Juni, Bulan Bung Karno

SETELAH sekian lama coba dihilangkan dari sejarah, terutama ketika rejim Orde Baru berkuasa, kini nama Bung Karno kembali mulai terangkat. Bahkan, pada bulan juni ini, seperti juga bulan Juni sebelumnya, ada banyak organisasi, perkumpulan, ataupun partai politik yang berniat merayakannya sebagai “Bulan Bung Karno”.

Kita patut mengapresiasi usaha-usaha tersebut. Karena, bagaimanapun, kita tidak bisa berbicara Indonesia tanpa berbicara Bung Karno. Dalam sejarah perjuangan melawan kolonialisme dan mencapai Indonesia merdeka, Soekarno adalah orang yang telah mengabdikan seluruh kehidupannya untuk perjuangan tersebut. Dan tentu saja sangat aneh, jika orang yang namanya selalu dikenang sebagai proklamator dalam setiap peringatan 17 Agustus 1945, tetapi tidak mendapat tempat khusus dalam sejarah bangsa Indonesia.

Hanya saja, terlepas siapapun dan golongan politik manapun yang terlibat dalam peringatan bulan Juni sebagai bulan Bung Karno, kita berharap bahwa peringatan itu tidak hanya sekedar sebagai seremoni belaka dan berakhir tanpa ingatan sedikit pun kepada nilai-nilai kepahlawanan dan gagasan dari tokoh yang bersangkutan. Perayaan seremonial sah-sah saja. Akan tetapi, ada hal yang lebih penting, yaitu bagaimana mengambil semangat Bung Karno sebagai api pembakar semangat untuk perjuangan rakyat Indonesia sekarang ini; adalah lebih penting untuk melanjutkan cita-cita perjuangan Bung Karno yang belum selesai. Bukankah Bung Karno pernah mengatakan: “Revolusi belum selesai.”

Gerakan pembebasan nasional telah melahirkan pejuangnya yang terkemuka, yaitu Bung Karno. Adalah penting, dan tentu saja ini menjadi kewajiban, dalam upaya membangkitkan kembali semangat pembebasan nasional, maka perlu dibangkitkan pula ingatan sejarah rakyat atau bangsa Indonesia mengenai sejarah perjuangan di masa lalu. Dan, dalam bagian itu, adalah penting pula untuk mengingat kembali para tokoh-tokohnya: Bung Karno, Bung Hatta, Amir Sjarifuddin, Tan Malaka, Sjahrir, dan lain-lain.

Dalam kancah perjuangan itu, Bung Karno telah melahirkan begitu banyak gagasan-gagasan politik dan strategi perjuangan. Sebut saja; Pancasila, Marhaenisme, Persatuan Nasional, Sosialisme Indonesia, dan lain-lain. Kita perlu menggali kembali gagasan-gagasan politik atau fikiran-fikiran Bung Karno tersebut, bukan untuk tujuan gagah-gagahan atau fanatisme buta, melainkan untuk mengambil hal-hal yang relevan dalam teori-teori tersebut untuk dipergunakan dalam melawan penjajahan asing atau imperialisme saat ini.

Sekarang ini, dari sosok pemimpin nasional yang ada sekarang, kita hampir tidak menemukan satupun sosok yang pantas dijadikan panutan, apalagi menjadi inspirasi dalam perjuangan nasional untuk melawan penjajahan asing. Kekosongan figur bangsa ini, apalagi bagi bangsa yang sedang berjuang melawan penjajahan asing, akan menyulitkan penyatuan seluruh kekuatan nasional. Oleh karena itu, sangat pantas dan relevan pula untuk menjadi Bung Karno sebagai icon perjuangan nasional melawan penjajahan asing saat ini.

Dan, supaya semangat dan gagasan-gagasan Founding Father tetap tertancap di setiap hati dan fikiran generasi baru, maka sudah saatnya kurikulum di sekolah-sekolah dan Universitas mengulas fikiran-fikiran para founding father, seperti Bung Karno, Bung Hatta, Amir Sjarifoeddin, Sjahrir, Tan Malaka, Jend Soedirman, dan lain-lain.

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut