Jejak Perjuangan Politik Rasuna Said

Nama Rasuna Said memang tidak asing. Di Jakarta, dia menjadi nama jalan utama yang dilalui ratusan ribu orang per hari. Namanya juga hadir dalam deretan nama-nama Pahlawan Nasional.

Sayang, meski namanya populer, tetapi sosok dan perjuangan Rasuna Said tidak banyak diketahui. Sampai-sampai seorang teman saya pernah bertanya, “Rasuna Said itu pejuang (berkelamin) laki-laki atau perempuan?”

Hajjah Rangkayo Rasuna Said dilahirkan di Maninjau, Sumatra Barat, pada 14 September 1910. Ia keturunan bangsawan Minang. Ayahnya bernama Muhamad Said, seorang pengusaha dan bekas aktivis pergerakan.

Selepas dari Sekolah Dasar, Rasuna dikirim ayahnya untuk belajar di pesantrean Ar Rasyidiyah. Ia dikenal sebagai siswa cerdas, tangkas, dan pemberani. Kemudian, ia pindah ke sekolah di sekolah Diniyah Putri di Padang Panjang. Di sinilah ia bertemu dengan seorang guru bernama Zainuddin Labai el-Junusiah, seorang tokoh gerakan Thawalib.

Gerakan Thawalib adalah gerakan yang dibangun kaum reformis islam di Sumatera Barat. Banyak pemimpin gerakan ini dipengaruhi oleh pemikiran nasionalis-islam Turki, Mustafa Kamal (Kamal Attaturk).

Rasuna Said tumbuh dewasa di tengah bersemainya gerakan nasionalis, marxisme, dan islam modernis di Sumatera Barat. Saat itu, batasan antara aktivis kiri, nasionalis, dan Islam tidaklah begitu tegas dan tebal. Jamaluddin Tamin, misalnya, dikenal sebagai tokoh gerakan Thawalib, tetapi juga pendiri Sarekat Rakyat (SI-Merah) yang berhaluan marxis.

Jamaluddin Tamin dikenal sangat dekat dengan tokoh komunis Sumatera Barat, Haji Datuk Batuah. Sedangkan Haji Datuk Batuah merupakan pengikut tokoh Komunis Islam Solo, Haji Misbach. Ia sangat tertarik untuk memadukan antara islam dan marxisme.

Menjelang tahun 1926, PKI di Sumatera Barat sedang dalam puncak-puncak kejayaannya. Di tahun itu juga PKI menyiapkan pemberontakan anti-kolonial. Sayang, perbedaan sikap mengenai pemberontakan memicu konflik internal. PKI di Sumbar juga terpecah: antara pengikut PKI pusat dan PKI-Tan Malaka.

Menjelang hari-hari pemberontakan itu, Rasuna Said bergabung dengan salah satu organisasi sayap PKI, yaitu Sarekat Rakyat. Dia menjabat Sekretaris Cabang. Namun, Rasuna Said tidak lama berjuang bersama Sarekat Rakyat. Pasca pemberontakan PKI di Silungkang, Sumatera Barat, polisi rahasia Belanda mengejar aktivis kiri, baik PKI maupun Sarekat Rakyat.

Sementara itu, sejumlah aktivis Sarekat Rakyat yang tidak setuju dengan pemberontakan itu telah mengubah organisasi ini menjadi Partai Sarekat Islam Indonesia. Itu terjadi pada tahun 1930-an.

Sementara itu, pada tahun 1932, sebagian tokoh-tokoh gerakan Thawalib mendirikan organisasi baru bernama Persatuan Muslimin Indonesia (PERMI). Rasuna Said bergabung dengan PERMI, organisasi politik yang berhaluan anti-kolonialisme.

Di PERMI, Rasuna ditempatkan di seksi propaganda. Pekerjaan inilah yang mendekatkan dirinya dengan koran dan orasi politik. Rasuna dikenal sebagai seorang orator hebat. Seorang tokoh islam, H Hasymi, pernah menggambarkan kemampuan pidato Rasuna sebagai berikut: “pidato-pitato Rasuna laksana petir di siang hari. Kata-katanya tajam membahana.”

Selain itu, ia juga mendirikan sekolah rakyat bernama “Sekolah Menyesal”, yang fokus pada pemberantasan buta huruf di kalangan rakyat jelata. Rasuna berpandangan, untuk memajukan rakyat, mereka harus bisa dibuat pandai membaca dan menulis. Ia juga mendirikan kursus-kursus putri untuk memajukan kesadaran sosial dan politik kaum perempuan.

Pidatonya yang berani, tajam, dan berdaya gugat benar-benar menghunjam tatanan kolonial. Tidak heran, lantaran pidatonya itu, Rasuna sering berurusan dengan PID (polisi rahasia Belanda). Ia ditangkap dan ditahan di Payakumbuh. Berita penangkapannya banyak dimuat di koran. Saat itu, Rasuna dikenai tuduhan delik mimbar (spreekdelict). Ia akhirnya di penjara di Semarang, Jawa Tengah.

Pemilik pena yang tajam

Selepas dari penjara, Rasuna memimpin sebuah koran bernama “Raya”. Koran ini sangat nasionalis dan radikal. Koran ini bahkan menjadi obor perlawanan bagi kebangkitan gerakan nasionalis di Sumatera Barat. Di mata Belanda, koran ini sangat galak dan berbahaya.

Karena itu, PID mulai mempersempit ruang gerak Rasuna dan kawan-kawannya. Sedangkan tokoh-tokoh PERMI yang diharapkan berdiri melawan tindakan kolonial ini, justru tidak bisa berbuat apapun. Rasuna sangat kecewa. Ia pun memilih pindah ke Medan, Sumatera Utara.

Pada tahun 1937, di Medan, Rasuna mendirikan perguruan putri. Untuk menyebar-luaskan gagasan-gagasannya, ia membuat majalah mingguan bernama “Menara Poeteri”. Slogan koran ini mirip dengan slogan Bung Karno: “Ini dadaku, mana dadamu”.

Koran ini banyak berbicara soal perempuan. Meski begitu, sasaran pokoknya adalah memasokkan kesadaran pergerakan, yaitu anti-kolonialisme, di tengah-tengah kaum perempuan.

Rasuna Said mengasuh rubrik “Pojok”. Ia sering menggunakan nama samaran: Seliguri, yang konon kabarnya merupakan nama sebuah bunga.

Tulisan-tulisan Rasuna dikenal tajam, kupasannya mengena sasaran, dan selalu mengambil sikap lantang anti-kolonial. Sebuah koran di Surabaya, namanya Penyebar Semangat, pernah menulis perihal Menara Poetri ini: “di Medan ada sebuah surat kabar bernama Menara Poetri; isinya dimaksudkan untuk jagad keputrian. Bahasanya bagus, dipimpin oleh Rangkayo Rasuna Said, seorang putri yang pernah masuk penjara karena berkorban untuk pergerakan nasional.

Akan tetapi, koran Menara Poetri tidak berumur panjang. Persoalannya: sebagian besar pelangganya tidak membayar tagihan korannya. Konon, hanya 10 persen pembaca Menara Poetri yang membayar tagihan. Sisanya ngemplang.

Walhasil, Menara Poetri pun ditutup. Pada saat itu, memang banyak majalah atau koran yang tutup karena persoalan pendanaan. Rasuna memilih pulang ke kampung halaman: Sumatera Barat.

Nasionalis tulen

Saat pendudukan Fasisme Jepang, Rasuna sempat terlibat dalam pergerakan bawah tanah. Namun, pada saat Jepang membangun organisasi massa, Rasuna pun tergerak untuk menggunakan orgasisasi massa itu untuk kepentingan pergerakan.

Rasuna bergabung dengan Gyu Gun Ko En Kai. Organisasi ini banyak menghimpun aktivis pergerakan. Di organisasi ini, Rasuna lagi-lagi ditempatkan di urusan propaganda.

Meski bekerja di organisasi massa yang dibuat Jepang, bukan berarti Rasuna melemah di hadapan fasis itu. Pada suatu hari, kepada seorang perwira Jepang yang menegur aktivitasnya, Rasuna berkata begini: “Boleh tuan menyebut Asia Raya, karena tuan menang perang. Tetapi di sini (sambil menunjuk dadanya), tertanam pula Indonesia Raya.”

Selepas proklamasi kemerdekaan, Rasuna bergabung dengan Badan Penerangan Pemuda Indonesia (BPPI). Ia juga sempat menjadi anggota Front Pertahanan Nasional di Bukit Tinggi.

Pada saat sidang KNIP (parlemen Indonesia jaman itu) di Malang, Jawa Tengah, Rasuna terpilih sebagai wakil Sumatera. Ia juga sempat ditunjuk sebagai Badan Pekerja KNIP.

Pada saat itu, Rasuna sebetulnya sudah menikah. Akan tetapi, karena ia terlanjur meleburkan diri dalam pergerakan, Rasuna jarang bertemu dengan suaminya. Ia pun bercerai.

Rasuna kemudian menikah lagi dengan seorang aktivis kiri, Bariun AS. Akan tetapi, pernikahan dengan orang Medan ini juga tidak berumur panjang. Ia kembali bercerai. Rupanya, karena sudah lama di pergerakan, Rasuna punya jiwa merdeka yang tidak bisa dikekang oleh siapapun.

Rasuna sendiri adalah pendukung setia Bung Karno. Pada saat pemberontakan PRRI-Permesta meletus, Rasuna merupakan salah satu tokoh pejuang Sumatera Barat yang memihak NKRI dan Bung Karno. Banyak kawan akrabnya, bahkan bekas suaminya, menjadi pendukung PRRI-Permesta.

Kegigihan itulah yang membuat Bung Karno kagum pada pejuang dari Sumatera Barat ini. Dalam sebuah pidato di Bandung, 18 Maret 1958, di hadapan puluhan ribu massa, Bung Karno memuji kegigihan perjuangan Rasuna Said.

Karena itu, pada 11 Juli 1957, Bung Karno menunjuk Rasuna Said sebagai anggota Dewan Nasional mewakili golongan perempuan. Di situ, ia tetap menunjukkan sikap politik yang tegas: nasionalis anti-kolonialisme dan anti-imperialisme.

Sayang, di tengah arus besar kontra-revolusi yang hendak menggulung pemerintah Sukarno, Rasuna Said berpulang. Tepatnya pada tanggal 2 November 1965. Ia dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata Jakarta.

Ira Kusumah

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut