Inkonsistensi Reformasi Birokrasi

Sudah sejauh mana reformasi birokrasi kita? Sudahkah terjadi tata-pemerintahan yang baik, bersih, efisien dan produktif. Ataukah, seperti diungkapkan banyak pengamat, reformasi hanya berjalan di tempat. Yang kita temui, reformasi birokrasi masih sebatas slogan di kantor-kantor pemerintahan. Paling banyak berupa iklan di spanduk, billboard, dan media massa.

Bagi kami, reformasi birokrasi gagal dalam dua aspek pokok. Pertama, kegagalan reformasi birokrasi untuk mengubah mentalitas dan karakter birokrat negara. Di sini, yang diperlukan adalah semacam revolusi mental. Reformasi birokrasi mestinya menghasilkan seorang birokrat yang jujur, bersih, berdedikasi, dan bersemangat bekerja untuk rakyat.

Yang terjadi, korupsi, kolusi, dan nepotisme masih membudaya di birokrasi kita. Dalam berbagai hal, birokrasi kita masih sangat lamban, bahkan cenderung abai, dalam merespon berbagai kebutuhan dan keluhan massa rakyat. Sosok aparatus negara kita belum menjadi ‘mesin pelayanan’ bagi kepentingan massa-rakyat.

Kejadian terbaru adalah penangkapan seorang pegawai pajak oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) karena tertangkap basah sedang melakukan tranksaksi suap terkait kepengurusan pajak. Kita seakan terus dihantui oleh “mafia pajak” yang tak ada habisnya. Habis Gayus, datanglah Dhana! Dan seterusnya.

Yang kedua, reformasi birokrasi belum berhasil membuat birokrasi kita menjadi ramping dan efektif. Sejauh ini, birokrasi kita masih sangat gemuk, bahkan bertambah gemuk. Lihat saja, Presiden SBY sangat doyan menambah cabang-cabang baru dalam birokrasi negara. Yang terbaru adalah kontroversi soal keberadaan Wakil Menteri (Wamen).

Terlalu banyak yang menjadi pembantu Presiden: Staf Khusus, Wantimpres, dan lain-lain. Toh, kinerja Presiden tidak membaik. Belum lagi, di Kementerian juga sudah terlampau runyam: sudah ada wakil menteri, staf khusus, deputi menteri, dan lain-lain. Lantas, apa kerjanya Direktorat Jenderal di Kementerian?

Ada gejala yang tidak bagus di sini: Presiden merespon berbagai kritikan, khususnya dari akademisi dan LSM, dengan menyerap mereka masuk dalam kekuasaan. Tentu saja, agar mereka tidak terlalu ribut di luar kekuasaan.

Juga, ada kecenderungan Presiden ingin menjadikan ‘jabatan-jabatan tambahan’ tersebut sebagai sekoci tambahan untuk menghindar dari berbagai kritikan publik atau serangan dari pihak oposisi. Sebagai contoh, berbagai persoalan di bidang korupsi dan penegakan hukum akan berurusan dengan Staf Khusus Presiden Bidang Hukum dan Pemberantasan KKN.

Jabatan Menteri lebih kacau lagi. Sebagian besar kursi jabatan menteri diisi oleh partai-partai pendukung pemerintah. Juga, kadangkala untuk menjinakkan partai oposisi, maka seorang pemimpin mereka ditawari jabatan menteri. Inilah yang terjadi terhadap Golkar—partai yang mestinya oposisi pasca pemilu 2009.

Inilah yang disebut strategi kooptasi terhadap oposisi. Presiden berusaha mengkooptasi berbagai kekuatan politik, tokoh-tokoh kritis yang berpengaruh, akademisi yang paling vokal, dan lain-lain. Caranya: mereka ditampung dalam jabatan-jabatan politik di sekitar Presiden. Sehingga muncul fenomena unik: para pencari jabatan berpura-pura jadi oposisi kritis. Kalau perlu, mereka ikut berdemonstrasi di jalanan untuk menentang pemerintah.

Penggemukan birokrasi itu berkonsekuensi pada pemborosan anggaran negara. Negara harus mengalokasi anggaran tambahan untuk membayar gaji dan operasional dari berbagai jabatan politik baru tersebut. Inilah yang menyebabkan anggaran untuk birokrasi kita terus bertambah. Di APBN 2012, sebagian besar anggaran negara terkuras untuk membiayai birokrasi.

Inilah buah pahit reformasi birokrasi ala neoliberalisme. Bagi kami, yang paling mendesak saat ini adalah ‘revolusi mental’—perubahan cara berfikir, cara kerja/berjuang, cara hidup (percaya pada diri sendiri, optimisme, kegembiraan dalam kerja, jiwa baru dan semangat baru)–di kalangan aparatus negara. Akan tetapi, hal ini akan sulit dilakukan jikalau tidak disertai dengan perombakan mendasar terhadap struktur ekonomi-politik kita saat ini.

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut