Sukses Reforma Agraria Di Venezuela

Sejak sepuluh tahun terakhir Venezuela gencar menjalankan reforma agraria. Salah satu aspeknya adalah redistribusi tanah agar adil.

Menurut Institut Pertanahan Nasional Venezuela, Luis Motta Dominguez, sedikitnya 224.000 keluarga di Venezuela mendapat keuntungan dari program redistribusi tanah yang dijalankan oleh pemerintah.

“Jika dirata-rata 5 orang satu keluarga, maka ada 1,3 juta orang rakyat yang mendapat manfaat dari program distribusi tanah,” kata Motta saat diwawancarai di program Toda Venezuela (semua Venezuela!)

Venezuela memulai reforma agarianya pada tahun 2001, saat Presiden Chavez menandatangani dekrit mengenai UU pertanahan. UU baru itu punya misi besar hendak menghapus sistim tuan tanah—atau sering disebut latifundios.

UU ini juga memberi negara kewenangan untuk mengambil-alih tanah yang tidak dimanfaatkan atau tanah yang diperoleh secara illegal. Tanah-tanah itu kemudian didistribusikan ke pertanian kolektif.

Menurut Motta, INTI—semacam BPN Venezuela—sudah mengatur sebanyak 7,7 juta hektar (19 juta are). Sebanyak 1,1 juta (2,7 juta) areal sudah didistribusikan petani di daerah pedesaan.

“Pengambil-alihan tanah sudah terjadi sejak jaman latifundio. Kita harus bertindak agar tanah yang dikuasai segelintir tangan bisa diserahkan kepada produsen kecil,” kata Motta.

Pada tahun 1998, sebelum Chavez berkuasa, tanah hanya dikuasai oleh segelintir tangan: 5% tuan tanah menguasai 75% tanah produktif.

Pasal 307 konstitusi Bolivarian antara lain menyebutkan: “Dominasi perkebunan besar adalah bertentangan dengan kepentingan rakyat.” Ketentuan pasal itu juga menegaskan bahwa petani dan produsen pertanian lainnya berhak atas tanah dan dijamin oleh ketentuan hukum. Negara juga diwajibkan menyerahkan tanah-tanah subur dan produktif untuk dikelola rakyat demi ketahanan pangan.

Selain untuk menyediakan tanah dan pekerjaan kepada buruh di pedesaan, program redistribusi tanah di Venezuela juga didesain untuk mengurangi ketergantungan negara terhadap makanan impor.

Ini dijalankan, ungkap Motta, dengan mengalihkan tanah-tanah yang tidak dimanfaatkan agar lebih produktif. “Semua tanah yang tidak produksi diselamatkan. Semua diserahkan kepada kolektif atau proyek agro-ekologi untuk mengamankan ketahanan pangan dan pembangunan. Ada pemantauan terus-menerus mengenai produksi yang terus meningkat,” ungkapnya.

Baru-baru ini pemerintah Venezuela juga meluncurkan program yang disebut “Misi AgroVenezuela”, yang bertujuan untuk meningkatkan produksi pertanian dan menyediakan bantuan kepada petani agar menggunakan tanahnya demi peningkatan produksi.

Bantuan itu berupa pinjaman berbunga rendah. Juga bantuan teknis, peralatan dan mesn pertanian seperti traktor dan alat pemanen.

RAYMOND SAMUEL

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut