Kemenangan Nicolas Maduro Dan Tantangan Revolusi Bolivarian

Lebih dari separuh (50,66%) pemilih Venezuela telah memberi mandat kepada Nicolas Maduro, kandidat yang diusung oleh “chavistas”, untuk melanjutkan Revolusi Bolivarian.

Ini adalah peristiwa bersejarah. Dalam sejarah umat manusia, baru kali ini ada revolusi mempertahankan kelanjutannya melalui jalan damai, yakni pemilu. Dahsyatnya, sejak 1998 hingga 2013 ini, revolusi Bolivarian sudah memenangi 17 kali pemilu dan referendum. Ia hanya kalah sekali, yakni referendum tahun 2007.

Namun, perolehan suara kubu revolusi hari ini patut dicermati. Maduro gagal mencapai target 10 juta suara. Alhasil, ia hanya terpisah tipis, yaitu  234,935 suara atau 1,6% dari oposisi. Padahal, Chavez sebelumnya masih mencapai 54,44% dan selisih 10% dengan oposisi. Artinya, dalam beberapa bulan terakhir, ada 3-4% pendukung kubu Bolivarian menyeberang ke kubu lainnya.

Banyak yang agak sedikit “lesu” dengan hasil itu. Namun, bagi saya, hasil itu harus dilihat secara positif. Ini adalah semacam pesan peringatan bagi kubu revolusi untuk mengoreksi dirinya. Karena itu, saya kira, justru koreksi ini akan membantu revolusi mengooreksi kekurangan dan memerangi penyimpangan.

Hasil pemilu Venezuela memperlihatkan perimbangan baru dalam korelasi kekuatan di Venezuela. Boleh dikatakan, dengan hasil suara pemilu kemarin, perimbangan kekuatan mendekati 50:50. Ini situasi yang sangat krusial dan berpotensi pada konfrontasi terbuka.

Menghadapi hal itu, Maduro diperhadapkan pada dua pilihan: memperdalam proses revolusi Bolivarian dengan mengatasi segala kelemahannya atau mengambil langkah moderat-kompromis dengan pihak oposisi yang menguat. Tentu saja, jika Maduro mengambil langkah moderat, gerak revolusi akan berjalan lamban atau malah bisa termoderasi dan akhirnya menyimpang.

Namun, keputusan Maduro meladeni permintaan audit suara 100%–biasanya cuma 54%–adalah langkah positif untuk memperkuat legitimasi populer terhadap pemerintahannya. Sistem pemilu Venezuela, seperti diakui mantan Presiden AS Jimmy Carter, adalah yang terbaik di dunia. Setiap pemilih Venezuela akan mencocokkan kartu panggilan dan daftar pemilih (DPT) begitu masuk TPS. Lalu setiap pemilih akan memilih dengan sistem touchscreen yang terhubung langsung dengan pusat tabulasi, potensi kecurangan sangat kecil. Bisa saja terjadi kesalahan, tetapi peluangnya sangat kecil. Artinya, dengan marjin 230 ribu suara, audit tidak akan mengubah hasil sekarang. Tetapi, audit itu akan makin menegaskan kredilibilitas pemilu dan lembaga demokrasi Venezuela. Legalitas demokrasi dan konstitusional ini juga penting untuk memastikan loyalitas militer, atau setidaknya menetralisir militer, dari pengaruh sayap kanan yang berusaha memainkan isu “kecurangan”.

Ada beberapa masalah mendesak yang harus diatasi oleh revolusi Bolivarian, yakni ketergantungan pada minyak, birokrasi korup, kriminalitas, kelangkaan pangan dan nilai-tukar. Dua masalah yang terakhir, yakni kelangkaan pangan dan nilai-tukar, baru saja merongrong ekonomi Venezuela pada Februari lalu. Dan, saya kira, itu berpengaruh pada penurunan suara kubu sosialis hari ini.

Memang, jalannya revolusi, seperti di jelaskan Lenin, tidak lah seperti trotoar di di Jalan Raya Nevski”( trotoar  yang bersih, lebar, rata dari jalan raya yang sangat lurus di Petersburg), tetapi revolusi menempuh jalan yang kadang berkelok, penuh kerikil, dan kadang memaksa kita harus pandai menghitung keadaan, kapan mengerem dan kapan tancap gas.

Maduro sendiri berjanji, ketika dia terpilih sebagai Presiden, akan melanjutkan sebagaian besar program Chavez, termasuk semua misi sosial yang sudah berjalan. Selain itu, Maduro punya prioritas untuk mengatasi masalah kejahatan, inefisiensi, dan korupsi.

Saya kira, salah satu keunggulan Chavez adalah kharismanya. Tentu saja, saya tidak melihat faktor kharisma ini dari segi magis. Bagi saya, kharisma Chavez lahir dari faktor historis yang material, yakni saat ia muncul memimpin kudeta yang gagal tahun 1992. Sejak saat itu, ucapan Chavez “Untuk Sekarang” sangat melegenda dan diingat oleh rakyat Venezuela.

Namun, seperti dijelaskan oleh marxis Rusia, George Plekhanov, bahwa pemimpin politik kharismatik akan meraih dukungan tergantung dari kemampuannya menjawab kebutuhan konkret rakyatnya saat itu. Dan kalau kita lihat, kemunculan Chavez sebagai pemimpin tidak terlepas dari kemampuannya membangun gagasan-gagasan politiknya—seperti Bolivarianisme—dari sejarah dan tradisi bangsa Venezuela.

Chavez sangat paham psikologis rakyatnya. Program-programnnya selalu merespon apa yang menjadi kebutuhan rakyatnya. Chavez rajin turun ke bawah untuk mendengar, berdiskusi, dan menyerap persoalan rakyatnya. Terkadang, Chavez menyanyi untuk menyentuh lubuk hati paling dalam rakyatnya.

Chavez, yang ketika dipenjara rajin membaca Gramsci, percaya kepada gagasan untuk menciptakan blok sosial hegemonik. Sehingga, dalam setiap berkampanye, Chavez selalu menunjukkan bahwa oposisi tidak punya proposal untuk bangsa. Ia selalu memblejeti kekosongan program kaum oposisi dan menunjukkan bahwa mereka hanya “kacung” kekuatan imperialisme.

Inilah tantangan bagi Maduro. Selama kampanye pemilihan, Maduro benar-benar bersandar pada popularitas Chavez. Bahkan, Ia mengklaim sebagai “anaknya Chavez”. Ia juga menjadikan kumisnya sebagai bahan dalam kampanye. Padahal, dengan latar-belakang sebagai aktivis buruh, Maduro punya kesempatan untuk menunjukkan dirinya sebagai bagian dari sektor mayoritas dari rakyat Venezuela, yakni kaum tertindas.

Maduro tidak bisa bersandar terus pada popularitas atau nama besar Chavez. Ia harus menemukan gaya kepemimpannya sendiri yang bertolak dari realitas dan kebutuhan konkret rakyat Venezuela saat ini. Meskipun, pada prakteknya, ia tetap harus berpegang teguh pada ide-ide Chavez dan Revolusi Bolivarian.

Untuk proyek luar negeri, semisal melanjutkan proyek integrasi regional dan pembangunan dunia multi-polar, Maduro punya pengalaman yang cukup baik. Ia pernah menjadi Menteri Luar Negeri selama 6 tahun dan beberapa kali menggantikan Chavez (karena sakit) di pertemuan-pertemuan internasional.

Satu hal yang tak bisa dibantah: kemenangan Maduro menunjukkan bahwa mayoritas rakyat Venezuela menginginkan keberlanjutan Revolusi Bolivarian.

Raymond Samuel, Kontributor Berdikari Online

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut