pada kebijakan privatisasi dan kehilangan warisan nasional kami,” kata Evo Morales, seperti dikutip teleSUR, 14 Februari 2018.

Sejak terpilih sebagai Presiden, Morales sudah tiga kali mengunjungi Cina. Dan rencananya, pada 2018 ini, dia akan kembali mengunjungi negeri Tirai Bambu itu.

Tidak hanya dengan Venezuela, Bolivia dan Kuba, negara-negara Amerika latin yang lain pun mulai melirik Cina. Sebut saja Meksiko, yang merupakan sekutu paling tua sekaligus paling loyal AS di Amerika latin.

Setelah kegagalan perdagangan bebas Amerika Utara (NAFTA), lalu ambisi Trump membangun tembok besar di perbatasan dengan Meksiko, kini Meksiko mulai melirik Cina.

Sekarang Meksiko menganggap Cina sebagai mitra dagang yang penting di masa mendatang. Meskipun 80 persen ekspor Meksiko masih lari ke AS, tetapi pelan-pelan Cina menjadi negara sasaran ekspor terbesar ketiga Meksiko.

Chile yang agak kecewa dengan AS setelah sikap ambigu Trump yang mempersoalkan perdagangan bebas, sekarang juga mulai melirik Cina.

“Kita sedang dalam situasi tidak pasti dan kompleks, dan Cina memainkan peran konstruktif dalam mengatasi kompleksitas ini,” kata Menteri Luar Negeri Chile, Heraldo Munoz, seperti dikutip Reuters, 22 Januari 2018.

Dan pada Januari 2018 lalu, Cina hadir sebagai mitra dalam pertemuan Negara-Negara Amerika latin dan Karibia (CELAC) di Santiago, Chile. Delegasi Cina yang dipimpin oleh Menteri Luar Negeri Wang Yi mempromosikan keterbukaan ekonomi dan kerjasama berbagai bidang seperti infrastruktur, energi, pertanian, manufaktur, teknologi dan sains, dan teknologi imformasi.

Tentu saja, pengaruh Cina yang makin menguat di Amerika latin berdampak secara geopolitik. Koran partai komunis Kuba, Granma, menyebut ini sebagai “pergeseran geopolitik”.

“Pergeseran geopolitik menuju ke aktor-aktor baru, seperti raksasa Cina dan Rusia, yang melukai mimpi indah Washington,” tulis koran yang sudah berusia lebih dari setengah abad itu.

AS tentu tidak rela jika Cina banyak bermain di halaman belakangnya. Menteri Luar Negeri sekaligus Sekretaris Negara AS, Rex Tillerson, langsung memperingatkan bahaya Cina di Amerika latin.

“Hari ini Cina mendapat pijakan kakinya di Amerika latin. Memanfaatkan lobi ekonomi, mereka ingin menarik kawasan ini ke orbitnya. Pertanyaannya adalah berapa harganya,” kata Tillerson, seperti dikutip Reuters, 2 Februari 2018.

Tidak tanggung-tanggung, mantan pejabat Exxon ini menuding Cina sebagai “imperialis baru” yang hanya mau menghisap rakyat Amerika latin.

Agak lucu memang, ketika AS menuding negara lain sebagai imperialis, ibarat “menepuk air di dulang, terpercik muka sendiri”, seakan jejak imperialistisnya di berbagai belahan dunia, termasuk di Amerika latin. Bahkan, demi mempertahankan kuasa imperialisnya, AS masih mempertahankan 800-an pangkalan militernya di berbagai belahan dunia.

Raymond Samuel

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut