Kelompok Fraksi PDIP Komisi IX DPR Kunjungi Keluarga Ruyati

Kelompok Fraksi (Poksi) PDI Perjuangan Komisi IX DPR RI melakukan kunjungan ke rumah keluarga Ruyati, di Kampung Ceger RT 03/01 Sukarma, Sukatani, Bekasi, siang tadi (21/6). Rombongan anggota DPR RI ini langsung diterima anak almarhumah Ruyati bernama Evi Kurniyati.

Air mata Evi Kurniyati pun tertumpah. Ia menceritakan bahwa Ibunya selama ini sebenarnya sering mendapat perlakuan keji dari sang majikan, seperti disiksa, dipukul, ditendang, dan diludahi.

Anggota DPR RI tersebut serius mendengarkan keluhan dan permohonan Evi. Dalam kunjungan itu juga hadir anggota Komisi IX DPR RI seperti dr. Karolin Margret, Imam Suroso, dr Surya Candra, Sri Rahayu dan Sugianto Sabran.

Pada kesempatan itu, Ribka Tjiptani mengaku kecewa dengan sikap Menakertrans  yang mengabaikan undangan Komisi IXDPR RI untuk membahas persoalan hukuman mati terhadap Ruyati.

“Kami dari komisi IX sangat terbuka menanti kedatangan pak Muhaimin Iskandar, karena jadwal kerja kami memungkinkan untuk menggelar rapat hingga pukul 23.00 malam ini,” kata politisi PDI Perjuangan ini.

Tetapi, Tjiptani menganggap Muhaimin lebih mementingkan untuk menghadiri acara Tegal Ekspo ketimbang memenuhi undangan DPR. “Bahkan tidak bisa hadir karena dari Tegal ke Jakarta Muhaimin memutuskan naik kereta api dan beralasan waktunya tidak mungkin malam ini,” tandas Ribka Tjiptaning.

Tidak Pendampingan Serius

Dari diskusi dengan anggota keluarga, anggota DPR mendapat informasi bahwa pemerintah memang tidak serius dalam melakukan pendampingan yang serius terhadap ibu Ruyati selama menjalani persidangan.

Pemerintah juga lalai dalam  memberi informasi proses hukum Ruyati. “Informasi sidang pertama bulan mei 2010 baru diketahui keluarga bulan januari 2011 dan itupun karena keluarga mencari informasi langsung  ke Deplu,” kata Tjiptaning kepada wartawan.

“Kalau gagal berarti sudah ada upaya, tapi ini kan terbukti tidak ada upaya. Jadi, apa kerja pemerintah melindungi warganya,” tambah Tjiptaning.

Dalam pertemuan dengan anggota DPR, pihak keluarga sangat berharap agar jenazah Ruyati bisa dipulangkan ke Indonesia.

“Kami juga minta dukungan Komisi IX agar perusahaan yang mengirim ibu kami bisa diproses secara hukum karena perusahaan itu memalsukan dokumen terkait usia ibu saya yang lebih muda 11 tahun dari usia yang sebenarnya,” ujar Evi Kurniyati  dihadapan para anggota DPR itu.

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut