Kalah Dalam Pemilu, Sayap Kanan Venezuela Gunakan Jalan Kekerasan

Rumah salah satu anggota Partai Persatuan Sosialis Venezuela (PSUV), partai yang didirikan oleh Hugo Chavez, dibakar oleh sayap kanan fasis, Senin (15/4) malam.

Pemilu Presiden Venezuela, yang berlangsung pada hari Minggu (14/4), berhasil dimenangkan oleh kandidat dari kubu sosialis, Nicolas Maduro, dengan selisih sangat tipis.

Dari 14,961,701 rakyat Venezuela yang memberikan suara, sebanyak 7,559,349 memberikan suara untuk Nicolas Maduro (50,66%) dan 7,296,876 memberikan suara ke kandidat oposisi Henrique Capriles Radonski (49.07%).

Namun, begitu hasil pemilu keluar, pihak oposisi bersikeras menolak hasil Pemilu. Merespon penolakan oposisi, Presiden KPU Venezuela, Tibisay Lucena, menyatakan bahwa sistem elektoral sudah berfungsi sangat baik. Dia mendesak kandidat oposisi, Henrique Capriles, yang tetap ngotot menolak hasil pemilu, menggunakan jalur hukum untuk menyalurkan ketidakpuasannya.

Bahkan, pada hari Senin (15/4) lalu, KPU Venezuela telah melakukan audit terhadap 54% suara sesuai aturan konstitusi Venezuela. Proses audit itu diikuti oleh perwakilan kedua kandidat. Namun, pihak oposisi malah bersikeras meminta audit 100%.

Jika mengacu ke aturan, pihak oposisi diberi kesempatan selama 20 hari kerja untuk menggugat hasil pemilu ke Mahkamah Agung atau langsung ke KPU Venezuela (CNE). Tetapi, alih-alih menempuh prosedur resmi, oposisi justru berkoar-koar di media swasta—yang memang dikontrol oleh mereka—untuk menolak hasil pemilu.

Oposisi gunakan jalan kekerasan

Pada hari senin (15/4), kandidat oposisi Henrique Capriles berbicara di media menyerukan pemogokan umum untuk mendelegitimasi hasil pemilihan umum. Ini termasuk seruan memukul panci dan mendatangi kantor KPU Venezuela di tiap-tiap daerah..

Pada kenyataannya, sejak Senin (15/4) malam hingga kemarin, oposisi Venezuela melancarkan aksi kekerasan di seantero negeri. Mereka menyerang pendukung Chavez, membakar kantor partai sosialis (PSUV), membakar pusat kesehatan rakyat, toko-toko sembako rakyat, dan memaksa mengambil alih kantor KPU lokal.

Akibatnya, 7 orang rakyat Venezuela tewas akibat diserang kelompok oposisi fasis pelaku kudeta (golpista). Dua tewas di ibukota Caracas, tiga orang di negara bagian Zulia, satu di Cumana, dan satu lagi di San Cristobal.

Oposisi juga membakar 17 pusat layanan kesehatan/Centro de Diagnostico Integral (CDI)—bagian dari misi kesehatan gratis Barrio Adentro. Oposisi juga membakar 3 toko sembako murah (Mercal).

Tak hanya itu, oposisi juga menyerang rumah Tibisay Lucena, Presiden CNE (KPU Venezuela); dan menyerbu dua kantor TV publik, yakni Telesur dan VTV. Oposisi juga menyerbu dan membakar kantor-kantor dan rumah-rumah anggota PSUV di sejumlah daerah.

Ada juga laporan yang belum dikonfirmasi bahwa terjadi empat penyerangan terhadap bangunan yang merupakan bagian dari “Misi Perumahan” Chavez di negara bagian Miranda. Tujuh orang tewas dan sepuluh orang terluka.

Gubernur negara Carabobo, Francisco Ameliach, melaporkan bahwa 8 pusat kesehatan (CDI) diambil-alih oposisi perusuh dan dokter Kuba diserang di negara bagiannya.

Di Merida, 700-an mahasiswa oposisi menggelar aksi di kantor KPU setempat. Di Monagas, kantor KPU setempat sempat dikuasai oleh oposisi yang sebagian besar mahasiswa. Namun, tak lama kemudian, ribuan rakyat Venezuela berhasil merebut kembali kantor KPU itu.

Media swasta Venezuela, yang keseluruhannya dikontrol oposisi dan anti-pemerintah, tak henti-hentinya menyebarkan informasi palsu ke seantero Venezuela.

Penulis buku “Chavez Code”, Eva Golinger, juga diserang oleh oposisi saat sedang bersama bayinya. Eva Golinger adalah mantan warga negara AS yang kemudian menjadi warga negara Venezuela dan menjadi pendukung setia Revolusi.

Presiden Venezuela terpilih Nicolas Maduro menilai tindakan oposisi sudah mengarah ke kudeta. Namun, Maduro mengklaim, upaya kudeta oposisi melalui pemogokan umum menemui kegagalan.

Ia juga menuding aksi kekerasan oleh oposisi sebagai upaya membuat Venezuela keluar dari jalur demokrasi. Namun, meski demikian, Maduro menghimbau rakyat Venezuela tetap tenang, damai, dan tidak jatuh dalam provokasi.

Oposisi Venezuela sudah frustasi dengan kekalahan demi kekalahan sejak tahun 1998 hingga sekarang. Untuk diketahui, sejak 1998 hingga April 2013, sudah berlangsung 18 kali pemilu dan referendum di Venezuela. Sebanyak 17 pemilu dimenangkan oleh kubu revolusi Bolivarian.

Presiden Majelis Nasional Diosdado Cabello telah mengusulkan sebuah penyelidikan terhadap pemimpin oposisi Henrique Capriles karena telah memprovokasi aksi kekerasan secara terbuka.

Sejumlah pemimpin Amerika Latin, seperti Ekuador, Brazil, Uruguay, Argentina, Bolivia, Kuba, dan Nikaragua, telah menyatakan dukungan atas terpilihnya Nicolas Maduro. Di luar itu, China dan Rusia juga sudah mengucapkan selamat atas kemenangan Maduro.

Presiden Argentina Cristina Fernandez bahkan mengutuk tindakan oposisi Venezuela yang melakukan kekerasan. “Anda bicara penipuan (pemilu) tanpa memegang bukti,” kata Cristina menyindir oposisi Venezuela. Sementara Menteri Luar Negeri Brazil, Antonio Patriota, mengutuk tindakan oposisi Venezuela yang telah menyebabkan tujuh orang meninggal.

Raymond Samuel

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut
  • by the way of violence in other 2 rage the political power caused by losed in general election will not solve the problem of losing in general election it’s self…the lose oposition may have another way to face the losing….for example structerized a new combination the party…..etc..no need 2 use the violence way exactly………