Karena Kaus Pencinta Kopi Indonesia, 2 Aktivis Maluku Utara Ditangkap

Perburuan terhadap segala hal yang berbau komunis, terutama kaus bergambar palu-arit, terus berlanjut. Di Maluku Utara, dua aktivis ditangkap karena dianggap dituduh menyebarkan komunisme di media sosial (medsos).

Kedua aktivis itu adalah Adlun Fiqri dan Supriyadi Sawai. Keduanya aktivis Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN). Adlun ditangkap di rumah AMAN, sedangkan Supriyadi ditangkap di warung kopi.

“Sekarang keduanya ditahan di Makodim 1501 Ternate. Tanpa pendampingan dari LBH setempat,” demikian informasi yang menyebar di media sosial.

Foto yang diunggah Adlun di Facebook
Foto yang diunggah Adlun di Facebook

Sebelumnya, Adlun memposting foto mengenakan kaos bermarna merah dengan gambar palu dan arit tercebur di segelas kopi. Kaus itu bertuliskan “Pencinta Kopi Indonesia”.

Tanggal 9 Mei lalu, seorang pedagng kaos di Blok M ditangkap polisi hanya karena menjual kaus bergambar grup metal asal Jerman, Kreator, yang kebetulan menyerupai palu-arit.

Di hari yang sama, seorang pemuda yang tengah menonton konser musik di lapangan Saburai Bandar Lampung, Lampung, ditangkap oleh aparat Korem hanya karena mengenakan kaus bergambar palu-arit dengan tulisan “CCCP”.

Juga, di hari yang sama, beredar kabar di media sosial perihal penangkapan seekor ikan Louhan hanya karena corak sisiknya menyerupai simbol palu-arit.

Beberapa hari terakhir, propaganda bahaya komunisme memang sedang dikencangkan. Segala hal yang berbau komunis, terutama gambar palu dan arit, dikejar-kejar dan ditangkapi.

Mahesa Danu

Share your vote!


Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Fascinated
  • Happy
  • Sad
  • Angry
  • Bored
  • Afraid