Oleh-Oleh Dari Thailand

Kamis, 17 Maret 2011 | 18:39 WIB 1 Komentar | 378 Views

Menginjak negeri ini untuk yang pertamakalinya membuatku sempat mabuk kepayang. Bagaimana tidak? Selain bandaranya yang memiliki desain luar biasa, negeri ini juga menerapkan system jemput bola untuk mengemas industri pariwisatanya hingga memperoleh pendapatan paling besar untuk negeri ini.

Thailand sangat menghargai wisatawan. Mereka menganggap setiap tamu yang datang adalah raja. Selain itu, biaya hidup di Thailand lebih murah daripada di Indonesia. Biaya hidup di Bangkok sekitar 30-50% lebih murah daripada di Jakarta, apalagi di Chiang Mai, Chiang Rai dan lain-lain.

Dua faktor ini menjadikan pengalaman wisata kita sangat memuaskan, karena uang yang kita bawa mempunyai nilai tukar yang lebih tinggi. Dengan kata lain, kita bisa belanja lebih banyak, tinggal di hotel lebih bagus, wisata lebih banyak, bahkan tinggal lebih lama di Thailand! Ini nih yang bikin pariwisata Indonesia jadi tertinggal lumayan jauh.

Sejak dari awal aku datang menginjak bandara, aku disambut dengan tante-tante ceriwis yang menawarkan ragam paket wisata dengan seabreg fasilitas. Mulai dari yang mewah sampai ala backpacker yang murah meriah. Meski menghampirinya dengan sedikit menodong, tetapi mereka ramah sekali.

Hal ini sempat mengingatkanku dengan situasi di terminal Purabaya, Surabaya. Dimana setiap armada bus memiliki calo-calonya sendiri untuk menarik penumpang untuk memilih bus mereka. Hanya saja memang, kalau di Bandara internasional Suvarnabhumi, mereka yang menawarkan paket wisata tidak sampai menarik-narik tangan kita. Dan untungnya, di terminal Purabaya, hal itu tak lagi terjadi dengan pengamanan yang lebih tinggi dari dinas perhubungan setempat.

Bangkok juga semakin mengkokohkan diri sebagai pusat belanja kelas dunia. Mulai dari pasar grosir Bo Bae dan Pratunam (tempat belanja inang-inang Singapura), mal favorit turis Indo MAHBUNGKRONG (MBK), pasar malam Suan Lum (buka sampai tengah malam, lengkap dengan hiburannya yang asyik), pasar terbesar Asia Chatuchak yang murah meriah, sampai ke King Duty Free dengan barang bermerek yang lebih murah daripada duty free lain, Siam Paragon yang megah dan super lengkap, sampai ke mal-mal khusus seperti Siam Square yang masuk ke majalah Vogue! Sayangnya, aku hanya mendengar ceritanya dari seorang guide yang menemani perjalananku bersama dengan dinas pertanian serta dinas perindustrian dan perdagangan kabupaten Jember.

Negeri yang memiliki total penduduk sekitar 70 juta jiwa dengan luas wilayah sekitar setengah juta kilometer persegi ini begitu memahami potensi yang dimilikinya. Sektor keunikan wilayahnya dicondongkan untuk menjadi daya tarik wisata. Padahal sih kalau menurutku, Indonesia jauh lebih punya beragam budaya dan wilayah yang indah.

Thailand adalah penamaan Inggris untuk sebuah negara kerajaan di Asia Tenggara yang berbatasan langsung dengan Laos, Kamboja, Malaysia, dan Myanmar. Menurut bahasa aslinya, namanya Muang Thai. Negara ini juga pernah dinamakan Siam dengan Ibu kotanya dinamakan Bangkok. Rajanya bernama Bhumibol Adulyadej, yang berkuasa cukup lama juga. Yakni, sejak 9 Juni 1946.

Sedikit oleh-oleh yang bisa kudapatkan hasil dari comot sana-sini dan wawancara dengan orang-orang yang ada di departemen pertanian kurangkum dalam sejarah Thailand berikut ini.

Ayutthaya

Kawasan Thailand itu sudah dihuni manusia sejak zaman paleolitikum, yaitu sekitar 10 ribu tahun lalu. Seperti di negara Asia Tenggara lainnya, Thailand menerima pengaruh kuat dari budaya dan agama di India, yang masuk sejak zaman Kerajaan Funan pada abad pertama Masehi.

Setelah kejatuhan Kerajaan Khmer pada abad ke-13, berbagai negara tumbuh di sana, sebut saja di antaranya Tai, Mon dan Melayu. Hal ini bisa dilihat dari situs-situs arkeologi dan artefak yang bertebaran di sana. Sayang sekali aku tidak sempat berputar-putar terlampau lama karena hanya sehari di negeri ini.

Namun negara pertama yang dianggap sebagai cikal bakal Thailand adalah Sukhothai, sebuah negara Buddha yang berdiri pada 1238. Namun, satu abad kemudian, kekuasaan Sukhothai meredup dan muncul Kerajaan Ayutthaya sebagai negara terkuat di kawasan itu.

Kekuasaan Kerajaan Ayutthaya berpusat di Menam, sedangkan di lembah utara Kerajaan Lanna dan sejumlah kerajaan-kota kecil lainnya menguasai wilayah itu. Pada 1431, Khmer meninggalkan Angkor setelah kekuatan Ayutthaya menyerang kota itu.

Ingat dengan Angkor wat? Sebuah candi yang pembuatannya memakan waktu kurang lebih 30 tahun lamanya. Nah ini dibangun di Khmer yang dalam bahasa sanskerta diartikan sebagai ibu kota.

Ayutthaya menjadi salah satu pusat perdagangan di Asia dengan menjalin kerja sama niaga dengan Cina, India, Persia, dan Arab. Para pedagang Eropa tiba di kawasan itu pada abad ke-16, dimulai dengan Portugis, diikuti Prancis, Belanda, dan Inggris.

Buffer

Setelah kejatuhan Ayutthaya pada 1767 di tangan Burma, Raja Taksin memindahkan ibu kota Thailand ke Thonburi selama kurang lebih 15 tahun lamanya. Era Rattanakosin pun dimulai sejak 1782, yang diikuti dengan berdirinya Bangkok sebagai ibu kota Dinasti Chakri di bawah kekuasaan Raja Rama I yang Agung.

Yang mencengangkan dan membuat ngeri adalah, seperempat sampai sepertiga penduduk di wilayah Thailand adalah budak. Meski dipimpin oleh orang dari negerinya sendiri, monarki absolute Thailand berjalan tidak harmonis.

Meski mendapat tekanan terus dari bangsa Eropa, Thailand adalah satu-satunya bangsa di Asia Tenggara yang tidak pernah dijajah. Luar biasa kan? Ada dua alasan mengapa Thailand tetap merdeka.

Pertama, Thailand memiliki sistem suksesi yang mantap pada abad ke-19. Kedua, Thailand mampu mengeksploitasi persaingan dan ketegangan antara Indocina Prancis dan Kerajaan Inggris.

Dan hasilnya, Thailand menjadi negara buffer antara berbagai negara di Asia Tenggara yang dijajah dua kekuatan, Inggris dan Prancis. Tapi ya nggak terlalu lama juga dia terbeas dari jajahan negera-negara maju itu.

Akibat berbagai tekanan yang memunculkan kesepakatan-kesepakatan, menjelang akhir abad ke-19, wilayah kekuasaan Thailand lambat laun digerogoti juga. Sisi timur Mekong jatuh ke tangan Prancis, sedangkan Shan ( yang sekarang menjadi Burma) dan Semenanjung Malaya jatuh ke tangan Inggris. Mengenaskan.

Kudeta

Pada 1932, sebuah revolusi yang tak berdarah oleh kelompok militer dan para pejabat sipil yang dipimpin Khana Ratsadon menghasilkan transisi kekuasaan, yakni Raja Prajadhipok dipaksa mengabulkan keinginan rakyat Siam untuk membuat konstitusi, yang mengakhiri monarki absolut selama berabad-abad.

Pada Perang Dunia II, Thailand “membantu” Jepang melawan sekutu. Tapi seusai perang, Thailand justru menjadi sekutu Amerika Serikat. Seperti kebanyakan negara berkembang lainnya selama perang dingin, Thailand selalu dirongrong oleh ketidakstabilan politik yang ditandai kudeta demi kudeta oleh militer. Hal itu bahkan masih berlangsung hingga tahun-tahun terakhir.

Tentang Gajah Putih yang Menjadi Lambang Absolutisme Kekuasaan

Kebanyakan penduduk Thailand menganut agama Budha Theravada. Negeri ini tergolong memiliki tingkat religiusitas yang tinggi. Hal tersebut terlihat jelas dari berbagai peninggalan sejarah kebudayaan kuno Thailand. Thailand adalah pintu masuk untuk berwisata ke wilayah yang dikenal dengan sebutan Greater Mekong.

Gajah berwarna kulit putih merupakan spesies gajah biasa. Tetapi karena lahir albino, disebut juga gajah albino, maka jenis ini termasuk binatang besar yang langka dan sangat jarang. Warna asli gajah ini tak seputih salju sebagaimana banyak digambarkan. Warna aslinya adalah coklat yang lembut agak kemerah-merahan. Warna tubuh gajah akan terlihat berubah warna merah muda saat sedang basah terkena air.

Bentuk dan warna yang berbeda dengan gajah-gajah lain, disertai kuku yang menarik dan bulu mata gajah yang cantik nan lentik. Hal tersebut membuat spesies gajah albino ini memiliki tempat yang istimewa di negeri Thailand. Bahkan diyakini sebagai salah satu binatang yang disucikan bagi sebagian orang.

Binatang Suci

Bagi kerajaan Thailand, gajah putih adalah binatang suci yang menyimbolkan kekuasaan. Keberadaannya merupakan pertanda baik pada nasib dan kekuasaan. Raja negeri Thailand Rama IX diyakini mencapai tingkat religiusitas yang tinggi dalam kepercayaan setempat.

Alasannya karena dia berhasil mengumpulkan sepuluh gajah suci dari berbagai tempat. Teknologi komunikasi pada zaman ini sangat mendukung tingkat pencapaian tersebut. Semakin banyak jumlah gajah suci, maka diyakini semakin baik nasib kerajaan tersebut.

Gajah albino dengan tingkat warna putih yang dominan harus diperlakukan istimewa. Sang pemilik gajah harus melakukan pemeliharaan yang cermat dan baik. Perlakuan khusus ini membutuhkan biaya yang cukup besar. Maka hanya golongan bangsawan atau seorang raja yang mampu melakukan perawatan mahal tersebut.

Selain itu, pemeliharaan yang kurang baik diyakini akan mengakibatkan nasib buruk, kebangkrutan usaha, hilangnya kekuasaan, dan malah kehancuran. Maka dalam mempertahankan kekuasaan, seringkali seorang penguasa memberikan hadiah gajah suci itu kepada orang yang dianggap musuh.

Gajah Putih untuk Melanggengkan Kekuasaan

Dalam kepercayaan Hindu India dan Indonesia, dikenal seekor gajah yang diberi nama Airawata. Gajah ini digambarkan sebagai seekor gajah besar yang memiliki kemampuan terbang di angkasa luas. Dialah raja dari semua spesies gajah di dunia. Gajah dengan kulit tubuh berwarna putih ini diyakini sebagai binatang suci peliharaan Dewa Indra.

Gajah albino juga dimiliki Myanmar. Jenderal Than Shwe sebagai penguasa Myanmar meyakini bahwa dirinya adalah salah satu keturunan sah tahta raja Burma. Klaim ini sangat dibutuhkan untuk melegitimasi secara histori pada keabsahan dan kelayakan identitas pewaris sah dari raja-raja sebelumnya.

Menurut berbagai sumber di Internet, pada tahun 2010 jenderal tersebut memiliki tiga ekor gajah yang memiliki warna merah muda dan satu ekor gajah dengan warna abu. Namun tetap saja gajah tersebut dikategorikan gajah warna putih yang melegenda. Ketiga gajah itu dipelihara dalam bangunan pavilium di wilayah Yangon.

Di daerah Nanggroe Aceh Darussalam. Gajah dengan warna putih albino sangat poluper dalam kesenian Tari Guel. Tari ini merupakan bagian dari tradisi budaya Gayo. Di wilayah dataran tinggi Gayo, terdapat satu kabupaten yang diberi julukan Bumi Gajah Putih. Tepatnya disandarkan pada Kabupaten Bener Meriah, Aceh Darussalam.

White elephant lebih membutuhkan biaya besar dibanding kegunaannya. Tetapi binatang ini memiliki nilai komersial yang tinggi. Dengan keyakinan tertentu, sangat terkait dengan nasib baik pemiliknya. Maka bagi penguasa, gajah istimewa ini menjadi syarat dan strategi untuk melanggengkan kekuasaannya.

Aku jadi teringat dengan kekuasaan Soeharto yang bertahan sangat lama itu. Jangan-jangan dia memelihara gajah albino agar memiliki kekuasaan yang langgeng ya? Hehehe…

Tags: ,

  • che thovic

    yupz bener banget. . . Di gayo *suku di NAD* ada cerita tentang gajah putih, dan dijadikan sebagai nama universitas milik pemda Takengon – kab. Aceh Tengah yaitu Universitas Gajah Putih.

FeedBerlangganan Via RSS FEED

Info Artikel Terbaru Via Surel :