Kandidat Kiri Menang Tipis Di Pemilu Putaran Pertama Argentina

Kandidat sayap kiri Daniel Scioli berhasil unggul tipis dalam Pemilihan Umum (Pemilu) Argentina yang digelar Minggu (25/10/2015). Scioli hanya unggul 2 persen dari pesaing beratnya dari sayap kanan, Mauricio Macri.

Total suara yang direbut Scioli hanya 36,9 persen. Sedangkan Macri berhasil merebut suara 34,3 persen. Tempat ketiga ditempati oleh kandidat dari kubu kanan tengah, Sergio Massa, dengan perolehan 21 persen suara.

Mengacu pada konstitusi Argentina, untuk menang dalam Pilpres, kandidat harus mengumpulkan lebih dari 40 persen dan unggul 10 persen dari kandidat lain. Jika tidak terjadi, maka akan digelar pemilu putaran kedua.

Scioli dan Macri akan bertarung di pemilu putaran kedua yang dijadwalkan berlangsung tanggal 22 November mendatang. Pemenang dalam putaran kedua tersebut akan memegang jabatan Presiden Argentina yang dilantik pada 10 Desember 2015.

Scioli adalah kandidat yang diusung oleh Front untuk Kemenangan (FpV), partai yang didirikan oleh Presiden Argentina saat ini: Cristina Fernández de Kirchner. Fernández adalah istri dari mantan Presiden Argentina periode 2003-2007, Nestor Kirchner.

Scioli berjanji akan melanjutkan kebijakan progressif di era Fernandez dan Kirchner—sering disebut era “Kirchnerismo”. Argentina di bawah era Kirchnerismo ditandai dengan kebijakan ekonomi dan politik yang progressif, seperti kebijakan sosial, ekonomi berdikari, industrialisasi, dan menyokong penuh integrasi Amerika Latin.

“Di sini ada dua visi berbeda untuk Argentina saat ini dan masa depan yang dipertaruhkan. Prioritas kami adalah rakyat jelata, kaum buruh, dan klas menengah,” kata Scioli saat berkampanye di Luna Park Buenos Aires.

Sedangkan Maurico Macri berasal dari koalisi sayap kanan, Mari Berubah (Cambiemos). Dia adalah seorang pengusaha terkemuka dan pernah memimpin klub sepak bola Boca Junior. Mantan Walikota Buenos Aires ini dikenal konservatif dan sangat neoliberal.

Sejumlah media menulis, Jika Macri berkuasa, maka Argentina akan kembali ke pangkuan neoliberalisme. Dia sangat pro-pasar, pro bisnis, pro-privatisasi dan berjanji mengembalikan hubungan Argentina dengan lembaga Dana Moneter Internasional (IMF).

Sedangkan kandidat ketiga Sergio Massa berhasal dari Front Pembaharuan (Frente Renovador). Dia adalah bekas Peronis dan sekaligus pernah bekerja di bawah pemerintahan Kirchner. Namun, di tahun 2013, Massa meninggalkan Kirchnerismo dan membangun haluan politiknya sendiri.

Messa sendiri mengklaim dirinya berteman dengan kelompok bisnis. Dia menentang kebijakan pajak untuk ekspor pertanian. Tetapi mendukung program bantuan tunai kepada kaum miskin.

Di tahun 2013, Massa gagal meraih kesepakatan dengan Scioli untuk membangun aliansi elektoral dalam pemilu Legislatif. Belakangan, Massa sangat berlawanan dengan Scioli. Sejumlah media menulis, jika dipaksa harus memilih antara Scioli dan Macri, maka Massa akan memilih Macri.

Masa Depan Kirchnerismo

Keunggulan tipis Scioli di pemilu Minggu kemarin membuat Kirchnerismo berada di ujung tanduk. Sebab, di putaran kedua, Sergio Massa bisa saja mengalihkan suara pendukungnya ke kubu Macri.

Era Kirchnerismo bermula di tahun 2003, saat Nestor Kirchner terpilih sebagai Presiden Argentina. Saat itu Argentina nyaris runtuh akibat kehancuran ekonomi dan politik. Negeri Tango ini menjadi korban paling brutal dari resep neoliberal yang dipaksakan oleh IMF dan Bank Dunia.

Saat itu kemiskinan mencapai 53 persen dari total penduduk Argentina. Sedangkan pengangguran mencapai 26 persen. Argentina juga sempat terjebak dalam krisis utang—rasio utang Argentina terhadap PDB saat itu adalah 166 persen. Industri dalam negeri ambruk. Banyak pabrik yang tutup atau berhenti berproduksi karena krisis.

Tidak mengherankan, banyak yang menyebut era neoliberalisme di Argentina, yang berlangsung dari tahun 1980-an hingga tahun 1990-an, sebagai “dekade yang hilang”. Sementara era Kirchnerismo, yang terbentang dari masa pemerintahan Kirchner (2003-2007) dan Fernandez (2007-2015), sebagai “dekade kemenangan”.

Ketika Kirchner berkuasa, dia banyak melakukan perombakan. Dia menolak dikte IMF dan Bank Dunia. Kirchner berhasil merestrukturisasi 93 persen utang negaranya. Hal itu memungkinkan Argentina mulai pelan-pelan menata kembali ekonominya dari puing-puing kehancuran.

Di bawah Kichner, peran negara juga dirombak: dari sekedar melayani kelompok bisnis (era neoliberalisme) menjadi alat untuk mendatangkan kemakmuran dan melindungi sektor mayoritas rakyat Argentina.

Tidak mengherankan, hanya dalam sepuluh tahun, Argentina pelan-pelan mulai membaik. Kemiskinan turun dari 52 persen (2003) menjadi 6,5 persen (2012). Pengangguran turun dari 26 persen (2003) menjadi 6,9 persen (2013). Dalam sepuluh tahun, 200 ribu pabrik baru kembali dibuka. Pemerintah juga konsisten menciptakan 500 ribu pekerjaan per tahun. Belanja sosial untuk pendidikan dan kesehatan meningkat pesat.

Di bawah Fernandez, Argentina tetap garang. Di tahun 2008, dia menasionalisasi maskapai penerbangan Aeroas Alinergentinas. Di tahun 2012, dia kembali menasionalisasi perusahaan minyak terbesar di negeri itu, YPF Repsol. Di tahun itu juga Argentina menolak membayar utang yang disebut “Vulture Funds”.

Disamping itu, Kirchner dan Fernandez berkontribusi besar dalam mendorong integrasi Amerika Latin. Di tahun 2005, Kirchner bersama Chavez menolak agenda perdagangan bebas kawasan Amerika Latin (FTAA) yang didesakkan Washington. Ini berlanjut di bawah pemerintahan Fernandez.

Tidak hanya itu, di bawah Kirchnerismo, ratusan penjahat HAM dijebloskan ke penjara. Termasuk menyeret mandat Diktator Argentina, Jorge Videla. Videla dituduh terlibat kejahatan HAM selama pemerintahannya dan dalam operasi “condor”. Mantan diktator yang sudah uzur itu meninggal di dalam penjara.

Tetapi Kirchnerismo bukan tanpa kelemahan. Seperti juga Peronisme, Kirchnerismo mengandalkan populisme dan daya tarik pemimpinnya. Gerakan ini juga gampang terjebak dalam paternalisme negara. Kirchnerismo kurang mendorong partisipasi rakyat sebagai agen utama perubahan.

Raymond Samuel

Share your vote!


Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Fascinated
  • Happy
  • Sad
  • Angry
  • Bored
  • Afraid