Kemelut Harga Daging

Harga daging sapi kembali melambung tinggi. Saat ini harga daging sapi sudah menembus Rp 100.000,- per kilogram. Di sejumlah daerah, harga daging sapi malah sudah mencapai Rp 120.000,-. Belum lagi mendekati lebaran, harga daging sapi bisa menembus Rp 150.000,-.

Tak pelak lagi, kenaikan harga tersebut makin mencekik leher rakyat. Padahal, sebelum ini rakyat sudah dicekik dengan kenaikan harga BBM dan dampak-dampak yang ditimbulkannya. Beban penderitaan rakyat pun berlipat ganda. Semua biaya kebutuhan hidup, terutama kebutuhan pokok, terus merangkak naik. Sementara penghasilan rakyat kecil tetap di titik nadir.

Rakyat kecil pun menjerit-jerit. Di media sosial, banjir kritik menghantam Presiden SBY. Namun, seolah tak mau menanggung kesalahan, SBY menyemburkan kemarahan kepada Menteri-Menteri-nya. “Saudara lihat pasar tidak? Saudara dengarkan social media tidak? Mentan harus punya sense of crisis, Kabulog, Mendag, sense of urgency dan sense of responsibility,” ujar SBY.

Sayang, kemarahan SBY tidak menyentuh ke akar persoalan. Bila kita lihat komentar SBY, terlihat jelas kegeramannya hanya menyasar persoalan birokratisme yang menghambat impor daging sapi. Ia sama sekali tidak menyinggung kegagalan pemerintahannya mewujudkan swasembada daging sapi. Padahal, Presiden SBY pernah sesumbar menargetkan swasembada daging pada tahun 2014. Mana buktinya?

Sebetulnya, bila dibandingkan dengan negara lain, konsumsi daging sapi di Indonesia terbilang rendah. Konsumsi daging sapi per kapita di Indonesia hanya 2,2 kilogram per tahun. Sementara di Eropa mencapai 45 kilogram per kapita pertahun. Pada tahun 2012, kebutuhan daging nasional kita mencapai 484.060 ton. Dari kebutuhan itu, sebanyak 85% dipenuhi dari pasokan domestik dan 15% melalui impor. Pasokan daging lokal itu setara dengan 2,4 juta ekor. (Khudori)

Sementara itu, menurut data sensus sapi dan kerbau yang dilakukan BPS pada 2011, populasi sapi potong Indonesia mencapai 14,8 juta ekor. Kemudian, sensus Pertanian 2013 (SP-2013) menyebutkan bahwa populasi sapi potong kita tinggal 12- 12,5 juta ekor. Logika sederhananya: bila populasi sapi potong masih 12 juta ekor, tentunya target memenuhi pasokan domestik sebesar 2,4 juta ekor tidaklah begitu berat. Pemerintah tidak perlu kelabakan.

Ternyata data BPS di atas masih mentah. Data BPS itu dihimpun dari jutaan peternak di seluruh tanah air. Pemerintah lupa bahwa struktur peternakan kita, termasuk ternak sapi, didominasi oleh usaha rakyat dan usaha sambilan. Usaha rakyat dan usaha sambilan itu mencapai 60-80% dari usaha peternakan nasional. Usaha peternakan rakyat itu sifatnya kecil-kecilan, sangat konvensional, tidak didukung oleh modal, dan hanya mengandalkan tenaga keluarga. Sudah begitu, ternak-ternak itu tidak bisa dimobilisasi seketika untuk dipotong ketika terjadi kelangkaan. Bagi masyarakat kita, ternak itu seperti tabungan yang hanya akan dikeluarkan ketika ada kebutuhan mendadak.

Data tahun 1997 menyebutkan, sekitar 70% petani-peternak Indonesia hanya memiliki sapi kurang dari 5 ekor. Dengan peternakan skala kecil, yang terkesan usaha sampingan, memang agak sulit berharap Indonesia bisa mencapai swasembada pangan. Memang, untuk mengembangkan peternakan skala besar, para petani sangat membutuhkan dukungan modal, teknologi, dan lahan yang luas.

Di sinilah pemerintah patut disalahkan. Seharusnya, petani-petani itu disokong untuk mengembangkan peternakan skala besar. Mereka bisa diorganisasikan dalam koperasi-koperasi. Selain itu, pemerintah juga seharusnya membuka akses modal melalui perbankan bagi usaha peternakan komersil. Memang, pemerintah sedang berusaha menggenjot  PT Berdikari United Livestock (Buli), anak perusahaan PT Berdikari (Persero), untuk memproduksi dan penggemukan sapi. Tetapi usaha itu baru saja dimulai.

Indonesia sendiri tidak bisa bergantung pada impor. Pertama, praktek impor daging sapi menciptaka lubang bagi praktek ekonomi rente. Terkuaknya kasus suap impor daging sapi, yang menyeret sejumlah pengusaha dan petinggi PKS, membuktikan hal ini. Kedua, impor daging sapi akan memukul peternak dalam negeri. Menurut BPS, pada tahun 2003 ada 6,51 juta rumah tangga terlibat dalam usaha peternakan yang porsi terbesar di ternak sapi potong.

Kami juga melihat, ketergantungan Indonesia terhadap impor tidak terlepas dari tersanderanya Indonesia di dalam WTO. Misalnya, pada Februari 2013 lalu, lantaran Indonesia menerapkan kuota impor daging sapi, sejumlah negara eksportir daging sapi (AS, Australia, Selandia Baru, dan Kanada) berencana menggugat Indonesia melalui WTO. Padahal, kebijakan kuota impor dimaksudkan untuk membangun industri peternakan nasional Indonesia.

Kenaikan harga daging ini bukan kali ini saja. Bahkan, terhitung sejak November tahun lalu, harga daging tidak pernah stabil. Pemerintah pun terkesan lepas tangan. Ada kesan, pemerintah menyerahkan harga daging ini sepenuhnya pada mekanisme pasar. Alhasil, harga daging di Indonesia terus merangkak naik. Konon, harga daging sapi di indonesia merupakan yang tertinggi di dunia.

Pemerintah seharusnya mengintervensi pasar. Pertama, ada kecurigaan importir turut memainkan harga. Caranya, mereka menahan stok daging di gudang-gudang mereka, dan ketika harga sudah merangkak naik, barulah mereka melepasnya. Di sini, pemerintah menekan para importir agar melepas stok daging dan sapi yang dikuasai. Jika tidak, mereka bisa dikenai delik pidana penimbunan. Kedua, proses distribusi daging dan sapi dari sentra produsen, khususnya NTB dan NTT, ke daerah konsumen masih menggunakan kapal umum. Ongkos angkutnya sangat mahal. Hal ini membuat harga daging lokal cukup tinggi. Seharusnya pemerintah membuat moda transportasi khusus untuk ternak.

Dari berbagai persoalan di atas, jelas marah-marahnya Presiden SBY tidak akan menyelesaikan masalah. Justru itu hanya bentuk pelepasan tanggung-jawab dari masalah. Selain itu, impor daging sapi–seperti dikehendaki SBY–hanya akan membuat devisa kita tergerus, peternak lokal terpukul, ekonomi rente, dan ketergantungan terhadap pihak asing.

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut