Kemerdekaan Beragama Di Kuba

Umat islam di Havana, Kuba, bebas menjalankan kegiatan keagamaan.

Selama ini, jika orang bicara soal agama, Kuba selalu menjadi pengecualian. Maklum, karena menganut marxisme, Kuba dianggap intoleran terhadap agama. Bahkan, Amerika Serikat sangat gencar mengangkat isu “represi terhadap agama sebagai bahan propaganda untuk mendiskreditkan Kuba.

Benarkah demikian? Tidak benar! Memang, jika orang malas mencari informasi, bisa saja termakan propaganda anti-komunis dari media-media mainstream barat. Maklum saja,kehidupan beragama di Kuba memang jarang disorot oleh media.

Tahun 1992, Kuba mengadopsi sekularisme dalam Konstitusinya, yang dimaksudkan untuk menjamin kemerdekaan beragama. Sejak itu, Dua Paus dan sejumlah pemimpin agama lain telah berkunjung ke Kuba.

Tidak ada anti-semitisme di Kuba

Jumlah orang Yahudi di Kuba memang tidak terlalu banyak. Saat ini, jumlah orang Yahudi hanya 1500 orang. Sebelum revolusi, jumlahnya mencapai 15.000 orang. Sebagian bermigrasi ke AS.

Meski sangat minoritas, orang Yahudi di Kuba tidak pernah mendapat perlakuan kekerasan. “Pada awal revolusi, tidak ada pemisahan antara agama yang berbeda-beda dengan negara. Jika anda menempati posisi tinggi di negara, anda tak boleh beragama. Tetapi tidak pernah ada penganiayaan di sini,” kata David Prinstein, Wakil Presiden masyarakat Yahudi di Kuba.

David mengaku, kedua orang tuanya adalah Yahudi dan juga anggota partai komunis. David sendiri adalah aktivis komunis. Sedangkan neneknya, yang datang ke Kuba dari Polandia, rajin mengunjungi sinagoga (tempat ibadah umat Yahudi).

Di Kuba, ada lima sinagoga: tiga di Havana, satu Santiago de Cuba dan satu lagi di Camagüey. David menegaskan, masyarakat Yahudi di Kuba tidak pernah mendapat penganiayaan. “Kami bukan negara dengan manifestasi anti-semit,” katanya.

Gereja Baru Di Kuba

Gereja Moravia, yang berdiri tahun 1457 di Eropa Timur, mulai berfungsi di Kuba pada akhir 1990-an. “Kami mulai sebagai sekelompok kecil bertemu bersama di sebuah rumah, sampai kami bergabung dengan Dewan Gereja Kuba tahun 2003 sebagai asosiasi persaudaraan,” kata Armando Rusindo, pemimpin gereja Moravia di Kuba.

Rusindo, yang berbicara atas nama pengalaman pribadinya, merasa ketegangan antara agama dan pemerintahan revolusioner baru terjadi pada tahun 1959 karena kurangnya pemahaman bersama. Sekarang, ia merasa ada kebangkitan iman diantara orang Kuba. Hal itu ditandai dengan meningkatnya jumlah orang ke Gereja.

Rusindo juga mendengar kabar, bahwa mereka bisa menyiarkan acara natal melalui televisi, menggunakan bioskop, dan tempat-tempat umum. “Kami pikir itu mimpi, tetapi hari ini menjadi kenyataan,” katanya.

Berdirinya Liga Islam

Orang Islam sudah lama di Kuba. Tetapi, selama 500 tahun sejarahnya, tidak pernah institusi keagamaan Islam di Kuba. Namun, sejak tahun 2007, Liga Islam Kuba berdiri.

“Kami mempraktekkan ini sejak tahun 1990-an dan tidak pernah ada masalah,” kata Pedro Lazo, Presiden Liga Islam Kuba.

Lazo mengatakan, sekarang ini ada ribuan umat islam di Kuba, termasuk orang Kuba dan mahasiswa asing. Meskipun belum punya masjid, tetapi umat islam Kuba bebas menjalankan aktivitas keagamaan, seperti ibadah di bulan Ramadhan.

Lazo juga mencatat, Liga Islam punya hubungan yang baik dengan agama-agama yang lain. “UU kami menetapkan bahwa hubungan antar umat beragama harus dipelihara, seperti terhadap tetangga, yang didasarkan pada penghargaan, persaudaraan, dan kerjasama dalam segala hal,” tegasnya.

Setelah serangan 11 September 2001 di AS, islam digambarkan sebagai agama teroris. Tetapi di Kuba, Liga Islam tetap bekerja seperti biasa dan mewakili Islam dalam di forum nasional dan internasional.

Gereja dengan tanggung-jawab sosial

Pusat peringatan Martin Luther King (CMMLK), lembaga yang terinspirasi oleh gerakan ekumenis, berdiri di distrik Pogolotti, Havana, pada tahun 1987. Lembaga ini diharapkan menghilangkan jurang pemisah antara masyarakat Kuba dan jemaat.

Menurut Kirenia Criado Pérez, Direktur Pusat refleksi dan Program pelatihan sosio-teologis, pengaruh sosial CMMLK tidak hanya datang dari pelatihan Alkitab, teologis, dan pastoral, tapi juga dari proyek-proyek pendidikan yang dipandu oleh ide-ide dari pendidik Brasil, Paulo Freire.

“Kami menganjurkan partisipasi. Kami percaya setiap orang memiliki kebijaksanaan, yang, ketika berbagi dengan masyarakat, akan memperkaya praktek,” katanya.

Setelah Kuba dihantam badai Sandy pada Oktober 2012, anggota CMMLK membuat proyek kemanusiaan, yang memobilisasi orang secara nasional untuk membantu pembersihan dan pembangunan kembali rumah-rumah.

Kirenia Criadou percaya, bersama dengan institusi lain, CMMLK telah membantu rakyat memahami bahwa gereja adalah aktor sosial dan bertanggung-jawab dalam mengubah keadaan.

Raymond Samuel

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut
  • Fadhli Erlanda Arlan

    ini baru bhinneka tunggal ika, padahal di negara komunis lho. klo orang bisa bebas beragama di Kuba yang komunis, kenapa dulu PKI musuhan dengan ulama dan pemuka agama lain?