Kemenhut RI Setujui Tuntutan Petani Jambi

Petani-Jambi

Perjuangan petani Jambi akhirnya menemui titik terang. Pada tanggal 30 Januari 2013 lalu, Kementerian Kehutanan RI melalui Direktorat Jenderal Bina Usaha Kehutanan (BUK) mengeluarkan Surat Keputusan (SK) terkait penyelesaian konflik agraria di dusun Kunangan Jaya II (Batanghari) dan Mekar Jaya (Sarolangun).

Dalam SK ber-nomor S.92/VI-BUHT/2013 itu disebutkan, Kemenhut RI menyetujui penyelesaian konflik agaria di dusun Kunangan Jaya II dan Mekar Jaya melalui pola Hutan Tanaman Rakyat (HTR) mandiri. SK tersebut ditandatangani oleh Direktur Jenderal Dirjen BUK Kemenhut

Selain itu, menurut SK tersebut, pihak Kemenhut RI akan meng-addendum Ijin Usaha Pengelolaan Hasil Hutan Kayu (IUPHHK) yang sebelumnya diberikan kepada tiga perusahaan, yakni PT. Wanakasita Nusantara, PT. Agronusa Alam Sejahtera, dan PT. Restorasi Ekosistem Indonesia.

Untuk diketahui, petani dusun Kunangan Jaya II, Batanghari, menuntut pengembalian lahan mereka seluas  7.489 Hektar yang dicaplok oleh tiga perusahaan, yaitu PT. Agronusa Alam Sejahtera (AAS), PT. Wanakasita Nusantara (WN) dan PT. Restorasi Ekosistem Indonesia (REKI).

Sedangkan petani Mekar Jaya, Sarolangun, menuntut pengembaliah lahan mereka seluas seluas 3.482 Hektar. Resume kasus konflik agraria Suku Anak Dalam (SAD) 113, Kunangan Jaya II, dan Mekar Jaya bisa diakses di sini. 

Perjuangan Panjang Dan Militan

Untuk diketahui, petani Jambi dari dua dusun itu, yakni Kunangan Jaya II dan Mekar Jaya, sudah bertahun-tahun berjuang untuk menuntut pengembalian lahan mereka yang dirampas perusahaan.

Sejak 17 November 2012 lalu, petani Jambi menggelar aksi di Jakarta. Awalnya mereka membangun tenda di depan gedung DPR. Namun, belum sempat menginap semalam, petugas Satpol PP sudah menggulung tenda tersebut.

Lalu, pada 18 November, petani kembali berusaha menginap di depan DPR. Besoknya, sekitar pukul 08.00 WIB, petugas Satpol PP dan Kepolisian kembali membubarkan tenda itu. Bahkan, seorang pengurus KPP Serikat Tani Nasional (STN), Agus Pranata, sempat ditangkap oleh polisi.

Akhirnya, hari itu juga petani menggeser tenda aksi pendudukan ke depan kantor Kemenhut RI di jalan Gatot Subroto, Jakarta. “76 hari kami menginap di depan Kemenhut,” ujar Mawardi, ketua Partai Rakyat Demokratik (PRD) Jambi yang selama ini memimpin aksi petani.

Menurut Mawardi, selama melakukan aksi pendudukan, petani berhadapan dengan begitu banyak rintangan. Sepanjang Desember 2012-Januari 2013, Jakarta terus menerus diguyur hujan deras. Tak jarang, hujan deras itu menjebol tenda-tenda petani.

Dalam proses pendudukan itu, tak sedikit petani yang jatuh sakit dan dilarikan ke Rumah Sakit. Juga, karena lokasi pendudukan diapit jalan raya dan rel kereta api, ada petani yang tertabrak kendaraan.

Pada awalnya, pihak Kemenhut RI mengabaikan tuntutan petani. Bahkan, pada tanggal 23 November 2012, Menhut Zulkifli Hasan menuding petani Jambi sebagai perambah hutan. Sedangkan dua organisasi yang aktif mendampingi petani, yakni PRD dan STN, dituding sebagai dalang perambah hutan.

Tudingan Menhut itu menuai protes. Di berbagai daerah, seperti Jatim, Sulsel, Sultra, Jambi, Jakarta, NTT, Sulteng, Jateng, DIY, dan lain-lain, menggelar aksi protes mengecam komentar Menhut itu.

Tak lama setelah itu, petani Jambi pun memutuskan untuk menggelar aksi long-march dari Jambi menuju Jakarta. Jarak yang ditempuh kurang lebih berkisar 1000 kilometer.

Aksi long-march petani Jambi dimulai tanggal 12 Desember 2012. Di sepanjang jalan petani menuai dukungan. Bahkan, ketika melintas di wilayah Mesuji, Lampung, petani Mesuji di areal perluasan Register 45 menyatakan bergabung dengan aksi long-march petani.

Tetapi aksi long-march itu sendiri tidaklah mudah. Petani harus menerjang hujan maupun panas. Tak jarang, karena kondisi cuaca yang buruk, banyak petani yang jatuh sakit. Ada pula petani yang tertabrak oleh kendaraan di perjalanan.

Teror dan intimidasi juga mengintai aksi long-march petani. Pada tanggal 5 Januari 2013 lalu, saat petani sedang menginap di lapangan tenis indoor Menggala, Tulang Bawang, mobil pengangkut logistik petani dilempari bom molotov oleh pihak tak dikenal.

“Semua logistik petani, yang merupakan sumbangan rakyat di sepanjang perjalanan, ludes terbakar. Sejumlah perlengkapan dan tas petani peserta aksi jalan kaki juga ikut terbakar,” ujar Andi Syaputra, koordinator aksi jalan kaki petani Jambi.

Namun, petani Jambi pantang mundur. Akhirnya, setelah menempuh perjalanan selama 43 hari, petani Jambi tiba di istana negara. Mereka disambut oleh ratusan buruh dan aktivis gerakan rakyat.

Memastikan Realisasi Keputusan

Meski sudah mengantongi SK Kemenhut RI, petani Jambi tidak lantas merasa menang 100 persen. Bagi mereka, SK kemenhut tersebut harus dikawal dan dipastikan terealisasi di lapangan.

“Kami akan mengawal SK tersebut hingga terealisasi di lapangan. Kalau terjadi pengingkaran, maka kami siap menggelar aksi jalan kaki ribuan orang dari desa-desa ke Jakarta,” kata Mawardi.

Hal senada disampaikan oleh Andi Syaputra selaku korlap aksi Jalan Kaki petani Jambi. Dia bilang, yang mendesak dilakukan petani Jambi adalah memastikan pemerintah daerah, khususnya Gubernur Jambi, Bupati Batanghari, dan Bupati Sarolangun, segera menjalankan SK Kemenhut RI tersebut.

Sementara itu, ratusan petani Jambi yang sebelumnya menggelar aksi pendudukan selama 76 hari di depan Kemenhut RI juga sudah tiba di Jambi, Minggu (3/2), sekitar pukul 03.00 WIB.

Pagi tadi, sekitar pukul 10.00 WIB, mereka langsung mendatangi kantor Gubernur Jambi. Di sana mereka membacakan pernyataan sikap dan Surat Keputusan Kemenhut RI melalui Dirjen BUK.

“Kami menutut agar keputusan Kemenhut RI segera dilaksanakan oleh pemerintah daerah. Apabila Pemda mengabaikan SK ini, petani siap menggelar perlawanan,” kata Nurlela, petani dari dusun Mekar Jaya, Sarolangun, yang membacakan pernyatan sikap dan SK Kemenhut.

Dalam pesan singkatnya di depan kantor Gubernur Jambi, Nurlela mengatakan, kemenangan yang dicapai petani Jambi adalah hasil dari sebuah perjuangan yang panjang dan berani.

“Saya yakin, tanpa perjuangan yang membara di dalam hati, tidak mungkin tuntutan kita dikabulkan pemerintah,” katanya.

Hal senada disampaikan Wondo, aktivis STN Jambi yang turut dalam aksi long-march 1000 kilometer dari Jambi ke Jakarta. “Berbagai rintangan sudah dilalui, dari represi, intimidasi, teror, hujan, dan lain-lain, syukurlah, kita bisa sampai di Jakarta,” ucapnya.

Wondo mewakili petani peserta longmarch 1000 kilometer mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya atas dukungan rakyat di desa-desa dan kota-kota yang dilalui petani Jambi. Ia juga menyampaikan terima kasih kepada organisasi rakyat yang telah bersolidaritas terhadap long-march petani Jambi.

Mahesa Danu

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut
  • Efendi

    BRAVO..!!!!! kalo begini tidak perlu lagi ada DPR ya, bubarkan saja karena tidak punya keuntungan apa2 utk rakyat….HIDUP PETANI..