Kekalahan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK)

Senin, 14 Juni 2010 | 04. 27 WIB | Editorial

Hari ini adalah hari terakhir pendaftaran calon ketua Komisi Pemberantasan Korupsi atau KPK untuk setahun terakhir masa jabatan. Mulai dari warga yang berstatus ibu rumah tangga, aktivis buruh, penggiat LSM, akademisi kampus, pengacara top, jaksa, polisi, sampai mantan ketua partai politik, telah masuk ke dalam daftar 200-an pelamarnya. Antusiasme semacam ini mengindikasikan masih tingginya harapan tulus dari rakyat bagi KPK. Semoga tidak berlebihan, karena: Tidak tertutup kemungkinan juga, dalam 200 nama itu terselip nama-nama “titipan” dari para koruptor.

Idealnya memang jangan sampai ada the next troya dalam tubuh KPK. Karenanya semenjak sekarang Pansel Ketua KPK harus kita awasi. Apalagi berkembang kabar tidak sedap, bahwa Pansel Ketua KPK sendiri tidak steril, mengingat keberadaan dua orang yang dicurigai sebagai agen corruption fight back, yaitu Erry Riyana Hardjapamekas ¾yang dicurigai kalangan gerakan sebagai “markus emeritus”, yang sepanjang tahun 2009-2010 selalu bergentayangan di KPK memastikan amannya Sri Mulyani-Boediono dari Skandal Century¾, dan Todung Mulya Lubis¾ yang dikenal sebagai pengacara obligor BLBI.

Siapapun dia, setiap ketua KPK di masa depan akan sama menghadapi setidaknya dua persoalan pokok sejak dulu hingga kini menimpa KPK. Pertama. KPK gagal menjalankan tugas utamanya membongkar praktik korupsi dan mafia dalam institusi kepolisian, kejaksaan, dan kehakiman. KPK tampak sekali “segan” terhadap ketiga korps ini, mungkin dikarenakan masih adanya unsur dari ketiganya yang berada dalam tubuh KPK, sehingga akhirnya (KPK) hanya berani menyasar korupsi anggota DPR, bupati, ataupun pengusaha, bukan korupsi polisi, hakim, dan jaksa. Setelah setahun belakangan berkembang Skandal Century, yang terjadi malah sebaliknya. KPK menjadi “bulan-bulanan” dari rekayasa mafia melibatkan ketiga korps tersebut- seperti dalam kasus Antasari, dan Bibit-Chandra I&II. Kedua. KPK gagal menunjukkan wibawanya dalam menyikapi Skandal Century, yang mana telah menyita perhatian dan juga emosi rakyat banyak selama berbulan-bulan. Ini ditunjukkan dari banyak hal, sampai terakhir pengakuan yang menyedihkan dari Chandra M Hamzah, si cicak penakut yang kini terlihat sebagai bunglon.

Sebagai warga Negara yang cinta Indonesia, yang rindu Indonesia Baru Tanpa Korupsi, kita tentu berharap ke depannya KPK memang benar dipimpin oleh pejuang anti korupsi yang sudah terbukti gigih dan memiliki dukungan publik yang luas. Sah saja jika kita sebut beberapa nama yang layak, seperti: Adhie M Massardi, tokoh aktivis pejuang yang belakangan populer karena mencipta puisi “Negeri Bedebah”; Usman Yasin, tokoh penggalang sejuta dukungan Facebookers untuk selamatkan Bibit Chandra; Dita Indah Sari, aktivis buruh dan pejuang hak demokratik ; Johnson Panjaitan, pejuang anti korupsi; Habiburohman, pengacara kerakyatan; dan masih banyak nama lainnya. Ini adalah harapan yang tulus hanya sulit terwujud, dan pada akhirnya kita tetap harus kembali pada realitas:

Corruption fight back boleh dikatakan telah menang saat ini di Indonesia, dan KPK telah kalah!

Anda dapat menanggapi editorial kami di email: [email protected]

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut