Kebohongan Media Hendak Bungkam Suara Rakyat Venezuela

Bagaikan film era Perang Dingin, media massa korporasi di AS seperti Miami Herald dalam edisi 18 September memuat berita utama tentang para ilmuwan dari Albuquerque yang “berupaya menjual informasi nuklir rahasia ke Venezuela.”

Pembaca tentunya terkejut membaca berita bahwa “seorang ilmuwan tua yang selama puluhan tahun memerangi komunitas ilmuwan terkait persoalan fusi laser, pada hari Jumat di New Mexico didakwa dengan tuduhan berupaya menjual informasi senjata nuklir rahasia ke Venezuela.”

Malangnya, bila Anda tidak membaca keseluruhan artikel, Anda akan melewatkan fakta penting bahwa tidak satu warga Venezuela pun, apalagi yang mewakili pemerintah Venezuela, terlibat dalam skandal yang aneh ini.

“Warga Venezuela yang menjadi kontak” sesungguhnya seorang agen polisi rahasia AS, FBI, yang menyamar.

Ini adalah salah satu kasus misinformasi ekstrim yang dilakukan media besar sehubungan dengan Venezuela. Tapi ini hanya sebagian saja dari ofensif media internasional dan pemerintah AS dalam melawan pemerintahan sayap-kiri Presiden Hugo Chavez.

Kampanye ini semakin memuncak menjelang pemilu Majelis Nasional Venezuela pada 26 September yang diprediksikan oleh berbagai jajak-pendapat akan kembali menghasilkan mayoritas pro-Chavez. Kampanye ini tak diragukan lagi akan berlanjut setelah pemungutan suara.

Contoh lain dari kampanye ini adalah pengumuman pemerintah AS pada 15 September lalu tentang daftar negeri-negeri yang dinilainya tidak mentaati “perang melawan narkoba” yang dideklarasikannya sendiri.

Negara yang menjadi tujuan nomor satu dunia untuk narkoba dan produsen marijuana terbesar – AS – tidak dimasukan ke dalam daftar. Namun Kolombia, produsen narkoba terbesar di belahan bumi itu, masuk.

Pemerintah Kolombia yang telah menerima lebih dari 6,5 milyar dollar AS dalam bentuk bantuan AS sebagai bagian dari Rencana Kolombia, walau demikian mendapat pujian khusus karena “upayanya” memerangi perdagangan narkoba.

Fakta bahwa Kolombia menyerahkan tujuh pangkalan militernya kepada AS menurut sebuah perjanjian yang dinyatakan tidak konstitusional oleh pengadilan Kolombia mungkin dapat menjelaskan mengapa AS sangat puas dengan negara tersebut.

Venezuela yang mendepak Agen Penegakkan Narkoba AS keluar negeri tersebut pada 2005 telah meningkatkan jumlah penangkapan terkait narkoba dari 6836 antara 2002 dan 2005 menjadi 22.833 antara 2006-2009.

Venezuela juga dimasukan dalam daftar di atas, tapi tak seperti Kolombia, laporan AS itu mengatakan bahwa Venezuela telah “terbukti gagal dalam 12 bulan terakhir untuk memenuhi kewajibannya di bawah kesepakatan kontra-narkotika internasional”.

Semestinya, Venezuela mengikuti jejak pemerintahan Afghanistan, yang upaya anti-narkobanya diangkat dalam laporan AS tersebut.

Di bawah pendudukan militer AS, Afghanistan menjadi produsen opium terbesar di dunia. Pemilu Afghan diangkat sebagai sebuah contoh dari demokrasi yang berkembang subur dari pucuk bedil (meskipun tercatat adanya lebih dari 3000 pengaduan resmi tentang penipuan). Tapi kita dapat memprediksikan dengan pasti bahwa media akan menemukan “bukti-bukti” untuk membenarkan prediksi penipuan dan intimidasi di Venezuela yang “tak demokratis”.

Abaikanlah kenyataan bahwa sejak Chavez berkuasa pada 1998 telah digelar tidak kurang dari 16 kontestasi elektoral dan Chavez terus mempertahankan tingkat penerimaan masyarakat di kisaran 55 dan 60% (tergantung jajak pendapat mana yang Anda pilih).

Kebanyakan kepala negara mendambakan angka seperti itu dalam 6 bulan pemerintahan mereka, apalagi setelah 11 tahun memerintah.

Dan abaikanlah kenyataan bahwa pada tiap pemilu, meskipun terdengar suara-suara lantang yang meneriakan kecurangan, pengamat internasional dari berbagai organisasi terus menerus meratifikasi sistem elektoral Venezuela sebagai salah satu yang paling adil dan transparan di dunia.

Semua ini tidak ada yang dijadikan pertimbangan, apa pun hasil pemilu pada 26 September (dan bahkan jajak pendapat kaum oposisi menunjukan bahwa kekuatan pro-Chavez akan mendapatkan lebih dari 50% suara).

Alasannya ada dua.

Pertama, bila prediksi jajak pendapat benar dan kekuatan pro-Chavez memenangkan mayoritas maka rakyat Venezuela sekali lagi memberikan mandat kepada Chavez untuk memperdalam revolusi Bolivarian.

Proses revolusioner ini berjalan melawan prinsip-prinsip pemikiran ortodoks pasar-bebas neoliberal yang telah menghadiahi kita krisis finansial global. Sebaliknya, proses ini menempatkan rakyat di atas laba, yang capaian-capaiannya antara lain meliputi:

– Kemiskinan ekstrim menurun dari 29,8% pada 2003 menjadi 7,2% pada 2009;
– Pengangguran merosot dari 16,8% hingga 7,5% pada periode yang sama
– Buta huruf dilenyapkan; dan
– Tingkat kepesertaan universitas melonjak sebesar 193% antara 1999 dan 2009

Di sini tidak ada yang dapat dijadikan berita utama yang seksi tentang mata-mata yang membeli informasi rahasia. Tapi itu mengundang pertanyaan tentang mengapa pemerintah AS dan kawan-kawannya dalam pers korporasi sangat membenci Chavez.

Kedua, media yang sama dan pemerintah AS berharap meyakinkan dunia akan “kenyataan” bahwa, seperti halnya perang yang dilancarkan AS dilakukan demi memperjuangkan demokrasi, Afghanistan memimpin jalan dalam peperangan anti-narkoba sedunia, dan kapitalisme dapat berjalan dengan baik, rakyat Venezuela membenci Chavez atau membenci program-program anti-kemiskinan yang dijalankan pemerintahnya.

Ini tak diragukan lagi membantu meringankan dampak kekalahan yang diderita kelompok-kelompok oposisi yang didanai AS. Pemberitaan bohong seperti itu akan dapat menghibur mereka, dengan memberikan pesan bahwa meskipun sebagian besar rakyat Venezuela tak menyetujui mereka, sebagian besar dunia mendukungnya.

Ini akan membantu kaum sayap kanan di Venezuela untuk dapat meneruskan mimpinya tentang Venezuela tanpa Chavez. Karena bagi mereka yang meyakini bahwa dunia lain adalah mungkin – dunia yang bebas dari pemerintahan neoliberal dan kebohongan media korporasi – Venezuela memberikan teladan dalam perjuangan membangun gerakan global untuk perubahan.

Penulis adalah jurnalis sekaligus aktivis yang turut mengelola laman Venezuelanalysis.com dan Green Left Weekly

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut