Pertambangan Batu Mangan di NTT

Kamis, 23 September 2010 | 16:02 WIB 20 Komentar | 2464 Views

mangan.jpg

Kualitas batu Mangan dari NTT termasuk yang terbaik di dunia, dan jumlah yang terukur saat ini cukup untuk penuhi kebutuhan Indonesia serta Korea Selatan selama lima puluh tahun mendatang. Hal ini disampaikan seorang pejabat kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) saat berkunjung ke Kupang akhir 2009 lalu. Ini kabar baik atau buruk bagi rakyat NTT? Tampak banyak jawaban negatif. Baru-baru ini, Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Nusa Tenggara Timur (DPRD NTT) mendesak pemerintah daerah untuk menghentikan seluruh proses eksploitasi mangan di daerah tersebut, sampai ada regulasi (peraturan daerah) di tingkat provinsi yang mengatur hal ini. Namun, sementara tuntutan tersebut dikemukakan, proses eksploitasi terus berlangsung dengan berbagai dampaknya. Regulasi yang menjadi pegangan sekarang adalah Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2009 Tentang Penambangan Mineral dan Batubara dan peraturan daerah atau keputusan pemegang wewenang di level pemerintahan daerah kabupaten. Regulasi di tingkat kabupaten ini mengatur hal yang lebih spesifik seperti batas minimal harga komoditi, ijin usaha penambangan (IUP), dan lain-lain.

Persoalan-persoalan

Hasil sebuah Focus Group Discussion (FGD) yang diselenggarakan oleh LSM Simpul Demokrasi Belu baru-baru ini menyebut empat poin dampak positif dan dua puluh tiga poin dampak negatif dari pertambangan mangan, disertai sejumlah rekomendasi kepada pemerintah (lihat di: http://www.simpuldemokrasi.org/news_detail.php?nid=68). Di sini penulis tidak merincikan kembali satu per satu hasil FGD tersebut. Beberapa poin di bawah ini coba merangkum persoalan yang ada, yaitu; pertama, aktivitas penambangan mengakibatkan kerusakan lingkungan. Di banyak tempat di pulau Timor, bebatuan berfungsi sebagai tangkapan air hujan yang kemudian bermanfaat menyediakan sumber air bersih bagi penduduk. Penambangan mangan dikhawatirkan mengganggu daya tampung alam terhadap air hujan, sehingga mengganggu juga pasokan kebutuhan akan air.

Kedua, kondisi kesejahteraan rakyat tidak mengalami perubahan setelah penambangan dilakukan secara masif selama beberapa tahun terakhir. Ada manfaat jangka pendek berupa tambahan penghasilan, namun jumlahnya tidak cukup buat penuhi kebutuhan hidup, dan berdampak buruk dalam jangka panjang. Angka kemiskinan di NTT tetap tinggi, dan masih tergolong provinsi yang paling miskin atau terbelakang. Ketiga, hal-hal terkait ketenagakerjaan, seperti kesehatan dan keselamatan kerja, keberadaan pekerja anak, pendidikan dan pengetahuan dasar yang dibutuhkan rakyat mengenai obyek kerjanya, pengupahan, dan lain-lain. Keempat, dampak-dampak sosial budaya di tengah masyarakat, seperti meningkatnya persaingan disertai pudarnya semangat gotong royong, bergesernya sumber penghidupan masyarakat dari bertani menjadi “penambang tradisional”, dan lain-lain.

Disadari, persoalan-persoalan tersebut tak diatasi hanya oleh regulasi yang dibuat di tingkat daerah. Namun sebagai upaya menciptakan kondisi yang lebih baik, langkah (pembuatan regulasi) tersebut dapat kita manfaatkan sebagai sebuah “tahapan” yang diposisikan sesuai dengan kapasitasnya. Artinya, pembuatan dan pengesahan sebuah peraturan daerah tingkat provinsi, dan atau berbagai peraturan daerah tingkat kabupaten, tidak menjamin proses yang lebih sehat dalam pemanfaatan kekayaan alam. Acuan terbaik seharusnya [sic] adalah Undang-Undang Dasar 1945 yang dengan tegas menyatakan kekayaan alam harus dimanfaatkan sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat. Namun keadaan yang baik itu (menjadikan pasal 33 UUD 1945 sebagai acuan) tidak sedang diterapkan oleh pemerintah Indonesia.

Mangan dalam perekonomian

Batu mangan berguna sebagai bahan baku industri, seperti untuk pembuatan baterai, keramik, bahan kimia, dan baja. Namun saat ini mangan paling banyak digunakan untuk kebutuhan industri baja yang penggunaannya mencapai 90% (Majalah Tambang, 3 November 2008). Kandungan mangan dapat menghasilkan baja dengan kualitas bagus, yaitu lebih kuat dan ringan dibandingkan baja dari bahan mentah lain. Kualitas demikian membuat batu mangan menjadi bahan baku paling banyak dicari oleh kalangan industriwan baja akhir-akhir ini. Sebagaimana diketahui, industri baja merupakan salah satu industri dasar (hulu) yang sangat dibutuhkan, baik untuk kebutuhan konstruksi, elektronik, otomotif, dll. Negara yang pembeli mangan terbesar di dunia saat ini adalah Tiongkok dan India. Sementara produsen terbesar adalah Ukraina dan Afrika Selatan. Kedua negara tersebut menguasai sekitar 80% cadangan mangan dunia.

Eksploitasi mangan perlu juga dilihat dalam skema perkembangan ekonomi-politik global dan nasional. Sejak penaklukkan “Barat” terhadap “Timur”  (kurang lebih antara abad 16 sampai abad 20), tercipta keadaan yang disebut kolonialisme atau penjajahan. Sistem ini berupaya menguasai sebanyak mungkin tenaga kerja, pasar, dan bahan mentah dari negeri-negeri jajahan untuk diperdagangkan, yang kemudian berlipatganda keuntungannya di negeri-negeri penjajah. Eksploitasi bahan mentah dari negeri terjajah oleh negeri penjajah terus berlanjut dalam penampakan yang berganti dari sebelumnya, namun sama dalam hakekat. Pemerintah di negeri ex-jajahan diberikan ‘kedaulatan’ secara politik, tapi tetap menciptakan ketergantungan (sebagai syarat eksploitasi) terhadap ekonomi asing. Pentingnya komoditi mangan saat ini mungkin sebanding dengan palawija diburu-buru oleh VOC pada masa lampau.

Fungsi strategis bahan baku mangan belum tergantikan oleh bahan lain, sehingga masih akan terus dibutuhkan oleh industri. Namun kondisi industri saat ini tidak menjamin kestabilan produksi akibat krisis periodik dalam sistem kapitalisme, sehingga juga tidak menjamin kestabilan harga bahan mentah. Ada perspektif lebih maju untuk memanfaatkan pasar dalam negeri dengan pembelian langsung misalnya oleh industri baja milik negara. Namun hal ini tidak ada dalam skema rencana industrialisasi dari sebuah pemerintahan neoliberal. Sejauh ini Indonesia hanya memiliki satu pabrik baja yaitu PT. Krakatau Steel (dibangun pada masa Soekarno) dan sudah berada dalam daftar privatisasi. Pasokan kebutuhan baja sebagian besar masih dari luar negeri seperti India dan Cina. Tak heran, di berbagai daerah masih terjadi kelangkaan produk baja sehingga harganya menjadi sangat mahal.

NTT dalam pertambangan

Menilik situasi perekonomian di atas, kita perlu belajar dari kasus-kasus pertambangan di daerah lain. Ekspansi kapital pertambangan ke kepulauan NTT tergolong baru dibandingkan daerah-daerah lain di Indonesia. Bisa dikatakan tak ada perusahaan raksasa tambang yang beroperasi di NTT sebelum liberalisasi dimulai tahun 1998. Jenis usaha atau industri yang berkembang pun lebih banyak pada industri jasa, seperti kontraktor, pariwisata, perdagangan hasil bumi, dan sejumlah kecil percetakan. Paling banter singgungan pada pertambangan lewat usaha kontraktor yang melakukan galian C (batu dan pasir) untuk bahan campuran bangunan atau jalan. Demikian halnya satu-satunya industri besar yang merupakan aset milik pemerintah daerah adalah PT. Semen Kupang yang memasok kebutuhan di daerah. Perusahaan daerah ini mulai bangkrut sejak masuknya produk semen Tonasa dan Gresik.

Pasca 1998, terutama seiring berlakunya Undang-Undang Penanaman Modal, mulai banyak perusahaan besar masuk dan mencari peluang keuntungan pada berbagai bidang ekonomi, terutama yang terkait dengan keberadaan sumber daya alam. Beberapa perusahaan asal Jepang berinvestasi di bidang kelautan, seperti budi-daya mutiara, rumput laut, penangkapan ikan, kemudian pembelian dan penjualan ikan. Meski belum sepenuhnya menggusur kekuatan ekonomi lama, perusahaan besar lainnya mulai masuk ke perdagangan komoditi pertanian dengan menjemput langsung ke tangan petani. Sementara pada bidang pertambangan, eksplorasi dan eksploitasi telah dilakukan pada marmer, pasir besi, minyak bumi, gas alam, emas, dan mangan.

Persoalan-persoalan seperti disebutkan pada awal tulisan, yang sekarang masih tampak menyerupai gejala, di kemudian hari akan memburuk jika tidak ada perubahan yang fundamental. Pengalaman berbagai daerah lain telah mengajarkan kita untuk tidak mengulang kesalahan. Beberapa contoh bisa disebut, seperti penambangan emas oleh Freeport di Papua, Newmont di Nusa Tenggara Barat, tembaga di Sulawesi Selatan, pertambangan timah di Bangka Belitung, berbagai pertambangan Batubara di Kalimantan, dan lain-lain. Dalam ketiadaan skema industrialisasi nasional yang jelas maka keberadaan pertambangan hanya memperkaya segelintir orang, terutama kapitalis di luar negeri, tanpa meninggalkan nilai tambah apapun bagi rakyat.

Pencarian batu mangan ke NTT akan terus ada dan bertambah dalam beberapa tahun ke depan, bahkan bisa lebih lama. Alasan utamanya sederhana, yaitu pemenuhan kebutuhan industri di negeri Tiongkok dan Asia Timur lainnya (Jepang dan Korea) yang cenderung mencari sumber bahan baku terbaik dan terdekat, dibandingkan harus mendatangkan komoditi tersebut dari Ukraina ataupun Afrika Selatan yang memakan biaya lebih besar.

Pada saat yang sama pemiskinan sistematis dalam sistem neoliberalisme sekarang seperti jebakan pragmatisme bagi banyak orang. Kesulitan ekonomi menggiring orang untuk memilih apapun yang saat ini bisa diperoleh secara cepat, sambil secara sengaja ataupun tidak sengaja meluputkan perhatian dari dampak dan keadaan jangka panjang. Dilihat dari kebijakan-kebijakan yang dikeluarkan selama ini, jajaran di kekuasaan pemerintahan daerah tampaknya berada di sisi pragmatisme tersebut. Contohnya bisa dilihat dari penentuan harga jual batu mangan yang sangat murah oleh pemerintahan daerah. Di tingkat penambang rakyat saat ini, bahkan, harga batu mangan per kilo bisa jatuh sampai tiga ratus rupiah per kilogram. Dalam ketidakberdayaan rakyat, situasi ini cenderung diterima hanya dengan advokasi yang minimalis dari para pemerhati, baik itu aktivis mahasiswa atau LSM tertentu.

Respon dan tawaran strategis

Kekayaan tambang adalah milik rakyat. Namun ‘pemanfaatan’ oleh rakyat yang terjadi saat ini, dalam bentuk penambangan tradisional maupun modern, sebenarnya berada di luar rencana rakyat sendiri. Rencana atau desain ini diciptakan oleh kepentingan industri di luar negeri, didesakkan kepada pemerintah pusat maupun daerah, kemudian rakyat menjadi korban pasif dari kehendak para pemodal.

Karena itu perlukan langkah awal yang tegas untuk menghentikan seluruh proses pertambangan mangan di NTT. Penghentian tidak sekadar sampai ada regulasi tapi sampai ada gambaran manfaat yang jelas untuk kepentingan rakyat dan kebutuhan industri nasional. Terkait penghentian ini, tentunya sebagian masyarakat akan kehilangan mata pencarian dari penambangan dan penjualan mangan yang digeluti. Oleh karena itu diperlukan jaminan modal dan lapangan kerja baru yang disediakan oleh pemerintah. Selain itu, juga dibutuhkan kajian mendalam mengenai dampak lingkungan sehingga dapat ditentukan daerah mana yang boleh dieksploitasi dan daerah mana yang menjadi kawasan terlarang atau harus dilestarikan.

Sejalan dengan poin pertama, hal penting lain yang perlu diperhatikan adalah memastikan adanya nilai tambah yang sebesar-besarnya bagi rakyat dari proses penambangan. Nilai tambah yang besar dapat diperoleh melalui dua jalan yaitu; pertama, menaikkan harga jual batu mangan dari tangan penambang, yang bisa dilakukan dengan memotong mata rantai perdagangan; kedua, dengan mendirikan pabrik pengolahan batu mangan menjadi produk yang lebih siap pakai. Penjualan batu mangan dalam bentuk bongkahan mentah ke luar pulau harus dilarang, sehingga mendorong pendirian industri yang bisa menarik tenaga kerja. Industri yang berdiri pun harus memberikan kompensasi yang sebesar-besarnya kepada rakyat, baik dalam bidang pendidikan, kesehatan, perumahan, infrastruktur, dan lain-lain. Sampai di sini, perusahaan tidak dapat dibiarkan bergerak sendiri dengan logika untung-rugi bagi dirinya sendiri, melainkan harus dikendalikan oleh sebuah pemerintahan yang terus menjaga komitmennya memajukan kesejahteraan rakyat. Pengorganisasian rakyat dalam kegiatan-kegiatan yang mencerdaskan secara politik adalah salah satu langkah kunci yang dapat dilakukan oleh para pemerhati masalah tambang dan masalah pemiskinan yang dihadapi rakyat NTT sekarang.

Tags: ,

  • toi

    Bersyukurlah bahwa Tuhan memberi kelimpahan kekayaan alam bagi umatnya, karena itu menurut saya kekayaan alam tetep dipergunakan untuk kemakmuran rakyat, jadi ekploitasilah yang penting perhatikan lingkungan dan kesejahteraan rakyat.

  • An

    its gud…..tapi kurang di perincikan tentang dampak negatif dari pertambangan batu mangan yang ada di NTT khususnya di pulau TIMOR. selain itu solusi yang tepat guna menanggulangi akan bahaya dari pertambangan batu mangan di NTT tidak di sertakan….harap bisa di revisi lagi. saya setuju akan tulisan ini. semoga pembaca dapat menyadari akan bahayanya menambang Batu Mangan secara liar. GBU

  • Rony Dwi

    1). Hanya dengan Riset/pengkajian yang mendalam akan di temukan manfaat dan permasalahannya,Masyarakat setempat harus di anggap sebagai Stakeholder yang memiliki posisi tawar dengan Investor, maka masyarakat masih sebagai pemilik modal yang ikut terlibat.
    2). Selama hasil bumi mangan di tangani secara proposional dan hasilnya untuk kemakmuran masyarakat setempat dan umumnya untuk ke sejahteraan masyarakat NTT.
    3). Dampak dari kemakmuran hasil mangan akan membawah efek sektor lain.. maka secara otomatis Perekonomian kawasan setempat akan tumbuh dengan sendirinya.

    (RDS/MP)

  • rini maizi

    hello…di daerah Sijunjung,sumbar juga terdapat tmbang batu mangan,saya sendiri memiliki lahan disana lbih kurang 3 hektar,tp pemerintah sllu melakukn razia,shingga msyarakat stmpat tdak mmiliki tmpat mncari nafkah. jadi saya ingin menanyakan bagaimana caranya supaya pemerintah lbih memperhatikan dan me-legalkan lahan2 yg ada dsini,msyarakat dsini sangat membutuhkan tambang ini.karena alhamdulillah ekonomi masyarakat disini jauh membaik kalau lahan dsini di kelola terus dengan baik dan lancar,
    thanks…

  • januar

    Saya adalah salah satu pengusaha batu mangan di kupang.. Yang saya lihat disini.. Tebalik.. Dimana pemerintah mempersulit segala regulasi disini krn untuk kepentingan mereka sendiri.. Alias kantong sendiri.. Bisa dibilang mereka bersenang” diatas penderitaan rakyat. Sejumlah dana yang hrs di setor ke kantong” penguasa disana apabila kita ( pengusaha mangan ) ingin berjalan.. Selama kita penuhi segala permintaan mereka, kita bisa berjalan. Tapi apabila kita merasa berat.. Pihak” penguasa akan menyita brg kita dengan alasan ilegall. Padahal kita membeli dr masyarakat” setempat.. Kenapa pemerintah tidak tangkap rakyat yg menjual?? Suatu keanehan kan..

    Cara penambangan batu mangan sangat berbeda dengan penambang batu bara, nikel, emas, dll.. Bisa dibilang batu mangan ini adalah hadiah Tuhan untuk masyarakat kecil. Krn penambangan mangan yg dilakukan secara besar”an oleh alat” berat.. Hasilnya tidak efektif. Krn sifatnya yg sporadis. Sehingga hanya tangan” masyarakat yg paling efektif dlm pengumpulan komoditi tambang ini.

  • paul

    sudah tau belum?kandungan mangan-nya sangat besar, ini benar karena saya baru meneliti itu, tapi harus di sosialisasikan pada masyarakat, karena berbahaya, ada unsur radioaktifnya….jadi penambang harus pakai masker, dan batu yang sudah di gali harus disimpan ditempat tertutup….bisa kanker, mandul atau bahkan bisa langsung meninggal.

  • ria

    saya sangat setuju dengan pendapat pak januar, setelah saya membantu dalam pengurusan saya tahu bahwa pengusaha sangat tertekan dengan sistem “kesempatan dalam kesempitan” yg dilakukan pemerintah setempat.Para pengusaha harus memberikan money under table supaya pengeluaran izin dapat dilakukan dengan waktu yang singkat (tapi untuk saya 3 tahun itu tidak singkat, bermilyar dana telah dikeluarkan hanya untuk mendapatkan izin hingga waktu izin keluar pengusaha segera mencaplok semua kesempatan supaya BEP segera tercapai hingga terkadang unsur kesehjateraan masyarakat tidak terlalu diperhatikan selama tidak melanggar undang-undang setempat.
    Sebagai masyarakat Indonesia kita boleh berkoar-koar kepada dunia bahwa kita negara kaya sekaligus kita menjadi budak di negeri sendiri karena kenyataannya yang mendapatkan hasil dari kekayaan ini adalah orang-orang yang duduk di pemerintahan sendiri, mereka yang pintar mencari keuntungan mereka sendiri.
    hai pemerintah yang terhormat, janganlah membuat perundangan-undangan itu sebagai kesempatan untuk memperkaya diri sendiri, tapi ambillah kembali esensi dari pembukaan UUD 1945, kesehjateraan bagi SELURUH masyarakat Indonesia, niscaya engkau akan disegani di negeri ini.
    Doa ku NTT berkembang maju seiring dengan melambungnya harga mangan NTT di pasar dunia.
    Gbu

  • putra halk,o marena

    Tulisan yang bermutu dan perlu perhatian semua pihak termasuk para pengusaha batu mangan di timor sehingga tidak merugikan rakyat juga Pemda. Sebaiknya segera pikirkan Perda ttg batu mangan guna melindungi rakyat agar SDM dan SDA tidak diexploitasi oleh para pengusaha dan hanya menguntungkan para pejabat. sementara rakyat tambah miskin, lahan pertanian kurus, lingkungan rusak, sumber air kering, hutan gundul dan berbagai dampak buruk yang harus ditanggung oleh masyarakat.Batu mangan harus diexploitasi secara LEGAL agar mendongkrak PAD. secara LEGAL pula. Batu mangan jangan diantar pulaukan tapi diexpor langsung kenegara pengimpor. harus ada perdanya juga pak. Semoga masyarakat cepat sejahtera lahir dan bahin.

  • http://finit.sem@gmail.com SEM FINIT

    Saya merasa bangga memiliki kampung halaman yg tdnya orang mengatakan bahwa timor adalah batu karang tp dgn adanya batu mangan maka saat ini bnyk pengusaha melirik kupang sbgai t4 investasi. Tp yg membuat saya heran mengapa mangan sampai saat blm ada terdengar tentang sebuah tambang yg mengerjakan bnyk pegawai ataupun putra/i timor. Yg saya ketahui ijin pertmbangan tidak jelas tp pembeli mangan (pengepul) meraja lela di NTT khususnya daratan timor. Siapakah yg akan jika ada bencana dr pertmbgan ?

  • ariansa

    bagaimana mau bertransaksi batu mangan, saya punya lokasi tapi tidak tau prosedur perijinan, taunya beres aja, hubungi 085378088569, ariansa

FeedBerlangganan Via RSS FEED

Info Artikel Terbaru Via Surel :