Kekerasan Antar Kelompok Terus Terjadi

JAKARTA: Selain kekerasan terhadap umat beragama, kekerasan antar kelompok terus meningkat akhir-akhir ini. Kasus paling baru adalah kerusuhan di Tarakan, Kalimantan Timur dan kekerasan di  di gedung Pengadilan Negeri Jakarta Selatan di Jalan Ampera Raya, Jakarta.

Menurut kronologis yang tersebar di media massa, bentrok massal di Tarakan bermula dari pengeroyokan seorang pemuda,  Abdul Rahmansyah, warga Kelurahan Juata Permai ketika sedang melintas di Perum Korpri Jl Seranai III, oleh lima pemuda lainnya.

Sejak awal pihak kepolisian menyatakan bahwa kejadian ini adalah kriminal murni, tidak ada kaitannya dengan persoalan etnis. Namun, entah siapa yang memanfaatkannya, kerusuhan beberapa hari berubah menjadi seolah-olah pertikaian etnik.

Akibatnya, selain menyebabkan korban jiwa dan luka-luka, kerusuhan ini juga menimbulkan kerusakan harta benda, fasilitas umum, dan lain sebagainya.

Selain itu, kerusuhan ini juga menyebabkan puluhan ribu warga harus mengungsi ke tempat yang lebih aman. Posko PMI Kota Tarakan mencatat ada sekitar 15 ribu warga yang diungsikan. ”Hingga kini kami tetap bersiaga 24 jam untuk membantu warga,” kata Kepala PMI Kota Tarakan, Maharaja Laila Hady Candra kepada wartawan.

Sementara itu, kerusuhan di depan pengadilan negeri Jaksel  terkait dengan kasus kerusuhan di klub malam Blowfish pada 4 April 2010 lalu, yang menewaskan tiga orang.  Delapan orang luka-luka dan tiga orang dipastikan tewas.

Korban tidak hanya jatuh dari kedua kelompok bertikai, tetapi  Kapolres Jakarta Selatan, Kombes Gatot Edi, bersama tiga anak buahnya turut menjadi korban. Kombes Gatot Edi sempat terserempet peluru.

Jangan Sibuk Urusan Internal

Wakil ketua DPR Anis Matta, yang juga politisi Partai Keadilan Sejahtera, menilai, bentrokan yang terjadi di Tarakan dan di depan PN Jaksel dikarenakan kepolisian disibukkan dengan mengurusi soal internal.

“Ada masalah internal kepolisian saat ini, yakni pergantian Kapolri,” ujarnya kepada wartawan di Gedung DPR, Kamis (30/9).

Anis sangat menyayangkan hilangnya nyawa masyarakat tak berdosa karena  kelalaian kepolisian. “”Kenapa nyawa masyarakat itu mudah hilang, saya soroti kinerja polisi. Kelompok yang melakukan kekerasan ini sebenarnya sudah teridentifikasi Polisi tapi terkesan ada pembiaran,” ungkapnya.

Anis Matta juga menyayangkan respon Presiden SBY yang hanya bisa menyampaikan himbauan terkait berbagai kejadian di tanah air. “Presiden punya alat untuk memerintah, bahkan turun langsung menindak,” tegasnya.

Sementara itu, Aktivis Partai Rakyat Demokratik (PRD) Aj Susmana menilai, peningkatan kekerasan antar kelompok dan etnis menandai lunturnya nilai-nilai pancasila di tengah-tengah rakyat.

“Praktik pancasila dalam kehidupan berbangsa dan bernegara semakin tipis,” ujarnya.

Dikatakannya, semua ini tidak lepas dari praktik “korupsi” niai-nilai atau pemikiran mengenai Pancasila di jaman rejim Soeharto. “Soeharto banyak sekali mendistorsikan pemikiran soal pancasila, seperti soal demokrasi, keadilan sosial, dan kemanusiaan.”

Untuk itu, dalam rangka mengantisipasi berbagai persoalan bangsa ini, AJ Susmana menganjurkan agar kita “mengambil apinya, bukan abunya” dari Pancasila itu. (Rh, Ulfa)

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut