Kajao Laliddong, Pemikir Politik Dari Tanah Bugis

Namanya kurang dikenal dalam pemikiran politik di Indonesia. Maklum, di Indonesia, seperti halnya dengan banyak negara dunia ketiga lainnya, tradisi pemikiran barat sangat dominan dan menghegemoni. Sebaliknya, banyak pemikir cemerlang dari bumi nusantara, seperti juga tokoh yang akan kita bahas di sini, kurang dikenal dalam pemikiran politik yang dipelajari di sekolah-sekolah dan Universitas.

Dia adalah Kajao Laliddong, seorang pemikir dan negarawan ulung dari tanah Bugis. Salah satu penyair besar Indonesia, WS Rendra, menyebut Kajao Laliddong sebagai “bintang cemerlang tanah Ugi.” Pemikiran politik dan konsep ketatanegaraannya dianut dan dijalankan oleh sejumlah kerajaan di Bugis.

Kajao Laliddong adalah sebuah gelar, yang artinya: orang cerdik atau pandai dari kampung Laliddong. Nama aslinya adalah La Mellong. Ada yang menyebut La Mellong lahir pada tahun 1507, tetapi sumber pasti menyebut dia berkiprah antara abad ke-16 dan 17.

Dia diperkirakan sejaman dengan filsuf politik Italia, Nicolo Machiavelli. Akan tetapi, patut kita catat, bahwa ketika Machiavelli mengabaikan etika atau moral dalam pertarungan politik, maka Kajao Laliddong justru menganjurkan agar penguasa lebih jujur dan bijaksana.

Menurut WS Rendra, pemikiran Kajao Laliddong mengenai adat, peradilan, yurisprudensi, dan tata-pemerintahan sudah cukup lengkap. Bahkan, kata penyair yang dijuluki Si Burung Merak itu, pemikiran Kajao Laliddong itu mendahului “kode Napoleon”.

Pemimpin Jujur dan Bijaksana

Kajao Laliddong diangkat menjadi penasehat kerajaan Bone pada masa pemerintahan La Tenri Rawe Bongkange. Pada masa pemerintahan ini, kerajaan Bone mengalami perkembangan sangat pesat berkat sumbangsih fikiran Kajao Laliddong.

Ia mencoba menanamkan nilai-nilai atau sifat-sifat yang harus dimiliki oleh raja dan rakyat, yaitu: Lempu’ (kejujuran), Acca (kepandaian), Asitinajang (kepatutan), Getteng (keteguhan), Reso (usaha,kerja keras), Siri’ (harga diri).

Pada suatu hari, sebagaimana dikisahkan dalam Lontara, raja Bone pernah bertanya kepada Kajao Laliddong: “aga tanranna namaraja tanaé” (apa tandanya apabila negara itu menanjak kejayaannya)?” Kajao pun menjawab: dua tanranna namaraja tanaé Arungponé, seuwani malempu namacca Arung Mangkaué, maduanna tessisala-salaé.” (Dua tanda negara menjadi jaya, pertama, raja yang memerintah memiliki sifat jujur lagi pintar, dan kedua, tidak bercerai-berai/bersatu).

Kejujuran dan kebijaksanaan menjadi kunci kepemimpinan yang ditekankan oleh Kajao Laliddong. Ia punya kemiripan dengan filsuf besar Yunani, Plato, yang senantiasa menekankan kebaikan dan kebijaksanaan dalam inti filsafatnya. Padahal, hampir bisa dipastikan, Kajao Laliddong tidak pernah bertemu dengan Plato.

Ini menarik, setidaknya untuk membuktikan bahwa peradaban di timur sudah sangat maju jauh sebelum kedatangan kolonialisme. Alih-alih para kolonialis datang untuk membuat bangsa timur menjadi beradab, justru menghentikan perkembangan maju tersebut dan malah mempertontonkan kekejian kepada dunia timur.

Berbicara Soal Demokrasi

Gagasan-gagasan Kajao Laliddong sangat dekat dengan demokrasi. Dalam gagasan-gagasannya, Kajao jelas sekali menentang kekuasaan raja yang tidak terkontrol dan tidak dibatasi. Seorang raja, di mata Kajao Laliddong, tidak boleh terpejam matanya siang dan malam untuk memikirkan kebaikan negerinya.

Jika biasanya raja digambarkan berkuasa mutlak, dan karenanya kata-kata atau perintahnya tidak bisa dibantah, maka Kajao Laliddong sudah menganjurkan kepada raja-raja Bugis untuk senatiasa mengkaji segala sesuatunya sebelum bertindak, pandai berbicara dan menjawab pertanyaan, dan memilih utusan yang senantiasa dapat dipercaya.

Bayangkan, pada abad ke-16 dan 17, jauh sebelum revolusi Perancis meletus di Eropa, kerajaan-kerajaan Bugis sudah mengenal pembatasan kekuasaan raja. Sementara di Eropa raja-raja masih memerintah dengan gaya absolutisme.

Di kerajaan Bone, sejak Tomanurung hingga Raja Bone terakhir Haji Andi Mappanyukki, tidak semua kerajaan menggunakan penasehat, atau biasanya disebut Kajao. Akan tetapi, kekuasaan kerajaan sudah sangat dibatasi oleh dewan adat. Dewan adat dapat membatalkan keputusan seorang raja.

Menariknya, ketika Kajao Laliddong menjadi penasehat, Ia telah berani mengatakan:  Luka taro arung telluka taro ade Luka taro ade telluka taro anang (Terjemahan bebasnya: keputusan raja dapat dibatalkan oleh kehendak dewan adat, namun ketetapan dewan adat dapat dianulir oleh kesepekatan rakyat banyak).

Terlepas bagaimana kerajaan Bone mempraktekkannya, tetapi sangat menarik bahwa seorang intelektual Bugis sudah berbicara mengenai pengutamaan rakyat sebagai pemegang kedaulatan dan keputusan tertinggi.

Sistem Norma (Pangngadereng)

Menurut Mattulada dalam “Matoa”, pada umumnya kerajaan-kerajaan Bugis sudah menerapkan konsep normal sosial yang disebut “pangngadereng”. Konsep ini diturunkan dari pemikiran Kajao Laliddong, meliputi: ade’ (adat), bicara (pengadilan) rapang (yurisprudensi), dan wari (strata sosial).

Ade’ (adat) mengandung tiga hal: 1. Ade pura Onro (norma yang bersifat permanen atau menetap tidak mudah untuk diubah). 2.  Ade Abiasang (sistem kebiasaan yang berlaku dalam suatu masyarakat yang dianggap tidak bertentangan dengan hak-hak asasi manusia). 3. Ade Maraja, (sistem norma baru yang muncul sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi).

Bicara adalah konsep menyelesaikan persoalan atau pertikaian dalam masyarakat bugis. Mirip sistim pengadilan di jaman sekarang. Dalam fikiran Kajao Laliddong, setiap pengambilan keputusan terkait sengketa atau pertikaian harus diputuskan secara objektif, tidak berat sebelah.

Rapang adalah bahwa sesuatu keputusan dapat diperbandingkan dengan keputusan-keputusan terdahulu atau dengan keputusan adat dari negara tetangga.

Wari adalah sistem yang mengatur keberadaan setiap orang dalam sebuah sistem sosial berikut hak dan kewajibannya menurut posisi sosialnya.

Konsep pangngadereng” terus berkembang menjadi konsep umum kerajaan-kerajaan di Bugis. Hanya saja, ketika pengaruh islam mulai masuk ke wilayah ini, konsep pangngadereng ini ditambah dengan sara’ (syariat).

RUDI HARTONO

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut
  • Dahlan P

    Seperti cerita rakyat, yang dikisahkan oleh orang tua bahwa: Lamellong pernah diminta oleh mangkau mengumpulkan 100 orang buta yang bisa melihat, dan ddiminta untuk membuat tali dari debu.

  • Hariyadi Ibrahim

    Bangga jadi Orang yg terlahir dari Suku Bugis yg mempunyai Pangadereng (sistem Norma) yg sejalan dg Agama Islam, yg menganjurkan Berlaku adil kepada siapapun.

  • musa

    aku bangga dengan cerita diatas, tetapi akankah dikemudian hari akan terlaksana seperti diatas…