Kekejaman Pinochet di ‘Colonia Dignidad’

Awal september 1970, seantero Chile penuh kumandang pekik-sorak, setelah Salvador Allende, seorang marxis, memenangi Pemilihan Umum. Namun, tiga tahun kemudian, tepatnya 11 September 1973, pekik-sorak itu berubah menjadi jerit-pedih.

Rantai kejadian itu terasa sangat singkat. Begitu juga Colonia, film terbaru garapan sutradara Jerman, Florian Gallenberger, menggambarkan kejadian itu. Di pembukaan film, marak terlihat arak-arakan disertai pekik-sorak pendukung presiden Salvador Allende. Namun, dari menit ke-12 hingga selesai, kita menyaksikan jerit pedih pendukung Allende.

Tetapi film ini memang bukan mau menceritakan jalan kekuasaan Allende. Saya kira, misi utama film yang dirilis pada Oktober 2014 ini adalah menyingkap satu kejahatan terbesar rezim Augusto Pinochet, yakni kamp konsentrasi Colonia Dignidad.

Alur pengisahannya sebetulnya sederhana. Sepasang kekasih berkebangsaan Jerman, Daniel (Daniel Brühl) dan Lena (Emma Watson), terperangkap dalam peristiwa kudeta di Chile. Kok bisa? Daniel adalah seorang aktivis dan pembuat poster yang mendukung Allende. Sedangkan Lena bekerja sebagai pramugari di maskapai penerbangan Jerman Lufthansa.

Singkat cerita, karena aktivitasnya mendukung politik Allende, Daniel menjadi incaran Gestapo-nya Pinochet, DINA (Direktorat Intelijen Nasional). Mereka sempat berusaha kabur. Namun, karena keisengannya memotret adegan kekerasan militer Pinochet di jalanan, Daniel dan Lena pun tertangkap.

Daniel menjalani penyiksaan luar biasa. Lalu, setelah badan dan wajahnya nyaris rusak karena siksaan, dia dikirim ke sebuah tempat terpencil dan terisolir. Namanya: Colonia Dignidad. Ini menyerupai asosiasi utopis dari sebuah sekte keagamaan. Namun, pada prakteknya, lebih menyerupai kamp konsentrasi: ada kerja paksa, penyiksaan, penjagaan ketat, dan lain-lain.

Colonia didirikan dan dipimpin oleh seorang pendeta keturunan Jerman, Paul Schäfer alis Pius (Michael Nyqvist). Rekam jejak Pius ini sangat buram. Lahir di tahun 1921, di Troisdorf, Jerman, Pius pernah ikut organisasi pemuda NAZI. Dia juga pernah menjadi tenaga medis tentara Jerman di perang dunia ke-II.

Dia juga sempat menjadi pemimpin gereja di tempat asalnya. Namun, karena kasus pelecehan terhadap anak-anak, dia dipecat. Dia juga nyaris ditangkap karena kasus serupa. Lalu, berkat bantuan dubes Chile untuk Jerman, Pius berhasil lolos dan pindah ke Chile.

Dari corak beragamanya, Pius jelas sangat konservatif. Di Colonia, Pius memisahkan laki-laki dan perempuan. Tidak boleh menikah. Tidak boleh punya hasrat seksual—hasrat seksual dianggap sebagai reprensentasi setan. Sedangkan, secara politik, Pius jelas seorang pendukung fasisme. Jadi, dia adalah kombinasi yang sempurna dari  religius konservatif dan fasis.

Tak mengherankan, Colonia dikelola tak ubahnya kamp konsentrasi NAZI. Tata-pergaulan warga Colonia juga dibuat persis seperti masyarakat fasis Jerman. Selain itu, Pius sangat dekat dengan diktator Chile Augusto Pinochet. Colonia menjadi salah satu tempat penyiksaan lawan-lawan politik Pinochet.

Pius selalu mengaku “wakil Tuhan”. Dengan begitu, dia meraih loyalitas buta pengikutnya, sekaligus selalu curiga kepada pengikutnya yang punya “akal”. Seluruh pengikutnya dijadikan mata-mata, dan saling memata-matai satu sama lain. Ini menunjukkan betapa kepatuhan buta dalam beragama/berkeyakinan bisa diselewengkan oleh pemimpin agama.

Daniel dan Lena butuh 130 hari berjuang untuk bisa keluar dari Colonia. Itupun, ketika sudah di luar, dia harus berjuang menghindari kejaran aparatus Pinochet. Termasuk staff Kedutaan Jerman di Chile, yang telah menjadi kaki tangan Pius dan Pinochet.

Dan memang, selama 40 tahun, hanya 5 penghuni Colonia yang berhasil lolos. Pius sendiri tidak langsung dihukum begitu kekuasaan Pinochet berakhir di tahun 1990. Tahun 1997, Pius menghilang, setelah ada tuduhan pelecehan seksual terhadap ratusan anak-anak. Tahun 2005, dia ditemukan di Argentina, lalu dideportasi ke Chile. Tahun 2006, dia dijatuhi hukuman penjara 33 tahun, tetapi meninggal di penjara 4 tahun kemudian.

Saya kira, pembuat film Colonia berusaha mendekati kejadian sebenarnya (fakta) sedekat mungkin. Ini tampak dari cara mereka menampikan beberapa kejadian di film ini. Misalnya, ketika pendukung Allende dikumpulkan di stadion. Dalam sejarah, memang banyak pendukung Allende dikumpulkan, disiksa dan dibunuh di Estadio Nacional Julio Martínez Prádanos. Salah satunya adalah Victor Jara, musisi kerakyatan Chile. Juga tentang Colonia Dignidad, yang diceritakan dan ditampilkan hampir persis dengan kekaksian para penyintas dan penelitian sejarah.

Tetapi ada sedikit persoalan di film ini: bagaimana Daniel bisa terseret dalam gerakan pendukung Allende? Padahal, dia orang Jerman. Seandainya Daniel memang aktivis kiri di Jerman, itu mungkin sekali. Sebab, orang kiri di manapun punya semangat internasionalisme yang sangat kuat, mau berjuang di mana saja ada penindasan.

Tetapi, bagaimanapun, film ini berguna untuk merawat ingatan kita tentang kejamnya kediktatoran. Termasuk kita, bangsa Indonesia, yang pernah hidup 32 tahun di bawah kediktatoran Orde Baru. Sebab, seperti dikatakan novelis kelahiran Ceko, Milan Kundera: “perjuangan manusia melawan kekuasaan adalah perjuangan ingatan melawan lupa.”

Mahesa Danu

Colonia (2015) | Durasi: 110 menit | Negara: Jerman | Sutradara: Florian Gallenberger | Penulis: Torsten Wenzel-Florian Gallenberger | pemeran: Emma Watson, Daniel Brühl dan Michael Nyqvist

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut