Jenderal Nagabonar dan Konflik Agraria

Masih ingat sosok Jenderal Nagabonar? Ya, penggila film Indonesia pasti tidak asing dengan sosok pejuang dalam film Nagabonar (1987) itu. Saking melegendanya, panggilan “Jenderal Nagabonar” melekat pada pemeran Nagabonar di film itu: Deddy Mizwar.

Tahun 2007, sekuel dari film Nagabonar (1987) berhasil dibuat. Judulnya: Nagabonar Jadi 2. Pemeran sosok Nagabonar tetap di tangan Deddy Mizwar. Hanya saja konteksnya mengambil situasi Indonesia kekinian.

Ada yang menarik di film Nagabonar Jadi 2 ini. Bonaga (Tora Sudiro), anaknya Nagabonar, sudah besar dan jadi pengusaha sukses. Kebetulan dia mendapat proyek membangun resort dari investor Jepang. Masalahnya, resort itu rencananya akan dibangun lahan perkebunan bapaknya.

Di sinilah konflik muncul. Nagabonar tidak setuju. “Pohong kelapa sawit itu kutanami dengan tangaku sendiri di tanah nenekmu. Dan di sana itu ada kuburan emakmu, nenekmu dan pamanmu yang bengak si Bujang,” kata sang Jenderal Nagabonar.

Jadi singkat cerita, Nagabonar menolak perkebunannya dicaplok oleh investor. Kebun itu warisan leluhurnya, ada nilai historis di dalamnya. Juga kuburan leluhur dan orang-orang tercita di kebun itu. Dia tidak bisa menukar semua itu dengan uang.

Nah, apa yang menjadi sikap Jenderal Nagabonar di atas juga menjadi sikap banyak petani Indonesia yang hari ini menolak tanahnya dicaplok oleh investor atau proyek-proyek mengatasnamakan pembangunan. Bukan sekedar membela hak milik, tetapi juga mempertahankan keterikatan historis dan kultural.

Itu juga yang mungkin dirasakan oleh petani desa Sukamulya, kabupaten Majalengka, Jawa Barat. Mereka memprotes proyek pembangunan Bandara Internasional Jawa Barat (BIJB) karena mencaplok lahan mereka.

Memang ada tawaran bahwa tanah itu akan dibeli. Namun, seperti juga Nagabonar, soal tanah bukan sekedar ekonomis, tetapi juga ada ikatan historis, kultural dan sosial di situ.

Sayang, pemerintah tidak mau mendengar. Mereka mengirim polisi, TNI, dan Satpol PP untuk mengusir paksa petani. Ribuan petani yang berusaha bertahan dihujani dengan tembakan gas air mata. Belasan petani terluka dan 6 orang ditangkap. Miris kan?

Masih ada lagi cerita miris lainnya. Tanggal 11 Oktober lalu, terjadi benturan antara PT Pertiwi Lestari dan petani di Desa Wanajaya, Kecamatan Teluk Jambe Barat, Kabupaten Karawang. Ini buntut konflik agraria antara petani dengan perusahaan real estate itu.

Aparat keamanan, dalam hal ini Polres Karawang dan Brimob, cenderung membela kepentingan perusahaan. Mereka turut melakukan intimidasi dan teror terhadap petani. Akibatnya, sejak pertengahan Oktober lalu, ratusan petani Karawang mengungsi ke Jakarta untuk mencari perlindungan.

Apa hubungan dua kasus itu dengan Nagabonar?

Anda tahu, sejak 2013 lalu, Jenderal Nagabonar sudah jadi Wakil Gubernur Jawa Barat (Jabar). Tentu saja, dengan posisinya sebagai orang nomor dua di Jabar, Nagabonar bisa berbuat banyak terhadap petani konflik agraria.

Tetapi apa yang sudah dilakukannya?

Terkait nasib petani di Desa Sukamulya, Nagabonar menuding ada pihak ketiga yang menghasut warga. “Mereka (warga) mau menjual tanahnya tapi dihalang-halangi. Pasti ada tokoh intelektualnya,” ucap sang Jenderal Nagabonar, seperti dikutip jpnn.com, Jumat (18/11/2016).

Jawaban Sang Jenderal Nagabonar sangat mengecewakan. Dia mewakili pernyataan lazim birokrat selama ini abai mendengar suara jeritan rakyatnya. Itu pernyataan “established regime” yang alergi terhadap kritik dan protes apapun.

Terhadap nasib petani Karawang, sang Jenderal nyaris tidak pernah berkomentar. Mungkin Beliau tidak tahu kejadian itu. Anggap saja demikian. Tapi kan ini zaman banjir informasi. Kalau Jenderal Nagabonar sampai kurang informasi tentang rakyat di kampungnya, “apa kata dunia”?

Mungkin ada yang menganggap artikel ini berlebihan. Terlalu mengaitkan aktor dengan perannya di film. Tetapi, seorang aktor ternama pernah berujar, “setiap aktor harus menghayati dan menjiwai betul perannya.” Dan, di mata saya, Deddy Mizwar benar-benar menghayati dan menjiwai Nagabonar.

Tetapi kalau tidak, berarti Nagabonar sudah mati. “Matilah kau dimakan cacing, Naga!”

Arif Wikana, penggemar film Nagabonar (1987)

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut