Kebangkitan Asia Dan Afrika di Piala Dunia

Ada yang menarik dari ajang piala dunia 2010 di Afrika Selatan, yaitu kebangkitan tim-tim dunia ketiga, terutama sekali kebangkitan tim Asia. Di pertandingan pertama, dua tim dari Asia, Korsel dan Jepang, berhasil menundukkan lawan-lawannya, sementara Republik Demokratik Rakyat Korea (DPRK) sanggup meladeni sang juara dunia lima kali, Brazil.

Sebelum piala dunia bergulir, Asia sedang dipuji-puji karena prestasi ekonominya, terutama China dan India. Kedua negara tersebut sanggup menjadi episentrum baru bagi perekonomian global, meski tidak sepenuhnya mengadopsi neoliberalisme.

Di lapangan politik, beberapa negara di Asia juga berhasil memperlihatkan pergeseran politik, mulai mendukung tendensi multipolarisme. Ini terjadi saat Yukio Hatoyama dan partainya, Partai Demokratik Jepang, memenangi pemilu di negeri yang selalu bermitra dengan AS itu, kemudian menawarkan politik yang sangat kritis terhadap AS.

Kembali ke piala dunia 2010 di Afsel, penampilan tim Asia patut diacungi jempol, karena sanggup mengimbangi tim-tim eropa yang terkadang unggul secara skill dan fisik. Korsel meraih kemenangan pertama dengan menaklukkan juara Eropa 2004, Yunani 2-0, sementara Jepang menjinakkan “Singa Liar” dari Afrika, Kamerun 1-0.

Sementara DPRK, meskipun berpuluh-puluh tahun diembargo dari dunia luar, namun ternyata sukses membangun kesebelasan nasional yang gigih dan tangguh. Ini terbukti saat meladeni brazil, mereka sanggup memaksa Brazil bermain imbang di babak pertama. “Kami siap menghadapi segala taktik mereka. Kami harus melewatinya dan bertempur dengan berani,” kata Kim Jong Hun, pelatih Tim Nasional DPRK.

Meski DPRK harus kalah, namun permainan, kejujuran, kegigihan, dan kesetia-kawanan mereka telah menunjukkan capaian kebudayaan mereka. Ada bisa melihat, bagaimana pemain DPRK yang terjatuh langsung bangkit berdiri, tidak pura-pura berguling meminta belas-kasihan wasit. Untuk pertama kalinya, bagi saya secara pribadi, menyaksikan pertandingan bola tanpa satupun kartu kuning dari wasit.

Terakhir, Kim Jong Hun sangat yakin, bahwa timnas DPRK telah mengambil pelajaran dan tolak ukur penting dari pertandingan melawan beras, dan kelak itu sangat berguna dalam membangkitkan kepercayaan diri mereka dalam pertandingan selanjutnya. “kami semakin yakin untuk mencetak gol,” katanya.

Bagaimanapun, suka atau tidak suka, piala dunia sudah menjadi ajang untuk memupuk kebanggan nasional bagi tim-tim yang bertarung. Meskipun teoritisi kanan berkali-kali memaklumkan bahwa negara nasional sudah mati, namun kenyataannya berjuta-juta manusia tetap saja berduyung-duyung menyaksikan pertandingan ini bersama “bendera” nasionalnya.

Karena itu, tidak lengkap rasanya berbicara pentas piala dunia jika memisahkan dengan jasa Afrika, tidak hanya Afrika Selatan. Tanah Afrika sudah lama, sudah beratus-ratus tahun, menjadi “kotak ajaib” bagi para kolonialis untuk menciptakan kemakmuran di negerinya. Kini, melalui sepak bola, bangsa-bangsa Afrika mengajak bangsa-bangsa kolonialis dan bangsa-bangsa lainnya untuk bertarung secara adil dan sederat. Dan, tentu saja, predikat sebagai “tuan rumah” merupakan kehormatan besar bagi tanah Afrika, sebuah pengakuan dunia atas bangsa-bangsa Afrika.

“Olahraga penting untuk integrasi, kesehatan, kedisiplinan, dan kejujuran”, begitu kata Presiden Bolivia, Evo Morales, saat bersiap menghadiri pembukaan piala dunia. Semoga dengan piala dunia ini, dimana Asia dan Afrika kembali mempertunjukkan “kekuatannya”, semangat Bandung 1955 (konferensi Asia-Afrika) kembali berkobar dan menyala. Mungkin, kali ini ada tambahan dari saudara-saudara kita dari Amerika Latin dan Karibia.

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut