Jokowi Dan Ide “Car Free Night”

Kembang api bersemburat di langit bundaran Hotel Indonesia. Segala harapan dan kegembiraan tertumpah di sana. Ada ratusan ribu orang yang datang dan rela berhimpit-himpitan di sana.

Perayaan pergantian tahun di Jakarta memang agak berbeda dengan tahun sebelumnya. Untuk tahun ini, Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo memberlakukan “Car Free Night”. Tak hanya itu, Pemda DKI Jakarta juga menyiapkan 16 panggung untuk menghibur rakyat Jakarta.

Begitu malam tiba, rakyat Jakarta pun mulai membludak di kawasan Monas hingga bunderan HI. Lalu, menjelang tengah malam, ada ratusan ribu orang—mungkin juga jutaan orang—sudah tumpah ruah di sepanjang Sudirman-Thamrin.

Sebuah Karnaval budaya juga digelar. Jalurnya: Balaikota Jakarta ke Bunderan HI. Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo langsung memimpin karnaval budaya itu. Tak jarang, Jokowi juga tampak di tengah-tengah lautan manusia sembari menebar senyum.

Aneka hiburan rakyat disuguhkan melalui 16 panggung itu. Ada gambang kromo, dangdut, campur sari, keroncong, musik daerah, angklung, dan lain-lain. Sedangkan di panggung utama, yang terletak di Bunderan HI, grup band Cangcuters tampil menghibur.

Sejak gelap datang, hujan mulai mengguyur Jakarta. Namun, warga tetap antusias untuk datang ke lokasi Car Free Night. Banyak diantara mereka yang tak membawa payung. Akibatnya, mereka pun basah kuyup.

Sutarman (50 tahun), warga Sunter, Jakarta Utara, tak menyangka kalau hujan deras akan mewarnai malam pergantian tahun. Dia mulai datang ke daerah HI sehabis Magrib. Ia juga memboyong istri dan dua anaknya. Tak pelak lagi, keluarga ini pun basah kuyup.

Sutarman mengaku sangat senang dengan ide Car Free Night di malam pergantian tahun. Menurutnya, semua orang terlihat “sama rata-sama rasa” ketika memasuki kawasan Sudirman-Thamrin. Tak ada mobil pribadi yang bertindak bak penguasa jalan raya.

Semua orang berjalan kaki. Hanya sepeda yang terlihat hadir di tengah-tengah massa. “Mestinya semua jalan kaki. Gak usah pake sepeda. Kalaupun ada sepeda, ya, untuk acara atraksi saja,” ujar Sutarman.

Hal serupa diakui Badrun (56 tahun), warga Jakarta yang bekerja sebagai security sebuah perusahaan. Menurut Badrun, ide Jokowi memberlakukan ide Car Free Night sangat positif. “Ini kan Gubernur turun langsung merayakan tahun baru. Sebelum-sebelumnya Gubernur cuek-cuek aja,” pungkasnya.

Bagi Badrun, apa yang dilakukan Jokowi mirip dengan Ali Sadikin di tahun 1970-an. “Ya, di jaman pak Ali Sadikin, di sini selalu digelar pesta rakyat. Ada karnaval sepanjang Thamrin dan sekitarnya. Setelah Ali Sadikin, sudah gak ada lagi pesta rakyat,” kata Badrun.

Badrun menceritakan, Gubernur DKI pasca Ali Sadikin—dari Tjokropranolo hingga Fauzi Bowo—tak begitu antusias menggelar pesta bersama rakyat menyambut pergantian tahun. Badrun pun sangat mengapresiasi kebijakan Jokowi mengembalikan tradisi Ali Sadikin.

Ya, di malam pergantian tahun, Sudirman-Thamrin kembali menjadi “Milik Rakyat”. Maklum, kawasan ini sehari-harinya lebih nampak sebagai pusat konsentrasi bisnis dan kaum elit. Ditambah lagi dengan kehadiran kendaraan pribadi yang menguasai jalanan.

Yang menarik dari “Car Free Night” adalah ide rakyat merebut kembali jalan raya. Sekalipun itu hanya terjadi beberapa jam. Jalan sendiri punya makna penting bagi rakyat. Kita tahu, hampir semua jalan raya di negeri ini, termasuk juga di negara lain, dibangun dengan uang rakyat. Artinya, jalan seharusnya milik publik.

Tetapi apa yang terjadi? Jalanan sebagai ruang milik publik makin dikuasai pribadi (terprivatisasi). Mobil pribadi, yang terkadang hanya dinaiki satu-dua orang, menguasai jalanan. Mereka terkadang lebih berkuasa ketimbang pejalan kaki yang hendak menyebrang jalan.

Dalam film “Catastroika” garapan Aris Chatzistefanou dan Katerina Kitidi diceritakan, kemunculan mobil pribadi tidak terlepas dari kebangkitan kapitalisme liberal yang melambungkan mimpi klas menengah menguasai jalan raya kemakmuran.

Jalanan menjadi ajang pamer kemewahan dan keserakahan. Ironisnya, fantasi kemewahan itu membawa petaka. Tidak sedikit orang yang tumpas di jalan karena tertabrak mobil pribadi. Hampir 1000 orang menyetor nyawa di jalanan akibat kecelakaan tiap tahunnya. Anda ingat kasus “xenia pembawa maut” di dekat Tugu Tani?

Tetapi jalan juga sarat dengan simbol politis. Ketika kekuasaan macet, maka jalan raya bisa menjadi jalur aspirasi. Orang-orang Indonesia sudah akrab dengan istilah “turun ke jalan”. Jalan menjadi tempat mengekspresikan tuntutan politik, kemerdekaan, dan kebebasan.

Karena itu, saya sangat mendukung ide “Car Free Night”. Kalau bisa “Car Free Night’ digelar tiap bulan. Lalu, pesta rakyat harus mulai disemarakkan kembali. Gebrakan Jokowi patut kita dukung.

Anna Yulianti, seorang warga Jakarta yang tertarik dengan isu-isu sosial, perempuan dan Hak Azasi Manusia. 

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut
  • bagus reportasenya.. oya subtitle film catastroika di BO kok gak ada ya setelah saya download.. bgmna cranya biar punya subtitlenya krn bhasa mreka sungguh tidak saya mengerti sama sekali..