Kalah Di Pemilu, 3 Pimpinan Partai Di Inggris Mengundurkan Diri

Ed Milliband

Pemilihan umum di Inggris, yang berlangsung Kamis (7/5) lalu, menjungkirbalikkan prediksi banyak orang. Partai Konservatif, yang dipimpin oleh Perdana Menteri Inggris saat ini, David Cameron, meraih kursi mayoritas di parlemen.

Partai konservatif meraih 331 kursi dari 650 kursi di parlemen. Sementara partai pesaingnya, yaitu Partai Buruh, justru perolehan suaranya anjlok. Partai buruh yang dipimpin oleh Ed Miliband hanya meraih 232 kursi—kehilangan 26 kursi. Padahal, jauh hari sebelum pemilu, banyak lembaga survei memperkirakan Partai Konservatif dan Partai Buruh akan bersaing ketat.

Kekalahan telak juga dialami Liberal Demokrat. Partai berhaluan sosial-liberal ini benar-benar ambruk: dari 57 kursi di pemilu 2010 menjadi tinggal 8 kursi di pemilu Kamis lalu. Situasi ini benar-benar menampar wajah para pemimpin partai.

Hasil cukup mengecewakan juga dirasakan oleh Partai Independen (UKIP). Meskipun meraih suara 12,6 persen dalam pemilu kamis lalu, tetapi partai berhaluan kanan ini hanya meraih 1 kursi di parlemen.

Yang menarik, tak lama setelah hasil pemilu diumumkan, tiga pemimpin partai menyatakan pengunduran dirinya dari kursi Ketua Umum Partai. Pengunduran diri pertama dilakukan oleh pimpinan partai UKIP, Nigel Farare. Ia mengaku gagal membawa partai yang dipimpinnya sejak tahun 2010 itu meraih kursi cukup banyak di parlemen. Namun, ia tidak menampik kemungkinan memimpin kembali partainya di masa mendatang.

Hanya beberapa menit kemudian, giliran ketua partai Liberal-Demokrat, Nick Clegg, yang menyatakan pengunduran dirinya dari kursi Ketua partai. Ia menilai, hasil pemilu kemarin sangat ‘tak terkira’ dan ‘menghancurkan’. Nick Clegg, yang masih menjabat Wakil Perdana Menteri Inggris, merelakan kursi kepemimpinan partainya dipegang oleh orang baru.

Untuk diketahui, Liberal-Demokrat merupakan hasil fusi dua partai, yakni Partai Liberal yang sangat kanan dan Partai Sosial Demokratik yang berhaluan kiri. Banyak yang berpendapat, kehancuran suara Liberal-Demokrat dipemilu kali ini tidak terlepas dari kekecewaan pendukung kirinya karena partai ini memilih bersekutu dengan partai konservatif di bawah pemerintahan David Cameron.

Lalu, tak sampai sejam kemudian, giliran pimpinan Partai Buruh, Ed Miliband, menyatakan pengunduran dirinya. Ia menyatakan bahwa pengunduran dirinya merupakan bentuk pertanggung-jawaban penuh dan mutlak atas kekalahan partainya. Ed Milliband adalah anak dari tokoh marxis terkemuka Inggris keturunan Belgia, Ralph Milliband.

“Dan sekarang saatnya orang lain untuk mengambil alih kepemimpinan partai ini. Dengan ini saya mengumumkan pengunduran diri,” kata Miliband, yang akan tetap menjadi anggota parlemen Partai Buruh.

Kejutan luar biasa justru datang dari Partai Nasionalis Skotlandia (SNP). Di luar dugaan, partai berhaluan nasionalis itu menyapu bersih perolehan kursi di Skotlandia. Banyak yang menduga, pertumbuhan massif SNP karena memanfaatkan sentimen nasionalisme yang sedang berkembang di Skotlandia. Tetapi yang lain berpendapat, perolehan suara SNP tidak lepas dari kampanyenya yang menunjukkan diri sebagai ‘alternatif terhadap kebijakan penghematan’.

Sementara partai Republiken di Irlandia Utara, Sinn Fein, meraih empat kursi dari sebelumnya lima kursi. Namun demikian, partai berhaluan nasionalis-kiri ini bersikukuh untuk menolak mengisi kursi mereka tersebut.

Partai Hijau juga meraih penambahan suara. Di seluruh Inggris, ada 1,15 juta orang yang memilih partai hijau. Sementara pada pemilu 2010 lalu, partai berhaluan kiri-hijau ini hanya meraih 265,243 suara.

Pemilu Inggris juga membuat Mhairi Black, seorang politisi muda berusia 20 tahun dari SNP, mencetak sejarah baru dalam politik Inggris. Dia menjadi anggota parlemen termuda di Inggris sejak abad ke-17. Tidak hanya itu, Mhairi juga berhasil menyingkirkan pesaingnya seorang politisi kawakan dari Partai Buruh, Douglas Alexander. Mhairi meraih 23,548 suara, sedangkan Alexander hanya 17,864 suara.

Dengan kemenangan konservatif di Pemilu ini, David Cameron dipastikan akan memimpin kembali Inggris sebagai Perdana Menteri. Dalam kampanyenya, Cameron berjanji akan menyajikan pemerintahan yang kuat dan stabil. “Pilihan selain itu hanya akan berakhir dengan kehancuran,” kata Cameron, seperti dikutip Reuters.

Namun demikian, kemengan telak partai Konservatif ini juga menyingkap ketidakadilan dalam sistim pemilu di Inggris. Ini bisa dilihat dari perolehan suara. Dalam pemilu ini, Konservatif hanya meraih 36,9 persen suara. Tetapi mereka meraih lebih dari separuh kursi di parlemen. Jika suara partai lain ditambahkan dengan sepertiga pemilih Inggris yang golput, maka dukungan untuk pemerintahan Konservatif sebetulnya tidak mencapai separuh dari rakyat Inggris.

Mahesa Danu

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut