Jangan Terpancing Provokasi SARA, Tetap Perkuat Persatuan Nasional

Belum juga ada titik terang terkait penyerangan terhadap jemaah Ahmadiyah di Cikeusik, Pandeglang, dan di Temanggung, Jawa Tengah, serangan terhadap kebebasan berkeyakinan kembali terjadi terhadap Yayasan Pondok Pesantren Islam (Yapi) di Desa Kenep, Kecamatan Beji, Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur.

Motif penyerbuan ini, seperti juga kejadian di Cikeusik dan Temanggung, adalah dilatar-belakangi perbedaan keyakinan. Selain itu, sebagaimana disampaikan oleh pihak YAPI, pelaku penyerangan berasal dari luar Pasuruan. Artinya, sangat sulit untuk mempercayai bahwa ini hanya pertikaian biasa antar kelompok, ataupun menganggap ini sebagai kriminalitas perseorangan, jika motif dan cara-cara mengorganisir penyerangannya hampir sama dengan kejadian di Cikeusik dan Temanggung.

Penggunaan kata “sekelompok orang yang tidak dikenal”–sebagaimana menjadi umum disampaikan kepada kita– adalah istilah yang salah. Pada kenyataannya, para pelaku penyerangan di tiga daerah, yaitu Cikeusik, Temanggung, dan Pasuruan, bisa dikenal dengan baik berdasarkan pakaian dan bendera ormas yang dibawanya.

Di Cikeusik, para pelaku penyerangan menggunakan pita biru dan hijau. Ini sekaligus menandakan bahwa aksi penyerangan ini bukanlah spontanitas, melainkan sudah direncanakan, terorganisir rapi, dan punya struktur komando. Disamping itu, pengakuan sejumlah saksi bahwa mereka menyaksikan adanya pembagian uang pasca penyerangan juga membuktikan bahwa ada pihak yang sengaja menggerakkan aksi ini.

Kejadian di Temanggung juga menunjukkan kejanggalan besar. Jika pelaku penyerangan sudah ditetapkan dari luar Temanggung, maka muncul pertanyaan besar: siapa yang mengorganisir mereka untuk datang ke tempat tersebut? Juga, sebagaimana ditulis dalam kronologi yang disebarkan oleh Forum Umat Islam Bersatu (FUIB) Temanggung, Rabu (9/2), dikatakan bahwa kericuhan bermula ketika sekelompok orang yang tidak dikenal mulai memecahkan kaca pengadilan negeri Temanggung.

Lebih lanjut, kronologi FUIB menyatakan bahwa pihaknya tidak mengetahui dari mana datangnya ban-ban berukuran besar yang dibakar massa di depan pengadilan, juga kehadiran pihak-pihak tertentu yang mengarahkan massa untuk membakar gereja.

Dengan melihat berbagai rentetan kejadian di atas, juga dengan mengingat kembali berbagai provokasi SARA sejenis di era orde baru hingga pasca reformasi, maka sudah jelas bahwa aksi-aksi ini digerakkan oleh kekuatan-kekuatan politik yang posisinya sedang terancam atau terpojok.

Jika menyaksikan situasi ekonomi dan politik tanah air, juga melihat berbagai perkembangan kasus yang ada, maka sangat jelas bahwa pemerintahan SBY-Budiono sedang terpojok. Rejim neoliberal ini bukan hanya berhadapan dengan gerakan rakyat yang sedang marah karena kemiskinan dan pengangguran, tetapi juga dengan para intelektual dan tokoh agama.

Ini bukan hendak menyederhanakan persoalan. Sejarah kolonialisme selama beratus-ratus tahun, lalu pengalaman orde baru selama 32 tahun, dan juga pengalaman rejim pasca reformasi selama satu dekade, telah membuktikan bahwa provokasi SARA selalu menjadi “jalan keluar” untuk mengalihkan kesadaran rakyat pada persoalan yang sebenarnya, dan agar rakyat tidak bersatu melawan musuh bersamanya: Imperialisme.

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut