Jalan Kesenian Sudjojono

Membaca sejarah seni rupa modern Indonesia tidak akan afdol jika tak menyebut nama satu ini. Dia adalah Sindudarsono Sudjojono. Orang-orang di sekitarnya sering memanggilnya: mas Djon.

Claire Holt, penulis buku “Art in Indonesia, Continuities and Change”, meletakkan Sudjojono sebagai titik sentral perkembangan senirupa modern di Indonesia. Memang, kalau melihat sejarah seni rupa Indonesia, boleh dibilang Sudjojono termasuk sebagai salah satu peletak dasarnya.

Keluarga Kuli Kontrak

Sudjono lahir di Kisaran, Sumatera Utara, tahun 1913. Sejak kecil ia sudah kenyang melihat penindasan. Orang tuanya adalah kuli kontrak di sebuah perkebunan di Sumatera Utara.

Tetapi ayahnya seorang pemberontak. Lantaran itu, keluarga Sudjojono diasingkan di sebuah rumah isolasi bagi buruh perkebunan yang memberontak. Nomor rumahnya 101. Angka inilah yang menjadi identitas Sudjojono di berbagai lukisannya: SS 101.

Nasib Sudjojono diselamatkan oleh Yudhokusumo, seorang guru gambar, yang memboyongnya ke Jakarta. Di Jakarta, ia bertemu seorang pelukis dan sekaligus pemikir, Mas Pirngadi. Di sinilah Sudjojono mengasah dan mengembangkan kemampuannya melukis.

Mendirikan Persagi

Salah satu titik penting dalam perkembangan seni rupa Indonesia, juga bagi Sudjojono sendiri, adalah berdirinya organisasi pelukis bernama Persatuan Ahli-Ahli Gambar Indonesia (Persagi) pada tahun 1937.

Sudjojono merupakan pelopornya. Organisasi ini menghimpun sejumlah pelukis, seperti Sudjojono, Agus Djaja, S Sudiarjo, Otto Djaja, Ramli, Abdulsalam, Emiria Soenassa, S Tutur, Saptarita Latif, Sindi Sisworo, dan lain-lain.

Persagi lahir dari kawah perlawanan. Pada masa itu, Sudjojono melabrak seni lukis yang terpaku pada keindahan. Sudjojono mengejeknya dengan istilah “Mooi Indie” atau Hindia Molek. Para pelukis Mooi Indie selalu terpaku pada tiga hal (trimurti): sawah, gunung, dan pohon kelapa.

Pelukis Mooi Indie, di mata Sudjojono, terlalu terbuai pada kebagusan (keindahan), tetapi mengabaikan nasib rakyat negerinya yang tertindas. Sudjojono berujar, “kebagusan semacam itu hanya menutupi kekosongan batin si pelukis saja.”

Sebaliknya, bagi Sudjojono, sebagai seorang seniman—sekaligus sebagai manusia Indonesia—karya seni haruslah bercorak Indonesia. Agar bisa bercorak Indonesia, maka seniman tidak boleh hidup terpisah dari rakyat. Sebab, keadaan rakyat-lah yang merupakan keadaan sesungguhnya. Karya seni pun haruslah bertolak pada keadaan rakyat itu. Inilah dasar realisme!

Di mata Sudjojono, seni itu mesti berpihak kepada rakyat. Kepada Basuki Resobowo, seorang kawannya, Sudjojono berpesan, “kita sebagai seniman jangan sampai absen dan tidak ikut mengalami situasi politik yang penting dari sejarah bangsa Indonesia. Lingkungan dan masa memainkan peranan dalam terjadinya suatu karya seni, sekalipun bukan sebagai komponen yang menentukan.”

Terlibat dalam Revolusi

Di mata penjajah, Sudjojono adalah musuh berbahaya. Tetapi dia bukan berbahaya karena menenteng senjata atau granat, melainkan karena sangat menguasai seni sebagai alat propaganda.

Sudjojono aktif mencetak dan menyebarkan poster-poster propaganda anti-Belanda dan anti-Jepang. Di masa pendudukan Jepang, seperti pengakuan istrinya, Mia Bustam, Sudjojono aktif dalam gerakan illegal dan terkait dengan sel-sel gerakan komunis.

Di bawah pendudukan Jepang itulah Sudjojono bertemu Fransiska Sasmiati—akrab dipanggil “Mia”. Beberapa bulan berkenalan, keduanya pun segera menikah. Keduanya adalah aktivis sekaligus pelukis yang larut dalam letusan dinamik Revolusi Indonesia.

Sudjojono ikut bergerilya dan memanggul senjata. Ia aktif bergerilya di daerah Tugu, Maguwo, Kaliurang, Bogem, Prambanan, dan Sleman. Belakangan, Sudjojono mengabadikan sekilas pengalamannya di masa revolusi melalui lukisan: Sekko.  Sekko berarti prajurit di lini depan yang berfungsi membuka jalan bagi prajurit lain. Lukisan ini kemudian dikoleksi oleh Bung Karno.

Begitu Indonesia merdeka, Bung Karno berkeinginan agar ada poster yang bisa membangkitkan semangat rakyat. Ia kemudian meminta kepada Sudjojono untuk membuat poster tersebut. Dari tangan Sudjojono bersama dengan Affandi dan Chairil Anwar lahirlah poster terkenal: “Bung, Ayo Bung!

Pada tahun 1946, bersama sejumlah seniman progressif, Ia mendirikan perkumpulan “Seniman Indonesia Muda” (SIM). Organisasi inilah, seperti dituturkan Basuki Resobowo, yang menjadi embrio organisasi kesenian rakyat pada tahun 1960: Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra).

Titik Balik

Pada tahun 1955, Sudjojono menjadi anggota DPR dari Partai Komunis Indonesia (PKI). Tidak banyak catatan tentang sepak-terjangnya ketika menjadi anggota parlemen yang mewakili kaum buruh, tani, dan kaum tertindas lainnya.

Namun, cerita justru muncul dari istrinya, Mia Bustam, yang menganggap kehidupan Sudjojono mulai berubah setelah menjadi anggota DPR. “Saat jadi anggota DPR ia makin jarang melukis. Ia tinggal di Jakarta dan hanya akhir minggu saja ke Yogya,” tutur Mia dalam bukunya, Sudjojono dan Aku, terbitan Pustaka Utan Kayu, 2006.

Namun, yang lebih memprihatinkan, sikap Sudjojono juga berubah. Seperti diceritakan Mia, pernah ada kunjungan rombongan kesenian Cekoslowakia ke Jogjakarta. Saat itu kursi bagian depan sudah penuh, sehingga Sudjojono dan Mia harus duduk di belakang. Tetapi tiba-tiba Sudjojono berseloroh, “Wah, wakil rakyat kok duduk di belakang.” Lontaran kata-kata itu ditandai Mia sebagai bentuk degradasi idelogi seorang Sudjojono.

Puncaknya terjadi pada tahun 1957. Saat itu Sudjojono menjalin hubungan dengan wanita lain: Rose Sumabrata—Sudjojono memanggilnya Rose Pandawangi. Central Comitte (CC) PKI gerah dengan perilaku Sudjojono tersebut. Maklum, PKI adalah partai penentang paling gigih terhadap poligami.

Beberapa kali ditegur, Sudjojono tak berubah. Akhirnya, pada tahun 1958, PKI resmi memecat Sudjojono dari keanggotaan PKI. Dengan demikian, jabatannya sebagai anggota DPR pun turut hilang.

Belakangan, Sudjojono juga melabrak sendiri pandangan seninya ketika mengatakan, “melukis dan politik adalah dua hal yang berlainan.” Basuki Resobowo, yang mendengar kata-kata itu, seperti tersambar petir di siang hari. “Setelah membaca kata-kata Sudjojono saya menjadi kaget. Ia pisahkan seni dari politik atau seni dari revolusi,” kata Basuki Resobowo. Basuki sendiri langsung menulis buku berjudul “Bercermin Di Muka Kaca: Seniman, Seni, dan Masyarakat” sebagai bantahan terhadap pendapat Sudjojono tersebut.

Apakah Sudjojono mengalami pergeseran ideologi? Watugunung, anak ketiga Sudjojono, menulis catatan ketika ayahnya (Sudjojono) sakit dan dijenguk oleh Naibaho, seorang tahanan politik yang baru bebas. Sang anak mendegar perkataan bapaknya kepada Naibaho, “Jangan sekali-kali melepaskan ideologi Marxisme- Leninisme!”

Rudi HartonoPimred Berdikari Online

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut