Kebudayaan Sebagai Kekuatan

gotong-royong

Tri Sakti sebelum menjadi konsepsi politik Bung Karno tampak sudah menjadi pemahaman umum perjuangan kemerdekaan Indonesia bila hendak menuju Indonesia Adil dan Makmur.

Tri Sakti adalah syarat obyektif menuju Keadilan dan Kemakmuran bagi rakyat Indonesia. Tri Sakti adalah conditio sine qua non bila Republik yang didirikan ingin terus bergerak maju dan melakukan lompatan ke depan. Dengan begitu, Tri Sakti adalah program yang harus dimenangkan dan terus diperkuat sekaligus strategi yang harus dijalankan.

Dengan bercokolnya imperialisme-kolonialisme, tidak mungkin rakyat Indonesia bisa mengembangkan politik yang berdaulat. Dengan politik yang berdaulat, terbuka jalan untuk membangun ekonomi nasional yang tangguh dan keluar dari kerangka subordinat dan menjadi sumber penghisapan. Keduanya ini, daulat politik dan pembangunan ekonomi yang bermartabat dilandasi oleh pandangan politik bahwa kebudayaan menjadi sumber kekuatan dalam membangun pergerakan yaitu budaya gotong royong yang telah menjadi kepribadian rakyat di nusantara dalam menghadapi kehidupan.

Dengan bergotong-royong atau bersatu, kehidupan yang berat menjadi ringan. Bentuk-bentuk persatuan seperti ini masih banyak kita temui dalam berbagai kebutuhan kehidupan rakyat kita. Puncak dari gotong royong ini tentu saja adalah keberhasilan mengusir penjajah. Kehidupan ekonomi yang menjanjikan keberhasilan untuk kesejahteraan rakyat pun dilandasi oleh nilai dan semangat gotong-royong:  “Perekonomian disusun sebagai usaha bersama berdasar atas asas kekeluargaan.”

Pelaksanaan Tri Sakti yang berhasil dengan begitu harus dilandasi nilai dan semangat gotong-royong yang merupakan sakti ketiga. Dengan begitu ditegaskan bahwa kebudayaan sebagai kekuatan adalah kebudayaan rakyat yang selalu bergotong-royong menyelesaikan berbagai masalah termasuk masalah nasional.

Bung Karno adalah orang yang yakin terhadap jalannya Tri Sakti dengan semangat gotong royong yang merupakan akar kebudayaan rakyat Indonesia sebagaimana juga dikatakan Bung Karno pada 1 Juni 1945, di depan sidang BPUPKI yang sedang mencari dasar bagi pendirian Negara Republik Indonesia yang kemudian terkenal sebagai pidato hari Lahirnya Pancasila: “…maka dapatlah saya satu perkataan Indonesia yang tulen yaitu perkataan “gotong-royong”. Negara Indonesia yang kita dirikan haruslah Negara gotong royong! Alangkah hebatnya!”

Dengan nilai dan semangat gotong royong yang telah mengakar dalam budaya rakyat itulah, kita dapat menyusun kebudayaan nasional yang tangguh dan bermartabat sekaligus terus-menerus memperkuat kedaulatan nasional dan membangun perekonomian nasional yang sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat!

AJ Susmana, Wakil Ketua Umum Komite Pimpinan Pusat Partai Rakyat Demokratik (KPP PRD) dan penggiat Jaringan Kerja Kebudayaan Rakyat (Jaker)

Catatan: Artikel ini sebelumnya sudah diposting di linkedin.com

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut