Kartini dan Batik

Alangkah baiknya, dalam suasana Hari Batik Nasional ini, kita mengenang salah satu tokoh penting dalam memajukan dan memperkenalkan batik ke dunia luar.

Dia adalah Kartini, yang dalam sejarah kita dikenal sebagai tokoh pertama yang menyemai benih nasionalisme sekaligus pelopor emansipasi perempuan.

Nicolaus Adriani, ahli bahasa yang pada 1884 dikirim oleh Perkumpulan Kitab Injil Belanda untuk mempelajari bahasa Toraja, bertemu dengan Kartini dan dua saudaranya, Roekmini dan Kardinah, di Batavia (sekarang Jakarta).

Kisah pertemuan itu ditulis dalam sebuah buku harian berjudul “Depok, September 1900”. Diceritakan, pada saat pertemuan itu, Kartini dan dua saudaranya mengenakan kebaya putih dan sarung batik buatan sendiri.

“Ketiga-tiganya memakai sarung batik indah, buatan sendiri, berwarna coklat memikat,” tulis Adriani, seperti dikutip Pramoedya Ananta Toer dalam “Panggil Aku Kartini”.

Nah, soal Kartini membatik atau membuat batik sendiri ini menarik. Sebab, sepanjang pengetahuan sejarah kita, Kartini terlahir dari keluarga bangsawan, dan biasanya berjarak jauh dengan pekerjaan fisik.

Dan jawabannya: Kartini, juga saudara-saudaranya, meninggalkan kebangsawanannya. Seperti ditulis Pram, tidak hanya membatik, mereka juga mengurus kebun, menjadi koki, merawat keluarga yang sakit, dan lain-lain.

Nah, diceritakan Pram, Kartini mulai mengenal seni batik sejak usia 12 tahun, ketika dia sudah meninggalkan bangku sekolah dan masuk ke ruang pingitan. Dia belajar pada seorang pekerja tetap di kadipaten. Namanya Mbok Dullah.

Suatu waktu, Kartini pernah menghadiahkan sarung batik karya-tangannya sendiri kepada Nyonya Abendanon, istri Menteri Kebudayaan, Agama, dan Kerajinan Hindia-Belanda pada tahun 1900-1905.

Pada 1898, di Den Haag, Belanda, diadakan Pameran Nasional Karya Wanita. Ratu Wilhelmina, yang datang mengunjungi pamerna, tertarik pada sebuah stand bertuliskan “Java”. Di stand itu dipamerkan berbagai karya wanita-wanita Hindia-Belanda, termasuk dari Jawa.

Rupanya, Ratu Belanda itu tertarik pada batik. Saking tertariknya, dia membolak-balik dan membacai naskah yang menulis tentang kisah batik dan teknik pembuatannya.

Naskah itu berjudul “Handschrift Japara”, yang ditulis dengan bahasa Belanda yang baik oleh Kartini. Naskah itu telah memperkenalkan karya tangan atau kerajinan rakyat Nusantara, termasuk batik, kepada dunia luar.

Jadi boleh dikatakan, Kartini adalah duta pertama batik Indonesia, karena dialah yang pertama memperkenalkan karya batik kepada dunia luar.

Berkat naskah Handschrift Japara, perhatian orang Belanda terhadap karya seni Nusantara, termasuk batik, semakin besar. Sampai-sampai pemerintah Hindia-Belanda pun mulai punya perhatian terhadap batik.

Kartini tentu bangga tulisannya telah mengangkat derajat karya seni rakyat Hindia-Belanda. Seperti ditulis dalam surat kepada teman Belandanya, Estelle Zeehamdelaar, berikut:

“Sebuah karangan tentang batik, yang tahun lalu kutulis buat pameran karya wanita, dan sejak itu tak terdengar kabar beritanya, akan diterbitkan didalam karya-standar tentang batik, yang segera akan terbit.” (Jepara, 6 November 1899, Panggil Aku Kartini Saja, 2003:183).

Sampai sekarang pun, kita masih mengenal jenis batik Kartini, yaitu batik yang menggunakan motif sesuai motif buatan Kartini sendiri. Motif buatan Kartini dipenuhi dengan rangkaian bunga kecil-kecil (buketan) dan kupu-kupu dalam gaya Jawa kuno.

Jadi, Kartini bukan hanya ahli batik, tetapi juga seorang penulis yang memperkenalkan batik kepada dunia. Dan batik adalah salah satu sumbangsih karya seni bangsa Indonesia pada dunia.

Selamat Hari Batik Nasional!

Rini Hartono, pengurus Dewan Pimpinan Pusat Aksi Perempuan Indonesia (API) Kartini

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut