Santun di rumah, kejam di jalan raya..

Ibarat benang kusut yang takkan teruai, atau penyakit akut tak tersembuhkan, begitulah gambaran kemacetan di Jakarta dan kota-kota satelit sekitarnya; Bogor-Depok-Tangerang-Bekasi. Ulasan ini merupakan yang kesekian dari banyak tulisan atau opini tentang karut-marutnya situasi jalan raya di Jakarta.

Macet sudah kita jumpai begitu membuka pintu rumah. Penyebabnya sebetulnya sudah terbaca: jumlah kendaraan tidak sesuai dengan kapasitas jalan. Ditambah lagi, kebijakan transportasi massal tidak berjalan, tata kota yang buruk, dan rasio perbandingan kendaraan pribadi dan kendaraan umum yang jomplang, yakni 98% berbading 2%.

Jalan keluar mengatasi problem kemacetan bukannya tidak ada. Beberapa diantaranya: maksimalisasi transportasi massal dalam kota, pembatasan jumlah kendaraan dengan pemberlakuan pajak kepemilikan, pajak bea import atas mobil mewah, kenaikan tarif parkir kendaraan dan pembatasan penggunaan BBM jenis premium untuk mobil-mobil dinas pemerintah.

Para calon Gubernur, yang akan bertatung pada 11 Juli mendatang, juga sudah mengumbar solusi masing-masing. Jokowi berpendapat:  “Sudah ada blue print-nya, busway, monorail, subway, rencana itu sudah bagus. Tinggal diteruskan saja, jangan setiap ganti gubernur ganti baru pula kebijakan masalah transportasi, itu mengulang dari awal namanya.” (Sumber: http://politik.kompasiana.com/2012/06/07/mencari-solusi-calon-gubernur-dki-untuk-transportasi/)

Kandidat lain Alex Noerding bahkan berani teriak dalam slogannya : “Tiga tahun bisa! Komitmen dalam tiga tahun bisa atasi banjir dan macet. Bila gagal, kami mundur.”

Pasangan Faisal Basri-Biem Benyamin akan menambah jumlah busway, men-stop pembangunan jalan tol baru, dan menggunakan kali Ciliwung sebagai alat transportasi.

Pasangan Hidayat Nur Wahid dan Didik akan membuat jalur busway dari arah depok dan menambah jumlah gerbong kereta api sebanyak 940 lagi agar bisa mengakomodir 1,2 juta penumpang.

Sementara Foke selaku incumbent berkata: “tidak usah terburu-buru dalam mengatasi masalah transportasi.” Baginya, solusinya adalah Mass Rapid Transit, sebuah sistem angkutan cepat berbentuk kereta yang membentang ke seluruh kota.

Sedangkan rencana lain, yaitu pembatasan kepemilikan kendaraan pribadi, pada akhirnya akan menubruk kepentingan dagang pihak asing. Kita tahu, Indonesia adalah pasar penjualan motor-mobil produk industri-industri otomotif milik Jepang; sebut saja Toyota, Daihatsu, Suzuki, dan Honda. Semuanya laris manis di Indonesia. Tidak perlu cash untuk punya mobil atau motor. Kredit pun jadilah kita ngacir atau bermacet ria di jalanan.

Akan tetapi, secara tinjauan budaya, situasi macet yang dialami warga kota membentuk watak kejam di banyak orang; saat mengendara di situasi macet kita jadi tidak sabaran, suka serobot, tak punya budaya antri, tak patuh rambu lalu lintas dan seterusnya.

Kita jadi orang “aneh” sendiri saat berhenti ngantri di depan traffic light. Saat lampu menyala merah, keadaan jalan kosong, yang lain tancap gas menerobos, sedang kita sendirian tolah-toleh menahan diri untuk tidak terprovokasi ikut menerobos traffic light. Menahan hati dongkol di klakson-klakson kendaraan di belakang kita karena ya…. itu tadi: orang dianggap aneh jika tertib berlalu-lintas.

Trotoar adalah hak nya pejalan kaki. Akan tetapi, saat ruas jalan macet total, maka tanpa ampun trotoarpun “dimakan” para biker. Keadaan menjadi terbalik. Tak ada itu slogan “Hormati Pejalan Kaki”. Yang terjadi, si pejalan kaki yang harus nyingkir kalau tidak mau ketabrak motor-motor yang melintas.

Setiap hari kita jadi aktor di tengah kemacetan berkilo meter, harus merayap tersendat karena ujung jalan di pertigaan sana tersumbat oleh angkot ngetem, atau  gerombolan orang menyeberang jalan dari dan menuju masuk mall. Ketika uneg-uneg dibawa ke bangku obrolan maka yang ada adalah celetukan:“ya kalo gak ngetem gak dapat setoran bego! Polisi gak akan ngusir angkot ngetem karena sudah dimel” (baca: dikasih uang atau sudah ngutip dari sopir yang sedang ngetem).

Atau, jawaban atas pertanyaaan kenapa banyak mall berdiri persis di perempatan jalan:“Dimana tempat namanya orang buka toko itu ya harus di pinggir jalan, biar dagangan atau estalasenya terlihat, mudah dijangkau dan strategis, mana ada orang buka toko di tengah hutan..???” 

Stres berkendara menghadapi kemacetan, tidak manusiawinya kondisi jalanan di Jakarta dan kota-kota penyangga sekitarnya, tensi tinggi sebab berkejaran dengan waktu agar tidak telat sampai kantor, hingga gesekan kecil saja dengan sesama pengguna jalan bisa memicu kelahi atau lontaran caci maki.

Maka kita adalah orang-orang yang melepas topeng ketika sampai di rumah, hangat dan bijak saat berada di tengah keluarga tercinta, ramah juga santun saat menerima klien di kantor, setelah jadi orang bertopeng kejam karena 60% waktu hidup kita habis untuk menempuh kemacetan.

***

Jakarta, Juni 2012

[email protected]

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut