Petani Mekar Jaya Gagalkan Aksi Penyerobotan PT. AAS

Senin, 11 Februari 2013 | 7:50 WIB   ·   0 Komentar

Petani-Jambi-Di-Kedubes-Malaysia

Kemarin, Minggu (10/2), 200-an petani desa Mekar Jaya, Kabupaten Sarolangun, Jambi, menggelar rapat akbar. Pertemuan itu membahas isu terkait aktivitas PT. Agronusa Alam Sejahtera (AAS) di areal konflik.

Ternyata itu itu bukan isapan jempol belaka. Di tengah berlangsungnya rapat akbar, petani mendengar kabar bahwa pihak PT. AAS sudah memasuki lahan konflik dan merusak tanaman warga.

Untuk memastikan kabar itu, petani pun beramai-ramai mendatangi lokasi. Di sana mereka menemukan sejumlah pekerja perusahaan sedang bekerja di lahan warga. Warga pun menegur pegawai tersebut dan meminta menghentikan aktivitasnya.

Namun, rupanya, aktivitas pegawai perusahaan ini dikawal preman. Lantas, preman-preman itu malah mengancam warga. “Kita berusaha menegur mereka secara baik-baik, eh, malah premannya balik mengancam kami dengan parang,” ujar Joko Supriadinata, aktivis Serikat Tani Nasional (STN), yang sedang berada di lokasi itu.

Merasa terancam, warga pun langsung bertindak. Warga berhasil menangkap 8 orang preman. Tak hanya itu, petani juga berhasil menyita 1 buah parang, 2 belati, dan 3 senapan rakitan.

Lalu, 8 orang preman PT. AAS itu ditahan oleh petani. “Kami hanya mau menyerahkannya ke pihak kepolisian. Mereka telah melakukan kesalahan dengan menyerobot lahan warga,” ungkap Joko.

Sudah ada SK Kemenhut

Menurut Joko, kejadian kemarin itu tidak perlu terjadi kalau pihak perusahaan mematuhi SK Kementerian Kehutanan melalui Direktorat Jenderal Bina Usaha Kehutanan (BUK) terkait penyelesaian konflik agraria di dusun Kunangan Jaya II (Batanghari) dan Mekar Jaya (Sarolangun).

Dalam SK ber-nomor S.92/VI-BUHT/2013 itu disebutkan, Kemenhut RI menyetujui penyelesaian konflik agaria di dusun Kunangan Jaya II dan Mekar Jaya melalui pola Hutan Tanaman Rakyat (HTR) mandiri.

Tak hanya itu, menurut SK tersebut, pihak Kemenhut RI akan meng-addendum Ijin Usaha Pengelolaan Hasil Hutan Kayu (IUPHHK) yang sebelumnya diberikan kepada tiga perusahaan, yakni PT. Wanakasita Nusantara, PT. Agronusa Alam Sejahtera, dan PT. Restorasi Ekosistem Indonesia.

“Artinya, untuk sekarang, PT. AAS tidak punya hak lagi mengklaim lahan seluas 3.482 hektar itu. Sebab, dengan keluarnya SK Menhut itu, berarti lahan tersebut sudah kembali ke tangan warga,” tegas Joko.

Selain itu, kata Joko, dalam pertemuan dengan pihak Dishut Jambi, sudah ada keputusan terkait larangan bagi pihak perusahaan memasuki lahan warga seluas 3.482 hektar itu. “Artinya, jika perusahaan tetap memaksa masuk menggarap, itu sudah penyerobotan,” kata Joko.

Menurut informasi dari Joko, sejak semalam satu peleton kepolisian dari Polres Sarolangun sudah diterjunkan ke lokasi.

Mahesa Danu

Tags: , , ,

URL Singkat:

FeedBerlangganan Via RSS FEED

Info Artikel Terbaru Via Surel :