Gagasan-Gagasan Kartini Dan Saat Ini

Ada satu sikap atau posisi Kartini yang tidak pernah berubah: keberpihakan kepada Rakyat. Sekalipun coba dikurung di dalam keraton, dibelenggu oleh sebuah sistem yang memelihara hirarki, Kartini terus saja mendeklarasikan diri sebagai “sebarisan dan senasib dengan rakyat”.

Itulah sikap yang sangat jarang ditemukan sekarang. Yang terjadi justru kebalikannya: pemimpin sangat senang tinggal di istana, sengaja berjarak dengan rakyat, dan tidak mau peduli dengan penderitaan rakyat. Akibatnya, kebijakan sang pemimpin seringkali berlawanan dengan kepentingan rakyat.

Bagi Kartini, apa yang sebut “zaman gelap-gulita” adalah keadaan dimana rakyat pribumi tidak bisa menikmati kemajuan. Penyebabnya, rakyat dibelenggu oleh feodalisme dan kolonialisme. Dengan demikian, sesuatu yang terang bagi Kartini adalah keadaan yang membawa kemajuan.

Nah, salah satu sarana menuju kemajuan itu, kata Kartini, adalah pendidikan. Dalam sepucuk suratnya kepada sahabatnya, Stelle Zeenhandelaar, Kartini mengatakan begini: “pemberian pengajaran yang baik kepada rakyat sama halnya dengan pemerintah memberikan obor ke dalam tangannya agar ia menemukan sendiri jalan yang benar menuju tempat nasi itu berada.”

Pendidikan nasional kita sedang terpuruk. Gara-gara mengikuti anjuran neoliberal, negara lepas tangan dalam urusan pendidikan. Tidak begitu saja, pendidikan pun diserahkan kepada mekanisme pasar. Ini membawa dampak buruk: pendidikan menjadi semacam komoditi yang diperjual-belikan. Ia menciptakan segmentasi, diskriminasi, pengecualian, dan dehumanisasi.

Indeks pembangunan Manusia (IPM) Indonesia terus merosot: dari 108 pada tahun 2010 menjadi 124 pada tahun 2011. Salah satu pemicunya adalah pembangunan yang tidak meletakkan manusia sebagai sasaran pokok pembangunan. Ini gara-gara model pembangunan yang “tidak memanusiakan manusia”.

Di sinilah relevansi pemikiran Kartini: manusia sebagai subjek perubahan. Kartini adalah pembaca karya Multatuli. Ia meresapi arti kata “Tugas Manusia adalah Menjadi Manusia”. Dan, tentu saja, manusia tidak akan menjadi manusia jika masih diperbodoh oleh berbagai kekuasaan: feudal dan kolonial.

Kartini sadar betul, manusia tidak akan bisa mengembangkan dirinya jika tetap bodoh, miskin, dan ditundukkan oleh orang atau pihak tertentu. Karena itu, Kartini—yang sangat khatam dengan Revolusi Perancis—tentu memandang kesetaraan tak sebatas gender. Tetapi, ia juga menginginkan kesetaraan dari apa yang disebutnya “rakyat bocah”. Maka itu, Kartini membuang gelarnya dan meminta dipanggil “Kartini” saja.

Tidak seperti keadaan sekarang: ketidakadilan, diskriminasi, dan ketidakmerataan dianggap hal lazim dalam kehidupan. Para pemimpin kita, yang hidup sangat berjarak dengan rakyat, tak ubahnya sebuah kasta elit di tengah rakyat jelata. Alih-alih memberi obor pembebasan, tipe pemimpin semacam ini justru menindasi dan mengeksploitasi rakyat banyak.

Ada banyak pemikiran Kartini yang cemerlang. Pramoedya Ananta Toer, sastrawan Indonesia paling terkemuka, meletakkan Kartini sebagai pemula dan sekaligus konseptor Indonesia modern. Ide dan gagasan-gagasannya sangat relevan untuk dihayati saat ini. Apalagi, kita hadir di tengah sistim yang menomor-satukan uang dan kekuasaan tetapi menyingkirkan kemanusiaan.

Karena itu, peringatan Kartini jangan sekedar dijadikan seremonial. Jangan pula memaknai Kartini sesempit “pakaian kebaya”. Tetapi, sebagai bangsa yang besar, marilah kita menggali dan menghayati gagasan-gagasan Kartini. Mari kita ambil apinya Kartini, bukan abunya!

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut