Kaum Muda dan Gerakan Perubahan

Pilihan res publica (republik) atas bentuk kenegaraan Indonesia pertama kali diperjuangkan oleh kaum muda (Yudi Latif : 2008). Ide sentral dari republik adalah penemuan kerangka soliditas dan solidaritas politik yang dapat melayani kepentingan umum sekaligus menjamin terjadinya integrasi sosial dari masyarakat yang mengalami ragam perbedaan.

Indonesia yang memiliki sekitar 5.000 pulau yang merentang sepanjang khatulistiwa, memiliki 250 lebih bahasa dan dialek, memiliki 1.000 lebih etnis dan subetnis, dapat dipersatukan tentu tidak didasarkan kesamaan, tetapi pengakuan hak yang sama atas dasar kesatuan tumpah darah: tanah air Indonesia.

Landasan pacu dari ide republik adalah Sumpah Pemuda. Dalam teks Indonesia dengan semboyan Bhineka Tunggal Ika, walau berbeda tetapi tetap satu adalah sesuatu mustahil dicapai pada masa itu, mengingat Beragam suku, bahasa, dan agama, namun setelah terbit kesadaran baru tanggal 28 Oktober 1928 kaum muda dari berbagai daerah berkumpul bersama untuk mengakui komunitas impian bersama: bangsa Indonesia.

Kesadaran baru, suku-suku bangsa di Nusantara ini akan meraih masa depan gemilang jika bisa mereka menemukan rumus sederhana untuk semua. Persatuan dan kebersamaan adalah rumusan itu. Keputusan untuk menggunakan bahasa bersama, yaitu bahasa Indonesia, adalah keputusan jenius. Hingga hari ini, banyak urusan bangsa menjadi sederhana karena bahasa yang diterima seluruh rakyat.

Dalam perkembangannya proyek republik yang digagas kaum muda tersebut terus menerus dipertajam dan bahkan ada sebagian yang juga berupaya menumpulkannya sebagaimana fakta sejarah dalam pergolakan reformasi 1998 ide bentuk kenegaraan kembali disajikan di atas meja-meja diskusi kaum muda, alhasil dalam menjaga keutuhan Negara Indonesia pilihan republik dipertahankan.

Friksi bahkan konflik antara berbagai elemen kebangsaan memang tidak absen. Konflik sering terjadi. Meski demikian, seburuk-buruknya konflik di Indonesia, pada saat harus duduk semeja berdialog dan merundingkan kepentingannya, mereka berkomunikasi tanpa penerjemah, duduk menyelesaikan konflik dengan menggunakan bahasa bersama, bahasa Indonesia. Sebuah bukti kesadaran sebangsa yang luar biasa, sebuah bukti kejeniusan kaum muda di tahun 1928.

Tantangan Kaum Muda

Setelah delapan puluh delapan (88) tahun Sumpah Pemuda dicetuskan, mestinya tidak membuat pemuda hari ini lengah dan berpanggu tangan dengan gemerlap sejarah kaum muda pada masa silam. Zaman telah berubah otomatis pergerakan kaum muda harus berubah bergerak bukan halnya mengikut zaman tetapi menjaga keutuhan dan mewarnai zaman.

Hukum alam bahwa kaum muda adalah penggerak perubahan, dalam sejarah Indonesia, pemuda ajek menjadi ujung tombak dan bahkan pioneer khususnya di era reformasi. Akan tetapi banyak hal harus dievaluasi dalam kepioneeran pemuda, karena akhir-akhir ini kepemimpinan kaum muda dipermalukan dengan perilaku koruptif dan bahkan menjadi penggila narkotik dari dalam kalangan pimpinan mudanya sendiri.

Padahal energi muda harusnya dapat berjibaku dalam permasalahan pelik yang mencekik bangsa Indonesia ketimbang uzur akibat terjerembab dalam pergulatan politik praktis. Lilitan kemiskinan, korupsi, lemahnya penegakan hukum, kualitas pendidikan yang rendah, pengelolaan SDA yang buruk, kerusakan lingkungan, kesenjangan sosial, kemacetan, penganguran sudah bagaikan predator yang akan mengigit dan melahap Indonesia.

Banyak hal lainnya permasalahan bangsa yang sangat panjang bila diuraikan dan ini belum termasuk permasalahan daerah seperti ketertinggalan akibat minim perhatian karena ketidakadilan dari pusaran pembangunan yang hanya berpusat pada lingkup kekuasaan.

Pionir  Politik Indonesia

Karena itu, meminjam teori Margaret Boden, lewat momentum sumpah pemuda 1928 kaum muda Indonesia harus mengalami kembali proses creative destruction (pembongkaran kreatif). creative destruction itu didorong semangat nasionalisme negatif-defensif dalam rangka menghadapi musuh dari luar. Creative destruction hari ini harus didorong semangat nasionalisme positif-progresif dalam rangka mengaktualisasikan potensi dan talenta-talenta terbaik bangsa.

khitah politik kaum muda adalah pionir politik Indonesia baik dari segi kepeloporan ide maupun gerakannya, dengan talenta kreatif dan inovatif kaum muda menjadikannya hina kalau hanya dijadikan pialang dalam politik praktis, pemilu.

Manakala elemen-elemen kemapanan menyeru pada ”politik kekuasaan” atau “pelanggengan kekuasaan”, kaum muda menerobosnya dengan menawarkan ide-ide progresif dan semangat republikanisme. Kaum muda dituntut merobohkan kelaziman politik yang merasionalisasi kepentingan individu untuk dibayar oleh irasionalitas kehidupan kolektif. Politik harus kembali ditempatkan sebagai usaha resolusi atas problem kolektif dengan pemenuhan kebajikan kolektif.

Dengan ide dan semangat republikanisme, Indonesia dapat melepaskan diri dari belitan permasalahannya dan mampu sesegerakan mungkin mewujudkan cita-citanya sebagai bangsa dan Negara: melindungi segenap bangsa dan tumpah darah Indonesia, memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan turut menjaga ketertiban dunia. Dan tentu melalui tangan-tangan kaum muda inilah Indonesia dapat mewujudkannya.

Prasetyo Nugraha, Sekretaris Presidium Pembentukan Provinsi Sumsel Barat

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut