Kaum Muda dan Karakter Mandiri

Dari Diskusi dan Refleksi Sumpah Pemuda di Kabupaten Tabanan

Setidaknya ada dua hal yang perlu diperhatikan kaum muda terkait momentum sumpah pemuda tahun ini, yaitu mengorganisir diri dan membangun politik yang berkebudayaan untuk mengasah rasa kemanusiaan. Sementara rasa kemanusiaan tidak mungkin tumbuh ketika orang tidak mempunyai perhatian terhadap sastra dan kesenian.

Hal tersebut disampaikan ketua DPRD kabupaten Tabanan, Ketut “Boping” Suryadi, dalam diskusi dan refleksi 82 tahun Sumpah Pemuda, yang diselenggarakan oleh Banteng Muda Indonesia (BMI) Cabang Tabanan Minggu, 31 Oktober 2010, di Tabanan Bali. Diskusi bertema Membangun Organisasi Pemuda Berbudaya dan Berkarakter Mandiri ini dihadiri oleh pemuda dari berbagai organisasi dan jajaran Muspida kabupaten Tabanan.

Menurut politisi sekaligus budayawan muda ini, istilah pemuda sering ditempatkan dalam slogan atau tema-tema yang “wah”, seperti sebagai tulang punggung perjuangan, pemegang masa depan, dan sebagainya, namun baru sampai sebatas itu. Realitasnya, demikian Boping, tidak sedikit pemuda yang terjebak pada hal-hal yang negatif. Karenanya wajar realitas ini menimbulkan rasa pesimis.

Namun, Boping menambahkan, rasa pesimis ini tidak boleh dibiarkan berlarut-larut. Selain membangun kebudayaan progresif, kaum muda juga sangat perlu berorganisasi atau menghimpun diri. Berorganisasi di sini bukan dalam pengertian diorganisir seperti kerumunan yang pasif politik, melainkan aktif dalam mengorganisir diri, bersatu dengan pemuda lain, dan memperjuangkan hak-haknya.

Hak-hak ekopolsosbud

Dalam kaitan hak-hak ekonomi politik dan sosial budaya tersebut, Boping mengkritisi politik anggaran yang sangat timpang. Dicontohkan, anggaran untuk pegawai negeri mengalami kenaikan menjadi 63 miliar rupiah di kabupaten Tabanan, dari nilai sebelumnya 37 miliar. Situasi ini menimbulkan defisit anggaran yang mencapai 30 miliar rupiah sehingga menutup kesempatan untuk menambah anggaran untuk kesejahteraan maupun kebudayaan. Di sini tampak ketidakpekaan dari pemegang kebijakan di pusat maupun di daerah, ujarnya.

Terkait tingginya kenaikan anggaran untuk pegawai negeri, ketua Serikat Rakyat Miskin Indonesia (SRMI) Bali Iqbal Tantowi memiliki penjelasan tersendiri. Iqbal menjelaskannya sebagai salah satu taktik politik kepala daerah untuk menjaga suara dalam pemilihan umum atau pilkada. Ada kecenderungan para kepala daerah merekrut pegawai honorer dalam jumlah besar terutama menjelang pemilihan umum kepala daerah. Namun Iqbal mengakui dominannya struktur adat sebagai tiang politik yang pokok di Bali.

Ditambahkan, persoalan banyaknya pengangguran kaum muda sangat terkait pula dengan keberadaan struktur ekonomi yang tidak produktif, yang menguasai akses pasar dari produksi kerajinan atau produksi skala kecil lainnya di Bali. Sedangkan dukungan pemerintah terhadap industri, baik dari segi kebijakan maupun anggaran, sangat tidak memadai. Pariwisata yang menjadi sektor andalan PAD provinsi Bali pun sangat terpusat di sekitar ibokota Denpasar. Sementara daerah seperti kabupaten Tabanan, yang hanya memiliki Tanah Lot sebagai sumber wisata masih bergantung pada sektor pertanian. Situasi ekonomi ini mengakibatkan bertambahnya pengangguran dari angkatan kerja baru yang nota bene adalah kaum muda.

Kritik dan kesiapan kaum muda

Sementara akademisi dari Universitas Warmadewa, Nyoman Wiryatmaja, mengatakan bahwa kaum muda perlu mengedepankan sikap kritis, ilmiah, dan tidak perlu malu-malu menyatakan cita-cita politiknya sebagai bagian dari masyarakat. Namun Nyoman mempertanyakan kesiapan kaum muda untuk memimpin perubahan. Sehingga sikap kritis kaum muda justru harus diarahkan untuk diri sendiri alias perlu sadar diri akan keterbatasannya. Jangan sampai banyak mengkritik namun kaum muda sendiri tidak sanggup berbuat lebih baik dari generasi sebelumnya, tambah Nyoman.

Berbeda dari penilaian Nyoman, salah satu tokoh pemuda Tabanan Made Sujana mengatakan bahwa keadaan-keadaan yang menimbulkan rasa pesimis tersebut justru diciptakan oleh “kaum tua”. Kaum terdahulu juga yang memberikan contoh-contoh buruk dalam perilaku politik sehingga kemudian ditiru oleh kaum muda. Made Sujana menyatakan dukungannya bagi kader-kader muda positif dan produktif. Made bahkan mengatakan dibutuhkan “potong satu generasi” untuk melakukan perubahan terhadap kondisi yang ada, baik di kabupaten Tabanan sendiri maupun secara nasional.

Senada dengan Made Sujana, Iqbal mengatakan bahwa kaum muda tidak akan mencapai kemajuan bila terus menerus diarahkan untuk mengkritik diri sendiri, dan tidak berani menerobos ke dalam kancah sosial politik. “Sebagai ilustrasi, bila tidak ada langkah terobosan dari kaum muda tempo dulu, maka tidak mungkin ada kemerdekaan, dan tidak mungkin ada Republik Indonesia. Jadi kesiapan dan kepercayaan diri itu saling terkait.” pungkas Iqbal. (do)

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut