Jacinda Ardern, Politisi Muda yang Memimpin Selandia Baru

Pemimpin muda tampaknya menjadi fenomena baru di berbagai belahan dunia. Setelah Alexis Tsipras (41 tahun) di Yunani, Justin Trudeau (44 tahun) di Kanada, Emmanuel Macron (40 tahun) di Perancis, sekarang Jacinda Ardern di Selandia Baru.

Dia lahir pada 26 Juli 1980. Artinya, sekarang dia baru berusia 37 tahun. Jacinda menjadi Perdana Menteri termuda dalam sejarah Selandia Baru. Dia juga juga perempuan ketiga yang memimpin Selandia Baru, setelah Jenny Shipley (1997-1999) dan Helen Clark (1999-2008).

Jacinda adalah politisi Partai Buruh. Dalam Pemilu tanggal 23 September lalu, Partai Buruh menempati urutan kedua dengan perolehan suara 36,89 persen atau 46 kursi. Urutan pertama ditempati oleh Partai Nasional, partainya sang petahana Bill English, dengan suara 44,45 persen atau 56 kursi.

Di Selandia Baru, sebuah partai atau koalisi partai bisa memerintah jika berhasil mengumpulkan 61 kursi parlemen.

Keberuntungan mulai datang setelah partai Hijau, yang punya 8 kursi, mendukung Partai Buruh. Namun, koalisi Buruh dan Hijau baru menghasilkan 54 kursi. Masih kurang 7 kursi untuk membentuk pemerintahan.

Keajaiban datang tak terduga setelah partai populis kanan, New Zealand First (NZ First), menyatakan dukungan pada koalisi Partai Buruh. Akhirnya, Partai Buruh bisa membentuk pemerintahan dan menempatkan Jacinda sebagai Perdana Menteri.

“Kami akan memastikan Selandia Baru sekali lagi menjadi negara yang diperhitungkan di dunia. Sebuah negara yang bisa kita semua banggakan,” ujar Ardern dalam konferensi pers.

Jacinda adalah politisi berlatar belakang aktivis. Di usia masih sangat muda, yakni 17 tahun, dia sudah terjun ke politik dan bergabung dengan Partai Buruh. Seperti banyak aktivis lainnya, dia juga kerap ikut aksi demonstrasi.

Di tahun 2010, dia ikut demonstrasi menentang korporasi tambang yang merusak lingkungan. Tanggal 21 Januari 2017, bertepatan dengan pelantikan Donald Trump, Jacinda bergabung bersama ribuan perempuan dalam aksi “Woman March” di Auckland.

Setelah tamat dari Universitas Waikato tahun 2001, dia sempat berkarir sebagai peneliti muda di kantor Perdana Menteri perempuan Selandia Baru, Helen Clark. Dia sempat merantau sebentar ke Amerika Serikat. Lalu ke Inggris dan bekerja di kantor Perdana Menteri Tony Blair.

Di tahun 2008, Jacinda memimpin sebuah organisasi pemuda berskala internasional dan berhaluan sosialis, yakni Serikat Pemuda Sosialis Internasional atau International Union of Socialist Youth (IUSY). Organisasi ini memayungi 136 organisasi pemuda berhaluan sosialis dari 100 negara.

Tahun 2008, Jacinda terpilih sebagai anggota parlemen. Posisinya ini didudukinya hingga Agustus lalu. Awal Agustus 2017, posisi kepemimpinan Partai Buruh goyah. Pimpinan partai, Andrew Little, mengundurkan diri dari posisi Ketua Partai sekaligus Pemimpin Oposisi.

Tampuk kekuasaan Partai Buruh beralih ke Jacinda. Dia menjadi Ketua Partai sekaligus pemimpin oposisi. Yang menarik, Jacinda memimpin partai hanya beberapa minggu menjelang Pemilihan Umum.

Tetapi tidak ada kata menyerah, begitu kira-kira prinsip perempuan berusia 37 tahun ini. Dia langsung turun ke gelanggang pertarungan dengan polesan sebagai politisi muda yang segar, progressif, dan bersenjatakan program konkret untuk Selandia Baru kedepan.

Dan benar saja, popularitas Jacinda langsung melejit naik. Jujukan “Jacindamania” langsung populer. Berbagai lembaga survei memprediksi perolehan suara Partai Buruh merangkak naik, semakin merapati Partai Nasional yang berkuasa.

Dalam kampanyenya, Dia berjanji menggratiskan pendidikan tinggi. Jacinda, yang pernah bekerja di Supermarket dan warung makan untuk menyambung pendidikannya, tahu betul bahwa persoalan biaya pendidikan seringkali menjegal hak setiap warga Negara dalam mendapatkan pendidikan.

“Jika kau melatih dan mendidik, manfaatnya untuk kita semua dan keseluruhan ekonomi Selandia Baru,” katanya, seperti dikutip Guardian tanggal 29 Agustus 2017.

Selain itu, dia juga berjanji mengeluarkan anak-anak dari kemiskinan, menghilangkan aborsi dari UU kriminal tahun 1961 (dekriminalisasi), menyediakan rumah bagi tuna-wisma, dan mengurangi emisi karbon.

Soal pandangan politik, Jacinda menyebut dirinya sosial-demokrat, progressif, dan feminis. Sementara beberapa pebisnis menyebut Jacinda sebagai “komunis yang manis”, lantaran memperjuangkan pajak polusi air dan karbon.

Yang menarik lagi, Jacinda sangat kritis terhadap sistim neoliberalisme yang mendegradasi kehidupan rakyat Selandia Baru sejak 1980-an. Dia menyebut neoliberalisme, sebuah model politik yang mendorong pasar bebas dan meminimalkan peran negara, terbukti gagal.

“Pandanganku adalah bahwa Selandia Baru harus dilayani dengan baik oleh pemerintahan intervensionis. Ini untuk memastikan pasar melayani Anda. Si miskin menjadi Tuan, bukan sebagai Hamba yang baik,” katanya seperti dikutip NewsHub tanggal 12 September 2017.

Dia juga menjadi ikon feminis, ketika dalam sebuah wawancara dia ditanya apakah akan memilih anak atau tidak setelah menjadi Perdana Menteri.

“Keputusan perempuan memiliki anak atau tidak seharusnya tidak mentakdirkan apakah mereka mendapatkan atau tidak sebuah pekerjaan,” tegasnya.

Tentu saja, pemerintahan Jacinda harus bekerja keras untuk mewujudkan janji-janji kampanyenya. Dan itu tidak mudah. Ditambah lagi, dia didukung oleh koalisi yang sangat longgar secara platform ideologi maupun politik.

Zealand First, salah satu sekutu utama Partai Buruh di pemerintahan, adalah partai ultra-nasionalis dan konservatif, yang secara nilai-nilai berseberangan dengan Partai Buruh. Mereka bisa menjadi pengganjal dari dalam pemerintahan ini.

Selamat bekerja, Jacinda.

Raymond Samuel

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut