“Islam Ekstrim itu Ciptaan Imperialisme Barat”

Garry Leech, seorang jurnalis independen dan penulis sejumlah buku tentang perjuangan keadilan global, berpendapat bahwa imperialisme barat adalah satu penyebab munculnya fundamentalisme Islam di panggung dunia.

“Intervensi barat di Timur Tengah sejak beberapa abad lalu untuk mengamankan akses terhadap cadangan minyak di kawasan ini telah menciptakan lingkungan yang pas bagi fundamentalis Islam untuk memanfaatkan sentimen anti-barat untuk seluruh dunia Islam bersama dengan kelompok ekstrimis yang sudah ada,” tulis Garry dalam sebuah artikel di counterpunch.org, Rabu (30/3).

Kata Garry, salah satu kelompok teroris paling terkenal hari ini, Negara Islam (ISIS), muncul dari situasi kacau pasca Amerika Serikat melakukan invasi ke Irak tahun 2003 lalu.

Dalam artikel berjudul Islamic Extremism is a Product of Western Imperialism, Garry menelusuri intervensi imperialis Barat di Timur Tengah. Mulai dari Masuknya Inggris di akhir abad ke-19 seiring dengan penemuan minyak di Iran. Kemudian bagaimana barat, khususnya AS dan Inggris, menggulingkan pemerintahan Nasionalis Mossadegh di Iran karena menasionalisasi Anglo-Iranian Oil Company (APOC).

Setelah menggulingkan Mossadegh, kata Garry, barat kemudian memasang rezim diktator yang pro-barat, Shah Fahlevi. Rezim baru ini, dengan tangan besinya, membuka kembali pintu bagi perusahaan-perusahaan barat kembali ke Iran.

“Sementara kekayaan minyak mengalir hanya ke kantor orang asing dan Shah beserta kroninya, kebanyakan orang Iran sedang berjuang untuk bertahan hidup dalam kemiskinan,” tulis pengajar di Cape Breton University di Nova Scotia, Kanada ini .

Sejak itulah, kata Garry, fundamentalisme Islam mulai menunjuk imperialisme barat dan dekadensi barat sebagai penghinaan terhadap Islam dan rakyat Iran.

Selain di Iran, lanjut Gerry, ketika Soviet menyerbu Pakistan, barat mulai menggandeng kelompok militan Islam, seperti Mujahidin, untuk melawan apa yang disebut “kafir” dan “atheis”.

“Puluhan ribu direkrut dari Saudi Arabia, yang berkontribusi pada munculnya fundamentalis Islam bernama Wahabi, yang berkembang dari mazhab pinggiran menjadi dominan di Arab Saudi yang mayoritas Sunni,” jelasnya.

AS sendiri melihat pendudukan Soviet di Afghanistan dalam kacamata perang dingin dan mulai menyediakan senjata dan pelatihan kepada kelompok Mujahidin.

Selama tahun 1980, ungkap Garry, AS menyuplai kelompok Mujahidin sebanyak 8 juta USD dalam bentuk senjata. Hal tersebut memperkuat posisi kelompok fundamentalis itu. Presiden AS saat itu, Ronald Reagen, menyebut kelompok Mujahidin sebagai “pejuang kebebasan”.

“Salah orang Mujahidin peneriman bantuan AS adalah orang Arab bernama Osama Bin Laden,” papar Garry.

Setelah perang usai, kelompok Mujahidin inilah yang berganti menjadi Taliban. Dan kemudian membentuk pemerintahan fundamentalis di Afghanistan. Belakangan Osama Bin Laden mendirikan organisasi baru bernama Al-Qaeda.

“Pada akhirnya, intervensi barat di dunia Islam telah membantu lahirnya Al-Qaeda,” tulis Garry.

Usai serangan teroris Al-Qaeda di New York, pada 11 September 2001, meluncurkan perang melawan teror dengan menarget kelompok islam ekstrim di Afghanistan. Tetapi, pemerintahan Bush juga berusaha memanfaatkan serangan 11/9 ini untuk menggulingkan kekuasaan Saddam Huesin di Irak.

“Pejabat tinggi Bush meluncurkan propaganda besar-besaran dan misinformasi untuk menyakinkan rakyat Amerika, bahwa Saddam Husein terlibat serangan 11/9 dan terkait jaringan Al-Qaeda, dimana dua-duanya tidak benar,” jelas Garry.

Bush juga menuding rezim Saddam punya senjata pemusnah massal. Belakangan, tudingan ini tidak terbukti. Singkat cerita, dengan berbagai dalih yang dibuat-buat, AS melancarkan invasi ke Irak pada tahun 2003.

“Setahun kemudian (setelah invasi), jajak pendapat nasional menunjukkan bahwa 71 persen rakyat Irak melihat AS sebagai penjajah ketimbang sebagai pembebas,” ungkap Garry.

Menurut Garry, penduduk militer AS di Irak telah melahirkan pemberontakan. Sebelum invasi AS, kata Gerry, tidak ada kelompok Islam ekstrim di Irak. Tetapi situasi kacau pasca invasi telah membuka pintu bagi masuknya Al-Qaeda.

Dan kita tahu, Al-Qaeda cabang Irak inilah yang kelak menyatakan dirinya sebagai Negara Islam (ISIS). Intervensi barat di Suriah, yang tujuannya menggulingkan pemerintahan nasionalis-sekuler Bashar Al-Assad, juga melahirkan banyak kelompok fundamentalis Islam, seperti Jabhat al-Nusra, ISIS, dan lain-lain.

Juga intervensi barat terhadap Libya di tahun 2011. AS bersekutu dengan Al-Qaeda dalam menggulingkan pemerintahan Khadafi di Libya. Sekarang ini, Libya dikoyak oleh perang dan bom bunuh diri yang dilakukan kelompok militan Islam.

“Sekali lagi, tindakan imperialis barat di Timur Tengah telah membangkitkan ekstimisme Islam. Jadi, lahirnya Negara Islam (ISIS) bukanlah hal mengejutkan bagi siapapun,” terang Garry.

Yang menarik, bagi Garry, setiap kelompok fundamentalis yang dilahirkan oleh imperialisme barat selalu lebih ekstrim dari kelompok sebelumnya. Dia mencontohkan, Al-Qaeda dan Taliban lebih lebih ekstrim ketimbang rezim fundamentalis di Iran pasca Shah. Kemudian Negara Islam (ISIS) lebih ekstrim ketimbang Al-Qaeda.

Pertanyannya, apakah intervensi imperialisme barat selanjutnya akan melahirkan kelompok fundamentalis yang lebih ekstrim dan lebih reaksioner lagi?

Raymond Samuel

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut