Jalan Kaki 20 Hari, Petani Jambi Raih Kemenangan Awal

Hari Selasa (5/4), setelah berjalan kaki selama 20 hari, ratusan warga Suku Anak Dalam (SAD) dan petani Jambi akhirnya tiba di kota Palembang, Sumatera Selatan. Jarak yang mereka tempuh sejauh 278 kilometer.

Dalam perjalanan panjang itu, ada banyak aral yang melintang. Mulai dari kondisi cuaca yang berubah-ubah: kadang panas terik, kadang hujan lebat. Persediaan bahan makanan dan obat-obatan yang menipis. Akibatnya, sejak dimulainya aksi jalan kaki hingga hari ini, ada 41 petani yang jatuh sakit.

Bersamaan dengan aksi itu, ada proses perundingan juga dilakukan oleh perwakilan petani yang tergabung dalam Gerakan Nasional Pasal 33 UUD 1945 dengan pihak Kementrian Agraria dan Tata Ruang/Kepala BPN (ATR/BPN) dan pihak Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLH).

Proses perundingan itu membuahkan hasil. Tuntutan warga SAD dan petani Jambi (Kunangan Jaya I dan II, Mekarya Jaya, dan Tanjung Jabung Timur) telah disetujui oleh Kementerian terkait.

Berikut hasil kesepakatannya:

Pertama, pengembalian areal seluas 3.550 ha milik Suku Anak Dalam 113 yang berkonflik dengan PT Asiatic Persada, telah direspon oleh Menteri Agraria dan Tata Ruang (ATR) melalui surat instruksi nomor : 1373/020/III/2016 kepada Kanwil BPN Propinsi Jambi untuk melanjutkan substansi langkah-langkah kongkrit penyelesaian konflik dengan mengacu pada surat Kepala BPN RI no 3946/16-I-300/X/2012  yang selama ini menjadi tuntutan dari Suku Anak Dalam 113.

Batas waktu penyelesaian/realisasi keputusan ini adalah bulan September 2016.

Kedua, penyelesaian konflik Petani Kunangan Jaya I dan II, serta Petani Mekar Jaya yang berkonflik dengan PT Wanakasita Nusantara, PT Agronusa Alam Sejahterah dan PT REKI,  telah dilakukan dengan menggelar pertemuan antara petani dengan perwakilan dari Kementrian Kehutanan dan Lingkungan Hidup (KLH). Pertemuan itu menghasilkan kesepakatan, yakni verifikasi pada subyek dan obyek dalam wilayah konflik yang berpedoman pada SK Dirjen Bina Usaha Kehutanan Kementrian Kehutanan no : S.92/VI-BUHT/2013.

Verifikasi ini akan dilakukan pada tanggal 11 April 2016.

Ketiga, penyelesaia konflik Petani Tanjung Jabung Timur dengan Taman Nasional Berbak telah dilakukan melalui pertemuan dengan perwakilan Kementrian Kehutanan dan Lingkungan Hidup. Pertemuan itu menghasilkan kesepakatan: Balai Taman Nasional Berbak akan mengakomodasi tuntutan petani dari beberapa desa yang batas desa atau tanahnya masuk dalam wilayah kawasan Taman Nasional.

Penyelesaian ini dilakukan dengan pembentukan Tim antara perwakilan Kementrian Kehutanan dan Perwakilan Petani. Kerja tim ini akan dimulai pada minggu ke II April 2016.

Menanggapi kesepakatan itu, Koordinator aksi jalan kaki Joko Supriadinata mengatakan, semua kesepakatan itu merupakan “kemenangan awal” bagi perjuangan petani.

Namun, dia menegaskan, supaya kesepakatan tersebut bisa berjalan sesuai dengan aspirasi petani, maka perlu dikawal oleh SAD dan Petani Jambi hingga di lapangan.

“Karena itu, warga SAD dan petani Jambi memutuskan untuk menghentikan sementara aksi jalan kakinya di kota Palembang,” ujar Joko kepada berdikarionline.com. Selasa (5/4/2016).

Selanjutnya, lanjut Joko, petani akan kembali ke kampung halaman untuk menyiapkan konsolidasi sekaligus mengawal semua kemenangan awal tersebut.

Sementara itu, sebagai bentuk ungkapan terima kasih atas dukungan gerakan rakyat Indonesia atas perjuangan petani Jambi, khususnya gerakan rakyat di Sumatera Selatan dan pemerintah setempat, warga SAD dan Petani jambi akan menggelar Konferensi Pers dan Mimbar Bebas di kota Palembang, pada hari Rabu, 6 April 2016.

Muhammad Idris

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut