Kemenangan Hugo Chavez

Kemarin, 7 Oktober 2012, rakyat Venezuela masuk ke bilik suara untuk menentukan masa depan negerinya. Akhirnya suara rakyat menunjukkan: Chavez kembali terpilih sebagai Presidan. Dengan demikian, Chavez sudah empat kali dipercaya oleh rakyat Venezuela untuk memimpin perubahan di negeri itu.

Chavez bilang, kemenangan itu membuat Venezuela tidak akan pernah kembali ke alam neoliberalisme. Sebaliknya, Venezuela semakin mantap melakukan transisi menuju sosialisme abad-21. Sementara itu, negeri-negeri imperialis kembali harus mengelus dada lantaran gagal membalikkan Venezuela sebagai “negara jajahan”.

Imperialisme, terutama imperialis AS, memang sedang sibuk-sibuknya bergerilya di Amerika Latin. Mereka berjuang keras untuk mengembalikan Amerika Latin sebagai halaman belakangnya. Baru-baru ini mereka berhasil menggulingkan pemerintahan kerakyatan di Paraguay. Ya, Fernando Lugo, pastor kaum miskin itu, digulingkan dengan cara-cara licik dan kotor.

Sejak memerintah tahun 1999, Chavez telah mengubah ‘negeri penghasil minyak’ itu makin berdaulat dan bermartabat. Ia pertama-tama mengubah struktur politik negeri itu dengan membuat konstitusi baru. Perlahanan-lahan politik Punto Fijo (puntofijismo), sebuah demokrasi yang dikarakterisasikan oleh pembagian kekuasaan diantara dua partai: Accion Democratica (AD) dan COPEI, ditumpas oleh politik kerakyatan.

Sektor-sektor sosial, seperti kaum buruh, petani, miskin kota, perempuan, masyarakat adat, pemuda, dan lain-lain, yang selama puluhan tahun dikeluarkan dari politik formal, mulai muncul sebagai aktor utama (protagonis) pembangunan kembali Venezuela. Pada tahun 2006, Chavez membentuk “Dewan Komunal”. Pemerintahan komunal ini adalah pemerintahan Rakyat.

Menurut konstitusi, Dewan Komunal adalah sarana dari rakyat terorganisir untuk mengambil-alih dan menjalankan langsung kebijakan administrasi dan proyek pembangunan. Dewan Komunal merespon aspirasi dan kebutuhan langsung dari komunitas. Pada tahun 2006, sudah berdiri 4000 dewan komunal di seluruh Venezuela. Angka ini meningkat menjadi 19,500 pada tahun 2007 dan sekitar 30 000 pada tahun 2011. Banyak rakyat yang sudah mendapat keuntungan langsung dari model demokrasi partisipatif ini.

Venezuela juga berhasil memulihkan kontrol atas kekayaan nasionalnya. Sejak 2004, setelah pemerintah berhasil meraih kontrol atas minyak dan ekonomi nasional lainnya, pemerintah Venezuela berhasil menghilangkan kemiskinan ekstrem hingga 70%. Jutaan orang juga bisa mengakses layanan kebutuhan dasar secara gratis: pendidikan, kesehatan, air bersih, perumahan, dan lain-lain.

Venezuela mendapat predikat “negara dengan misi/program sosial terbanyak”. Chavez tidak termakan rayuan gombal kaum neoliberal bahwa program sosial itu cenderung inefisiensi dan pemborosan. Sebaliknya, ia tunduk pada amanat konstitusinya, bahwa tugas negara adalah memastikan terpenuhinya hak-hak dasar rakyat. Bahkan, pekerja sektor informal pun mendapat uang pensiun.

Venezuela juga mulai merombak sistem perburuhannya. Pada Hari Buruh Sedunia lalu, Pemerintahan Bolivarian mensahkan UU perburuhan yang revolusioner. UU baru itu telah menghapuskan sistem outsourcing, pengurangan jam kerja per-minggu, pembayaran ganda pada PHK yang tak sah, dan kesetaraan gender dalam hubungan industrial. Tak hanya itu, UU baru ini juga diharapkan menjadi alas bagi penguatan kontrol buruh dan manajemen sosialistik.

Upah pekerja di Venezuela juga terbilang tinggi. Tiap tahun terjadi kenaikan upah rata-rata di atas 20%. Akibatnya, upah pekerja Venezuela merupakan yang tertinggi di Amerika Latin: berkisar 700 US dollar perbulan (di atas Rp 6 juta).

Venezuela juga sekarang berhasil mengontrol harga sembako. Ini berkat prakarsa Chavez mendorong UU untuk mengatur harga lebih adil. Dengan kebijakan ini, pemerintah Venezuela punya kekuasaan untuk mengontrol, menolak atau mengijinkan harga keseluruhan barang atau layanan yang diproduksi, distribusikan, dan dipasarkan di dalam negaranya. Ini penting untuk memerangi penimbunan, spekulasi, sabotase, dan lain-lain.

Chavez juga membuat UU pertanahan untuk mengalihkan kepemilikan tanah dari tangan segelintir orang ke tangan kaum tani. UU ini juga melarang individu menguasai tanah lebih dari 5000 hektar dan berjanji mengambil-alih tanah-tanah negara yang diduduki secara illegal untuk diserahkan kepada para petani. Tak hanya itu, Pemerintahan Bolivarian juga meluncurkan “Mission zamora”—diambil dari nama Ezequiel Zamora, pejuang reforma agraria dan pembebasan Venezuela—sebagai upaya melaksanakan reforma agrarian dan redistribusi tanah.

Chavez telah mengawinkan demokrasi politik dan demokrasi ekonomi. Ini mirip dengan gagasan Bung Karno mengenai “Sosio-Demokrasi”. Hanya saja, gagasan Bung Karno itu belum sempat terwujud. Sedangkan praktek sosio-demokrasi ala Chavez itu sudah terbukti dan terpraktekkan hari ini.

Dalam politik internasional, peranan Venezuela dibawah pemerintahan Chavez juga sangat penting. Venezuela telah memainkan peranan penting dalam pembangunan blok anti-imperialisme dalam politik global. Venezuela juga menjadi motor pembentukan Aliansi Bolivarian Untuk Rakyat Amerika latin (ALBA) pada tahun 2004. ALBA merupakan proposal alternatif terhadap gagasan imperialis untuk memaksakan Free Trade Arean of America (FTAA). Lalu, pada Desember 2011, Venezuela telah menjadi tuan-rumah pertemuan Komunitas Negara Amerika Latin dan Karibia (CELAC). CELAC melibatkan 33 negara Amerika Latin dan Karibia (minus Amerika Serikat dan Kanada). Ini adalah integrasi regional terbesar dalam sejarah benua itu.

Ya, Chavez melanjutkan semangat Konferensi Asia-Afrika tahun 1955 di Bandung, Indonesia. Chavez sedang mengkonkretkan ide Bung Karno mengenai pembentukan kekuatan baru, New Emerging Forces (Nefo), yang berpijak pada semangat anti-kolonialisme, anti-imperialisme, dan anti-kapitalisme.

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut