Jangan Biarkan Krisis Menjadi Jalan Perampokan Kekayaan Bangsa

Bangsa yang besar bukan bangsa yang tidak pernah mengalami krisis, melainkan bangsa yang mampu belajar dari krisisnya. Indonesia telah melewati berbagai ujian sejarah, tetapi sedikit peristiwa yang meninggalkan luka sedalam krisis ekonomi akhir 1990-an. Nilai rupiah jatuh, dunia usaha runtuh, jutaan orang kehilangan pekerjaan, dan stabilitas nasional terguncang dari berbagai arah.

Di tengah penderitaan rakyat ketika itu, ternyata tidak semua pihak mengalami kerugian. Ada kelompok-kelompok tertentu yang justru memperoleh keuntungan luar biasa dari situasi yang kacau. Ketika aset-aset nasional kehilangan nilai, ketika negara kehilangan daya tawarnya, dan ketika rakyat dipaksa menjual apa yang dimilikinya untuk bertahan hidup, sebagian kecil orang memiliki kesempatan mengakumulasi kekayaan dalam skala yang tidak pernah terjadi sebelumnya.

Pelajaran inilah yang seharusnya tidak pernah dilupakan.

Belakangan, ruang publik dipenuhi berbagai narasi pesimistis tentang Indonesia. Ada yang menggambarkan negeri ini seolah berada di ambang kehancuran, seakan seluruh sendi kehidupan bangsa sedang menuju titik runtuh. Kritik terhadap pemerintah tentu merupakan bagian penting dari demokrasi. Tidak ada demokrasi yang sehat tanpa kritik. Namun ada perbedaan mendasar antara kritik yang bertujuan memperbaiki keadaan dan narasi yang terus-menerus menanamkan ketakutan serta keputusasaan.

Sejarah menunjukkan bahwa ketakutan adalah instrumen yang sangat efektif. Ketika masyarakat panik, keputusan rasional sering kali tergantikan oleh emosi. Ketika kepercayaan terhadap negara melemah, ruang spekulasi semakin terbuka. Dan ketika pesimisme menjadi suasana umum, pihak yang memiliki modal besar biasanya berada pada posisi paling siap untuk mengambil keuntungan.

Karena itu, bangsa ini perlu memahami bahwa perang modern tidak selalu menggunakan senjata. Kadang-kadang perang dilakukan melalui persepsi. Sebuah negara dapat dilemahkan bukan hanya melalui serangan fisik, tetapi juga melalui penghancuran kepercayaan rakyat terhadap masa depan bangsanya sendiri.

Gerakan mahasiswa selama ini memiliki tradisi yang berbeda. Mahasiswa lahir dari idealisme dan keberpihakan kepada rakyat. Sejarah mencatat bagaimana mahasiswa berkali-kali menjadi suara moral yang mengingatkan negara ketika terjadi penyimpangan kekuasaan. Mereka bergerak karena panggilan nurani, bukan karena kepentingan ekonomi.

Itulah sebabnya gerakan mahasiswa perlu tetap menjaga independensinya. Sikap kritis harus dipertahankan, tetapi kewaspadaan juga harus diperkuat. Jangan sampai energi perjuangan rakyat dimanfaatkan oleh kelompok yang sesungguhnya tidak memiliki kepentingan terhadap kesejahteraan rakyat. Tidak semua pihak yang berbicara tentang perubahan menginginkan perubahan yang berpihak kepada bangsa. Ada pula yang melihat kekacauan sebagai peluang untuk memperbesar kekuasaan ekonomi mereka.

Dalam konteks saat ini, perdebatan yang terjadi sesungguhnya menyangkut pertanyaan mendasar: siapa yang harus menguasai kekayaan Indonesia? Apakah sumber daya alam, energi, tanah, dan aset strategis negara dikelola untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat sebagaimana amanat Pasal 33 UUD 1945, atau justru semakin terkonsentrasi pada segelintir kelompok yang memiliki akses terhadap modal dan kekuasaan ekonomi?

Pertanyaan itu jauh lebih penting daripada sekadar perdebatan politik sehari-hari.

Karena itu, kritik terhadap pemerintah harus tetap hidup. Pengawasan publik harus terus diperkuat. Kebijakan yang keliru harus dikoreksi. Namun menjaga Indonesia tidak cukup hanya dengan mengkritik. Menjaga Indonesia juga berarti menolak setiap upaya yang mendorong bangsa ini masuk ke dalam jurang pesimisme, instabilitas, dan ketidakpercayaan yang berkepanjangan.

Indonesia masih memiliki banyak persoalan. Korupsi masih harus diberantas. Kesenjangan sosial masih perlu dipersempit. Tata kelola negara harus terus diperbaiki. Tetapi Indonesia juga memiliki kekuatan besar: sumber daya alam yang melimpah, pasar domestik yang kuat, bonus demografi, dan rakyat yang berkali-kali membuktikan kemampuannya bangkit dari kesulitan.

Pelajaran sejarah mengajarkan satu hal penting: setiap kali bangsa ini goyah, selalu ada pihak yang berusaha mengambil keuntungan dari kegoyahan itu. Karena itu, rakyat harus tetap kritis, mahasiswa harus tetap idealis, dan negara harus tetap waspada.

Sebab yang paling berbahaya bukanlah perbedaan pendapat. Yang paling berbahaya adalah ketika kekacauan sengaja dipelihara agar segelintir orang dapat memperoleh keuntungan dari penderitaan banyak orang. Di situlah keserakahan berubah menjadi ancaman bagi masa depan bangsa.

Budi Prasetyo Hadi

[post-views]