Jose Mujica, Presiden Yang Sederhana Dan (Juga) Radikal

Inilah zaman berkuasanya uang. Kekuasaan pun diukur berdasarkan uang. Jadi, kalau anda berkuasa, tetapi tidak punya uang, pasti dianggap aneh. Penguasa kok tidak punya uang!

Alhasil, gambaran kita tentang penguasa selalu identik dengan gaya hidup mewah. Tinggal di istana atau rumah mewah. Punya mobil mewah dan pesawat pribadi. Di badannya banyak melekat barang dan aksesoris yang mewah. Kemana-mana selalu dikawal oleh banyak orang. Gaji dan tabungannya tidak habis tujuh turunan.

Tetapi di Uruguay, sebuah negara di Amerika Latin, seorang Presiden melakoni hidupnya dengan sangat sederhana. Dia tidak tinggal di istana ataupun rumah mewah, melainkan memilih tinggal di rumahnya yang dikelilingi pertanian. Bahkan, jalan menuju ke rumahnya belum beraspal.

Nama Presiden itu adalah Jose Mujica. Media-media internasional menjulukinya “Presiden termiskin di dunia”. Julukan itu muncul lantaran Mujica nyaris tidak punya harta. Pada tahun 2010, kekayaannya pribadinya tak lebih dari 1800 AS dollar atau sekitar Rp 18 Juta. Begitu menjadi Presiden, Mujica menyumbangkan 90% gajinya setiap bulan, yang berjumlah 12.500 dollar AS, untuk program sosial.

Rumah Presiden Mujica, yang dikelilingi pertanian itu, juga minim penjaga. Hanya dua orang polisi dan seekor anjing berkaki tiga bernama Manuela yang selalu berjaga di pintu masuk pertaniannya. Kemana-mana ia memilih penerbangan klas ekonomi. Juga lebih memilih sebuah Volkswagen Beetle keluaran 1987 sebagai kendaraan pribadinya.

Kesederhanaan hidup itulah yang membuat Mujica termasyhur di seluruh dunia. Terlebih lagi, pada akhir Desember 2013 lalu, media internasional berhasil mengabadikan gambarnya, yang hanya mengenakan celana puntung dan sandal saat melantik Menteri Ekonomi-nya.

Ini Soal Pandangan Hidup

Gaya hidup Mujica memikat banyak orang. Termasuk banyak orang di Indonesia. Di negeri kita, Indonesia, pejabat sepantaran Mujica nyaris tidak ada. Yang banyak: pejabat yang berlomba-lomba menumpuk harta dan memamerkanya di hadapan rakyat yang miskin.

Tak heran, banyak orang Indonesia yang mulai muak dengan gaya hidup mewah dan elitis pemimpinnya. Mereka memimpikan para pemimpin yang sederhana dan merakyat.

Tetapi para politisi di negeri ini tidak kehabisan akal. Dengan bantuan media massa, mereka memoles diri supaya tampak sebagai pemimpin sederhana dan merakyat. Makanya, jangan heran, akhir-akhir ini banyak pemimpin kita tiba-tiba berubah gaya hidup: ada pengusaha mebel yang langsung hidup sederhana, ada bos media besar yang tiba-tiba rela naik KRL ekonomi, ada Walikota yang memilih naik angkot ke kantornya, dan lain-lain.

Benarkah mereka berubah gaya hidup? Tunggu dulu. Tidak sedikit diantara mereka yang hanya berpura-pura—istilahnya politik pencitraan—agar terlihat populis dan dicintai rakyat. Kepentingan mereka jelas: menonjolkan kesederhanaan guna mengambil hati rakyat agar mereka bisa berkuasa. Saya menyebut gaya politisi semacam ini sebagai “populisme kanan”.

Lantas, apa yang membedakannya dengan Mujica? Untuk diketahui, Mujica sangat menolak label “Presiden termiskin di dunia” yang disematkan di dirinya. Menurutnya, anggapan miskin dan tidak itu bergantung dari pandangan hidup kita.

Kepada Aljazeera ia menjelaskan, “defenisiku mengenai miskin adalah mereka yang kebutuhannya selalu berlebih. Karena kebutuhannya terlalu berlebih, maka ia tidak pernah puas.” Jadi, bagi Mujica, mereka yang selalu merasa miskin adalah mereka yang memaksa berkonsumsi di luar kebutuhannya. Hal ini mengingatkan kita pada peringatan Gandhi puluhan tahun yang lalu, bahwa “bumi ini sebenarnya cukup, bahkan berlebih, untuk memberi makan semua penduduk bumi. Namun menjadi tidak cukup untuk memberi makan satu orang yang rakus.”

Dan bagi Mujica, yang juga seorang marxis, penyakit ‘kebutuhan tanpa batas’ itu ditularkan oleh kapitalisme. Kapitalisme-lah yang memaksa orang menyembah logika profit, yakni menumpuk keuntungan tanpa batas. Alhasil, manusia menjadi makhluk paling serakah. Kapitalisme pula yang memaksa manusia sejak lahir hingga jadi bangkai untuk menyembah konsumtifisme. Bahkan, manusia dipaksa berkonsumsi di luar kebutuhan dan kemampuannya.

Karena itu, Mujica memilih hidup sederhana. Kebutuhan hidupnya pun sangat sederhana. Makanya, begitu menjadi Presiden, ia tidak mau mengambil gaji berlebih. Ia hanya mengambil sebagian kecil dari gajinya sesuai dengan kebutuhannya. Sisanya ia sumbangkan ke partai dan program sosial.

Jadi, bagi Mujica, hidup sederhana adalah filosofi hidupnya. Jauh sebelum menjadi Presiden, ia memang sudah sangat sederhana. Ketika dirinya menjadi anggota parlemen, Mujica hanya menggunakan motor vesva ke kantornya.

Di Forum PBB, Mujica telah mengutuk konsumerisme dan penghambaan terhadap pasar. “Kami telah berkorban untuk Tuhan lama yang tidak nyata. Sekarang kami menempati sebuah candi tuhan Pasar,” kata Mujica. Maksudnya, di masa lalu manusia telah berkorban untuk tuhan lama yang tidak nyata, sementara sekarang ini manusia menyembah tuhan baru: pasar.

Jadi, kesederhanaan Mujica berakar dari pandangan dunia alias ideologi yang dianutnya. Bagi Mujica, jalan hidup paling ideal bagi seorang pemimpin politik adalah hidup seperti kehidupan mayoritas rakyatnya. Tidak sepantasnya seorang pemimpin politik, yang notabene pelayan bagi rakyatnya, menggeluti jalan hidup bermewah-mewahan dan elitis.

Seorang Gerilyawan Marxis

Pepe Mujica adalah seorang marxis. Sejak muda, ia bercita-cita menghapuskan kapitalisme. Baginya, kapitalisme telah memperbudak manusia di bawah pemujaan harta benda.

Pada tahun 1960-an, di saat Mujica masih muda, berdiri organisasi marxis bernama Gerakan Pembebasan Nasional Tupamaros (MLN-Tupamaros). Pendirinya bernama Raúl Sendic, seorang marxis dan pernah menjadi aktivis partai sosialis. Nah, Mujica menjadi bagian dari Tupamaros ini.

Dalam perjuangannya, Tupamaros memadukan antara propaganda politik dan taktik gerilya kota. Aksi-aksi Tupamaros terbilang sangat populis. Misalnya, mereka merampok truk pengangkut makanan dan membagi-bagikannya kepada rakyat miskin. Mereka merampok dana untuk mendanai pergerakan. Mereka menculik bos perusahaan guna memaksa mereka memenuhi tuntutan buruh. Mereka juga menculik politisi korup dan pengusaha asing untuk mendesakkan tuntutan politik mereka. Tak jarang pula, mereka membajak stasiun radio dan menyebarkan propagandanya. Lantaran itu, banyak orang Uruguay menyebut Tupamaros sebagai “gerilyawan Robin Hood”.

Namun, aksi-aksi Tupamaros itu mengusik kepentingan rezim berkuasa di Uruguay. Upaya menindas pemberontak Tupamaros, dengan melibatkan operasi militer, pun dilakukan. Banyak aktivis Tupamaros yang tertangkap atau tertembak mati.

Tahun 1970-an, ketika Mujica dan kawan-kawan sedang menggelar rapat, Polisi datang menyergap. Bunyi tembakan pun menyalak. Mujica terkena enam peluru saat itu. Tak hanya itu, rezim berkuasa mengirim Mujica ke penjara isolasi selama 14 tahun.

Tahun 1985, Mujica menghirup udara bebas. Ia tidak menyerah; tahun itu juga ia mendirikan organisasi perlawanan bernama Gerakan Partisipasi Kerakyatan (MPP). Kelak, organisasi ini akan bergabung dalam Frente Amplio, sebuah koalisi lebar antara partai-partai marxis, kristen demokrat, dan sosial-demokrat.

Frente Amplio, sejak berdirinya di tahun 1971, menegaskan komitmen untuk membentuk pemerintahan demokratis-kerakyatan. Kendati banyak bertempur di arena elektoral, Frente Amplio tidak menapikan pembangunan gerakan rakyat. Partai ini mendirikan Komite Basis dan mempraktekkan demokrasi partisipatoris. Frente Amplio juga berhasil merebut kekuasaan di tingkat kotamadya dan di sana mereka menerapkan model anggaran partisipatif.

Tahun 1994 digelar pemilu. Frente Amplio berpartisipasi di dalamnya. Saat itu, Jose Mujica terpilih sebagai anggota parlemen. Semasa menjadi anggota parlemen, Mujica menjadi corongnya rakyat miskin dan mereka yang tak bersuara.

Tahun 2005, Frente Amplio berhasil merebut kekuasaan melalui pemilu. Tabare’ Va’squez, seorang bekas dokter, menjadi Presiden. Saat itu Mujica dipercaya sebagai Menteri Pertanian, Peternakan, dan Perikanan. Ini sesuai dengan keahliannya. Tahun 2008, setelah tak lagi menjadi Menteri, ia kembali terpilih sebagai senator.

Yang patut dicatat, keterlibatan Mujica dalam gerakan politik didorong oleh cita-cita ideologis. Ia menjadi aktivis Tupamaros, dan kemudian bergabung dengan Frente Amplio, karena sebuah cita-cita politik ideal: Sosialisme!

Cita-Cita Sosialisme

Jose Mujica terpilih sebagai Presiden Uruguay pada tahun 2009 lalu. Ia meraup 52% suara. Begitu terpilih, Ia menjanjikan akan melanjutkan kebijakan rezim kiri sebelumnya, Tabare Va’squez, yakni membangun Uruguay yang lebih demokratis dan berkeadilan sosial.

Dalam sebuah wawancara dengan CNN, Mujica menegaskan komitmennya untuk membangun sosialisme. “Aku percaya pada sosialisme, tapi bukan statisme,” terangnya. Ia mengaku lebih dekat dengan model “Lula Da Silva” di Brazil ketimbang gaya radikal Hugo Chavez di Venezuela.

Sejak berkuasa di tahun 2004, Frente Amplio memang telah membawa banyak perubahan di Uruguay. Frente Amplio banyak menekankan pada penghapusan kemiskinan, perbaikan kesehatan dan pendidikan, dan mempromosikan demokrasi partisipatif.

Di bawah Tabare Va’squez, yang berkuasa dari 2004-2010, kemiskinan berkurang dari 32% menjadi 20%. Sedangkan kemiskinan ekstrem berkurang dari 4% menjadi 1,5%. Selain itu, dibawah program Rencana Sosial Darurat, pemerintah menggelontorkan dana besar-besaran untuk perawatan kesehatan, perumahan, pangan, dan lapangan pekerjaan. Termasuk program pembagian laptop dengan koneksi internet ke semua murid sekolah dasar. Tak hanya itu, pemerintahan Va’squez juga menerapkan pajak progressif.

Di bawah Mujica, Uruguay berjuang keras menghapus kemiskinan ekstrem. Tak hanya itu, sebagai petani, Mujica berkomitmen membangun desa. Dia juga fokus untuk membangun perumahan bagi kaum miskin. Sementara program laptop gratis sudah diperluas hingga sekolah menengah pertama. Angka kematian bayi turun dua point. Angka pengangguran juga turun hingga 5,5% atau 6%.

Hingga sekarang, pemerintah juga mengontrol harga kebutuhan pokok; tidak diserahkan ke mekanisme pasar. Sektor ekonomi strategis, seperti energi dan telekomunikasi, sudah berada di bawah kendali negara.

Di aspek lain, Mujica juga telah mencatat kemajuan penting. Misalnya, untuk memerangi perdagangan ilegal narkoba, Uruguay telah menjadi negara pertama di dunia yang melegalkan ganja. Tak hanya itu, Uruguay telah melegalkan aborsi dan perkawinan sejenis.

Ini pula yang membedakan Mujica dengan populis kanan. Banyak populis kanan—baik yang chauvinis maupun pendukung pasar bebas—memilih gaya hidup sederhana, tetapi kebijakannya sangat menyakiti rakyat.

Contohnya: Boediono. Gaya hidup Wapres Boediono memang sangat sederhana. Namun, ketika menempati posisi penting di pemerintahan, baik saat menjadi Menteri maupun Wakil Presiden, kebijakannya seringkali mengorbankan rakyat banyak, seperti privatisasi BUMN/layanan publik, penghapusan subsidi, liberalisasi perdagangan, dan lain-lain.

Sebagai pribadi, Boedino mungkin terkenal jujur. Tetapi, selaku pemangku kebijakan, ia membiarkan perampokan uang negara atas nama bantuan likuiditas ataupun bailout, seperti kasus BLBI dan Bank Century.

Nah, karena pemilu 2014 sudah mendekat, rakyat harus hati-hati dengan jebakan populis kanan. Mereka bisa berasal dari orang yang tampak lugu, tulus, dan sederhana. Orang-orang yang lugu, yang tidak punya agenda politik yang jelas, justru sangat potensial ditumpangi oleh agenda dari kekuatan kapitalis global/imperialisme.

Ferry Satmoko

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut
  • Penyair Kesepian

    mujica adalah seorang rakyat makanya ia mengerti perasaan mereka dan berbicara dengan bahasa mereka saat dia diberi kepercayaan untuk memimpin mereka