Jokowi Dan Puisi Wiji Thukul

Dari sedikit penyair Indonesia yang begitu lantang menentang kediktatoran Orde Baru, ada satu nama yang tak terlupakan: Wiji Thukul.

Dia adalah penyair yang memilih menggunakan puisi sebagai senjata untuk melukiskan kenyataan dan sekaligus menyerukan perlawanan untuk mengubah keadaan. Puisi-puisinya menuntun orang mengenali keadaan dan sekaligus menggerakkannya untuk melawan. Tak heran, Orba sering mencap Thukul sebagai ‘penyair penghasut’.

Kekuatan puisi Thukul terletak pada pilihan kata-katanya: sederhana, lugas, penuh gelora, propagandis, membakar, menghentak, menunjuk, dan sekaligus menghunjam. Tak mengherankan, puisi-puisi Wiji Thukul nampak bak peluru yang menghunjam jantung kekuasaan Orba kala itu.

Itu pula yang membuat puisi-puisi Thukul banyak mengilhami kaum pergerakan hingga sekarang ini. Frasa “Hanya Satu Kata: Lawan!” menjadi slogan dalam berbagai aksi massa yang digelar oleh sektor rakyat tertindas.

Puisi Thukul juga mengilhami Presiden kita yang baru dilantik, Joko Widodo alias Jokowi. Dalam sebuah bincang-bincang dengan wartawan, Jokowi mengaku suka membaca karya puisi Wiji Thukul. Bahkan, ada satu puisi Thukul yang paling disukai oleh Jokowi, yakni puisi berjudul “Peringatan”.

Peringatan

oleh :Wiji Thukul

Jika rakyat pergi
Ketika penguasa pidato
Kita harus hati-hati
Barangkali mereka putus asa

Kalau rakyat sembunyi
Dan berbisik-bisik
Ketika membicarakan masalahnya sendiri
Penguasa harus waspada dan belajar mendengar

Bila rakyat tidak berani mengeluh
Itu artinya sudah gawat
Dan bila omongan penguasa
Tidak boleh dibantah
Kebenaran pasti terancam

Apabila usul ditolak tanpa ditimbang
Suara dibungkam kritik dilarang tanpa alasan
Dituduh subversif dan mengganggu keamanan
Maka hanya ada satu kata: lawan!

(Solo,1986)

Sesuai dengan judulnya, puisi ini adalah semacam peringatan kepada penguasa yang selalu berusaha membungkam suara rakyatnya. Pada saat itu, tentu saja, puisi ini ditujukan pada rezim Orba.

Pada tanggal 17 November lalu, Presiden Jokowi mengumumkan sebuah kebijakan yang sangat pahit bagi rakyat: Kenaikan harga BBM. Kebijakan ini memicu aksi protes di mana-mana. Tak hanya mahasiswa, berbagai sektor rakyat juga terlibat dalam aksi protes ini.

Pada intinya, para pemrotes menilai kenaikan harga BBM akan semakin membebani kehidupan rakyat. Selain itu, para pemrotes mengendus adanya agenda imperialistik di balik kebijakan ini, terutama terkait dengan egenda liberalisasi sektor hilir minyak dan gas dalam negeri.

Sayang, Jokowi tidak belajar mendengar. Ia memilih ‘cuek’ dengan aksi-aksi protes tersebut. Malahan, sejumlah orang di pemerintahannya melontarkan pernyataan melecehkan terkait aksi tersebut. Salah satunya adalah Wakil Presiden Jusuf Kalla. Di hadapan perwakilan Uni Eropa, di Jakarta, tanggal 19 November 2014, Jusuf Kalla bilang, “Saya yakin (unjuk rasa kenaikan BBM bersubsidi) akan berhenti dalam satu minggu ini.”

Jelas sekali, ucapan JK itu menandakan bahwa ia hanya menganggap aksi protes itu sebagai ‘angin lalu’ saja. Ya, tidak usah ditanggapi dan dihiraukan, toh akan berhenti juga. Ia tidak menganggap aksi protes itu sebagai bentuk penyuaraan usulan dan kritik dari rakyat.

Padahal, ketika baru saja dilantik sebagai Presiden, Jokowi mengatakan, “Saya akan berdiri di bawah kehendak rakyat dan Konstitusi.” Kenaikan harga BBM jelas tidak melalui konsultasi dengan rakyat. Kita tahu, kenaikan harga BBM lebih banyak karena masukan segelintir ahli di lingkaran kekuasaan dan tekanan dari lembaga asing, khususnya IMF dan Bank Dunia.

Selain itu, pendekatan rezim Jokowi-JK terhadap aksi protes ini tidak berbeda jauh dengan rezim sebelumnya. Malahan, dalam pengamatan saya, rezim Jokowi-JK lebih represif. Sejak meletusnya aksi protes menolak kenaikan harga BBM, ada banyak kasus represifitas terhadap massa aksi, seperti di Makassar, Jogjakarta, Riau, Bengkulu, Sukoharjo, Kendari, Maluku, dan lain-lain.

Dalam banyak kejadian, pendekatan polisi dalam menangani aksi protes juga sangat represif. Tidak hanya melakukan pembubaran, tapi juga melakukan penganiayaan dan penangkapan. Alhasil, meski usia pemerintahan Jokowi-JK belum seumur jagung, jumlah mahasiswa yang ditangkap saat aksi protes mencapai puluhan.

Yang cukup mencengangkan, kunjungan Jokowi ke sejumlah daerah, terutama di Riau dan Bengkulu, juga diwarnai represi terhadap demonstran yang berusaha menyuarakan aspirasi mereka. Di Riau, demonstran dikejar dan dipukuli hingga ke dalam rumah ibadah. Di Bengkulu, dua aktivis Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) ditangkap saat menyiapkan aksi protes.

Saya melihat, pendekatan represif aparat kepolisian terhadap aksi protes BBM akhir-akhir ini menunjukkan bahwa pemerintahan sekarang belum terbuka menerima usulan dan kritik.

Yang paling menyedihkan, pendekatan represif aparat kepolisian itu telah memakan korban jiwa. Hari Kamis (27/11) lalu, seorang warga Makassar, Muhammad Arif (17), tewas di tangan aparat keamanan saat terlibat dalam aksi protes kenaikan harga BBM di depan kampus Universitas Muslim Indonesia (UMI) Makassar.

Tanggapan Presiden Jokowi atas kejadian ini sangat ironis. Dilapori bahwa demonstrasi menolak kenaikan harga BBM memakan korban jiwa di Makassar, Jokowi bilang, “Itu kan sebenernya urusan di kepolisian.” Komentar Jokowi ini menunjukkan bahwa ia tidak peduli dengan soal demokrasi dan hak rakyat untuk menyampaikan pendapat.

Padahal, selain menyebabkan korban tewas, aksi penolakan kenaikan harga BBM di Makassar juga berbuntut pada pemecatan alis drop-out (DO) terhadap 4 orang mahasiswa. Bukankah ini bentuk dari pembungkaman terhadap mereka yang melakukan kritik?

Ini memang sangat disayangkan. Dalam puisi peringatan, yang sangat disukai oleh Presiden Jokowi, Thukul bilang: “Dan bila omongan penguasa/ Tidak boleh dibantah/ Kebenaran pasti terancam.” Saya tidak tahu, apakah Presiden Jokowi mencerna makna puisi ini atau tidak. Entahlah.

Yang jelas, puisi “peringatan” karya Wiji Thukul ini sekarang menjadi peringatan pula bagi pemerintahan Jokowi-JK: Apabila usul ditolak tanpa ditimbang/
Suara dibungkam kritik dilarang tanpa alasan/ Dituduh subversif dan mengganggu keamanan/ Maka hanya ada satu kata: lawan!

Mahesa Danu

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut