Jose ‘Pepe’ Mujica, Presiden Yang Hidup Sangat Sederhana

Sebagian besar Presiden di dunia tinggal di Istana.  Atau, kalau tidak, dia hidup dalam sebuah rumah yang menyerupai istana. Tetapi, jauh di Amerika Latin sana, ada seorang Presiden yang memilih tinggal di rumah sederhana.

Dia adalah Jose “Pepe” Mujica, Presiden Uruguay. Sejak menjadi Presiden Uruguay, Pepe Mujica memilih tinggal di rumahnya di pinggiran kota Montevideo. Di rumahnya itu tidak ada pelayan. Hampir semua pekerjaan rumahnya, seperti memasak, dikerjakan sendiri. Bahkan, rumah Presiden Uruguay ini hanya dijaga oleh dua penjaga dan seekor anjing berkaki tiga, Manuela .

Di luar rutinitasnya sebagai Presiden, Pepe Mujica sering terlihat di lahan pertanian miliknya. Di situ ia mengembangkan peternakan kecil-kecilan. Peternakan itu sudah digelutinya sejak 20-an tahun lalu. Hobi Presiden ini memang bertani dan beternak. Tapi, jangan salah, Mujica adalah seorang vegetarian.

Selama menjadi Presiden, Pepe Mujica menyumbangkan 90 persen gajinya untuk menambah anggaran sosial negerinya. Pada tahun 2010, kekayaannya pribadinya tak lebih dari 1800 AS dollar atau sekitar Rp 18 Juta. Namun, jika ditambah dengan aset pertanian milik istrinya, maka total kekayaannya mencapai Rp 2 milyar. Ia juga hanya menggunakan Volkswagen Beetle keluaran 1987 sebagai kendaraan pribadinya.

“Dia hanya seperti orang biasa. Anda akan melihatnya bersepeda, mengendarai motor, atau berada di sela-sela tanaman. Dia akan fokus untuk membantu kaum miskin, mengulurkan tangan untuk mereka,” kata María del Rosario Corbo, 44 tahun, tetangga Mujica.

BBC menyebut Mujica sebagai Presiden termiskin di dunia. Tetapi Mujica sendiri merasa dirinya tak miskin. Mengutip filsuf Romawi Seneca, Mujica mengatakan, orang miskin adalah mereka yang bekerja hanya untuk menjaga gaya hidup mewahnya dan selalu menginginkan lebih.

Jose Mujica adalah salah satu pemimpin Gerakan Pembebasan Nasional Tupamaro (MLN-T). Ia menghabiskan 14 tahun di penjara karena aktivitas gerilya melawan kediktatoran.

Dalam kurun waktu, Mujica pernah merasa penyiksaan paling keji: penjara isolasi. Gara-gara diisolasi, hampir setahun ia tak pernah mandi. Di dalam penjara isolasi itu, Mujica harus berbagi roti dengan tikus dan katak. “Hanya tikus dan katak itu yang bisa jadi kawan saya,” kenangnya.

Berhadapan dengan siksaan berat itu, banyak kawan seperjuangannya yang mengalami gangguan mental. Salah satunya, Henry Engler, seorang mahasiswa kedokteran, yang akhirnya dibebaskan tahun 1985.

Beratnya penyiksaan dan tekanan tak membuat Mujica patah semangat. Ia juga tak lantas besar kepala sebagai revolusioner hebat. Jauh dari itu, Pepe Mujica justru memahami makna kehidupan dan kesederhanaan.

Keluar dari penjara, Pepe Mujica tetap tergabung dalam barisan perlawanan. mengorganisir gerakan perlawanan rakyat yang bernama Gerakan Partisipasi Kerakyatan (MPP), sebuah faksi utama dalam Frente Amplio, nantinya. Frente Amplio sendiri terlibat dalam merespon politik elektoral Uruguay.

Frente Amplio mengusung Mujica sebagai anggota parlemen. Ada cerita lucu sekaligus tragis ketika Pepe Mujica menjadi anggota parlemen. Petugas parkir gedung parlemen sangat kaget ketika melihat Mujica datang hanya mengendari motor vespa.

Begitu Frente Amplio berhasil merebut kekuasaan di tahun 2005, Pepe Mujica ditunjuk sebagai Menteri Pertanian, Peternakan, dan Perikanan. Saat itu, Presidennya bernama Tabare Vasquz, seorang dokter rakyat dan aktivis Frente Amplio.

Pada pemilu Uruguay tahun 2009, Pepe Mujica maju sebagai kandidat Frente Amplio. Frente Amplio sendiri merupakan partai hasil penyatuan beragam kelompok kiri, seperti elompok-kelompok kiri—sosialis, trotskys, komunis, Kristen demokrat. Partai ini resmi berdiri tahun 1971.

Sejak awal pendiriannya, FA menyatakan dirinya bukan sebagai partai perjuangan, bukan sekedar alat elektoral. FA mengorganisir komite-komite akar rumput (comites de base) untuk memperkenalkan model demokrasi partisipatoris dan kerakyatan.

Ketika masih kampanye pemilu, pesaing Mujica dari partai borjuis,  Luis Alberto Lacalle, menghina Mujica yang tinggal di dalam rumah kecil dan menyamakannya dengan gua. Tetapi Mujica tak gentar. Ia berpesan kepada istrinya, Lucía Topolansky, yang juga bekas gerilyawan Tupamaros, untuk tetap sederhana dalam hidup.

Pepe Mujica memang tidak mengambil gaya politik seradikal Hugo Chavez di Venezuela atau Evo Morales di Bolivia. Ia lebih menekankan gaya politiknya mendekati Lula Da Silva, Presiden Brazil dua periode dari Partai Buruh, yang dikenal dengan langkah-langkah moderatnya.

Pepe Mujica memang tinggal jauh di seberang lautan sana. Namun, di jaman yang katanya serba uang ini, tak ada salahnya menjadikan dia sebagai salah satu contoh pejabat politik yang patut dihargai.

Raymond Samuel

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut
  • tuhan

    kapan ada orang seperti ini di Indon?