Janji-Janji Presiden SBY

Dengan tujuan untuk menyenangkan rakyat, terutama yang sedang terkena bencana atau dirundung duka, Presiden SBY sangat royal sekali menabur janji-janji yang bersifat bombastis. Janji paling segar dilontarkan Presiden SBY adalah soal ganti-rugi terhadap ternak milik korban letusan merapi.

Presiden menegaskan janji pada tanggal 5 November 2010, hanya beberapa saat setelah letusan hebat merapi yang menewaskan puluhan orang.  “Kita akan beli sapi dengan harga yang pantas. Ada yang membeli dengan harga murah, itu tidak baik. Jangan sampai yang terkena musibah mengalami kerugian,” demikian dikatakan Presiden SBY.

Terhadap janji-janji itulah rakyat menaruh harapan besar, setidaknya dapat mengurangi beban penderitaan mereka paska gempa. Namun, entah mengapa, hingga hari ini janji itu belum juga terealisasi.

Dulu, pada tahun 2007, SBY juga pernah menjanjikan tanah seluas 8,1 juta hektar melalui program pembaruan agraria nasional. Tetapi, sampai sekarang ini, janji itu belum juga terwujud di tengah-tengah rakyat. Masih banyak lagi janji SBY yang tidak ditepati; memberantas korupsi, mensejahterakan rakyat, dan lain sebagainya.

Kemudian, siang tadi, setelah dua kejadian beruntung menimpa TKI Indonesia di Arab Saudi, Presiden SBY kembali menjanjikan telepon genggam kepada setiap tenaga kerja di luar negeri agar gampang berkomunikasi ketika ditimpa masalah.

Kita menghargai respon presiden terkait nasib yang dialami oleh TKI, tetapi kita tidak setuju dengan janji-janji bombastis yang malah tidak menyentuh ke akar persoalan. Pada hakekatnya, janji-janji itu tidak saja ditujukan untuk para TKI dan korban, melainkan untuk mengikat seluruh rakyat agar tetap percaya dengan presiden dalam mengatasi masalah.

Pada kenyataannya, ucapan dan janji-janji itu sangat jauh dari kenyataan, tidak pernah diwujudkan dalam tindakan konkret. Pendek kata, selalu terjadi perbedaan antara ucapan dan tindakan. Padahal, disadari atau tidak, setiap janji presiden adalah janji politik, yang bersifat mengikat secara politik maupun hukum.

Untuk apa janji-janji bombastis dan bohong itu diciptakan? Ya, untuk memuaskan politik pencitraan, suatu tampilan politik yang menonjolkan bagian luarnya saja, tetapi sangat busuk di bagian dalamnya. Hampir setiap aktivitas presiden SBY adalah membuat lakon-lakon indah, tetapi tidak berdampak pada perbaikan kehidupan rakyat dan kemajuan bangsa.

Sebaliknya, karena Presiden lebih banyak memainkan lakon pencitraan, maka sebagaian besar persoalan bangsa telah menumpuk menjadi gunung yang harus dipikul oleh seluruh rakyat. Tidaklah mengherankan, dua periode pemerintahan SBY benar-benar memukul mundur bangsa ini ke belakang.

Bagaimana kita menyikapinya? Sudah tiba saatnya membangunkan singa yang tidur, yaitu rakyat Indonesia. Ini memang bukan perkara sederhana, apalagi berharap akan diselesaikan dalam hitungan bulan atau setahun dua tahun. Membangunkan kembali sebuah bangsa yang tertidur memerlukan waktu yang panjang, sebagaimana para founding father membangunkan rakyat kita dari alam penjajahan.

Mulailah dari sekarang kita harus mengintensifkan pekerjaan di tengah-tengah massa rakyat, tanpa harus menunggu “percikan api terjadi”. Gerakan menagih janji bisa menjadi sarana untuk membangkitkan partisipasi massa, dan sekaligus, ini akan membantu untuk menelanjangi “kebusukan politik pencitraan”.

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut