Kedekatan Militer Mesir Dan Pentagon

Militer.jpg

Tidak diragukan lagi bahwa Pentagon berkawan akrab dengan militer Mesir. Sekretaris Pertahanan AS, Chuck Hagel, sangat dekat dengan Kepala Angkatan Bersenjata Mesir, Jenderal Abdel Fattah Al-Sisi. Al-Sisi sendiri merupakan orang kepercayaan Pentagon. Ia adalah jebolan US Army War College di Carlisle (Akademi Militer di Pennsylvania).

Lima bulan yang lalu, tepatnya tanggal 11 Februari 2013, Jenderal Al Sisi bertemu dengan Jenderal James Mattis, Kepala Komando Pusat Militer AS, untuk mendiskusikan kerjasama militer AS-Mesir. Militer kedua negara bersepakat menggelar latihan militer bersama “Bright Star”.

Pada saat yang sama, Washington mengumumkan pemberian 20 pesawat tempur F-16 dan 200 tank M1A1 Abrams. Sebelumnya, AS rutin memberikan dana sebesar 1,5 milyar USD kepada militer Mesir. Itu sudah berlangsung sejak 1979. Sokongan dana itu menjadikan pemilik jet tempur F-16 Mesir terbesar keempat dunia  (240) dan pemilik tank terbesar ketujuh (4000). Pasukan yang menggunakan senjata ini dan senjata lainnya–termasuk senjata anti huru-hara–mendapat pelatihan dari Pentagon. Setiap dua tahun Mesir melibatkan 25.000 tentaranya dalam latihan bersama dengan AS.

Dengan cara ini, AS punya pengaruh kuat di militer Mesir. Terutama di kalangan perwira tinggi, yang kebetulan juga memiliki posisi dominan dalam ekonomi. Militer inilah yang menjaga kekuasaan Mubarak selama 30 tahun untuk melayani imperialisme AS. Termasuk memastikan “transisi damai dan tertib, sebagaimana dikehendaki Obama, ketika Mesir diguncang oleh pemberontakan rakyat menentang Mubarak.

Pengaru AS lainnya adalah ekonomi Mesir. Sejak Mubarak menjalankan resep neoliberal Washington, seperti privatisasi dan deregulasi, Mesir mengakumulasi utang luar negeri sebesar 35 milyar USD. Dan untuk membayar bunga pinjaman satu milyar USD per tahun, Mesir meminjam kepada IMF, AS, dan Monarki Teluk.

Utang ini mencekik leher 85 juta rakyat Mesir, yang separuh dari mereka terjerembab dalam kemiskinan. Karena itu, di saat pemberontakan rakyat untuk menuntut demokrasi politik dan ekonomi secara nyata, Militer Mesir selalu muncul sebagai pengekang dengan selalu berpura-pura sebagai penjamin kehendak rakyat. Padahal, mereka adalah penjaga dan sekaligus pelayan setia kepentingan AS dan barat. Dengan demikian, pemberontakan rakyat itu hanya berubah menjadi revolusi bila mana gerakan rakyat, baik sekuler maupun agamis, memutuskan ikatan neokolonialisme. Demi masa depan Mesir yang merdeka dan berkeadilan sosial.

Manlio Dinucci, ahli geopolitik Italia. Ia reguler menulis di harian Italia, il manifesto.

Sumber artikel: http://www.ilmanifesto.it/area-abbonati/ricerca/nocache/1/manip2n1/20130709/manip2pg/14/manip2pz/342898/manip2r1/Manlio%20Dinucci/

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut