Inilah Skema Kudeta Terhadap Pemerintahan Demokratis Di Venezuela

Oposisi Venezuela

Pada hari Kamis (12/2) lalu, sebuah rencana kudeta terhadap pemerintahan demokratis di Venezuela berhasil dipatahkan oleh pihak pemerintah dan aparat keamanan.

Kudeta itu direncanakan akan diletuskan pada hari Kamis, 12 Februari 2015, bertepatan dengan pawai rakyat Venezuela memperingati Hari Pemuda. Akan tetapi, kudeta tersebut terendus dan berhasil dipatahkan oleh aparat keamanan dan intelijen Venezuela.

Berikut skema besar para perencana kudeta sebagaimana diungkapkan oleh pemerintah berdasarkan temuan barang bukti berupa dokumen dan rekaman video:

6-8 Januari 2015: pelaku kudeta merencanakan sebuah operasi nasional untuk mendorong kerusuhan jalanan. Antrean massa di luar pusat perbelanjaan, seperti supermarket, dijadikan sasaran utama, dimana pelaku kudeta mendorong kekerasan. Di tempat terpisah, berbagai kelompok lain akan terlibat dalam mendorong kekacauan jalanan.

9 Januari- Februari 2015: setelah berlangsung berminggu-minggu, perancang kudeta berharap seluruh negeri akan jatuh dalam kekacauan, yang akan membuka jalan bagi penggulingan dengan kekerasan terhadap pemerintahan Maduro.

3 Februari 2015: pejabat kedutaan AS di Caracas, Ibukota Venezuela, akan menyuap sejumlah tokoh yang menempati posisi strategis agar mendukung kudeta.

12 Februari: hari yang ditetapkan sebagai hari pelaksanaan kudeta. Pawai massa pendukung pemerintah (Chavista) dan kelompok oposisi yang memperingati Hari Pemuda dijadikan target pertama. Pelaku kudeta berencana menyerang pawai tersebut untuk memicu kepanikan massa di jalan-jalan.

Kemudian, sejumlah lokasi atau kantor strategis di kota Caracas akan dibom melalui sebuah aksi terkoordinasi dengan menggunakan pesawat Tucano. Berikut beberapa lokasi strategis yang direncanakan akan menjadi sasaran pengeboman:

  1. kantor TeleSUR (stasiun TV Amerika Latin)
  2. Markas intelijen militer (DIM)
  3. Plaza Venezuela (ruang publik di pusat kota Caracas)
  4. Departemen Pertahanan
  5. Istana Kepresidenan Miraflores
  6. Kantor Walikota Caracas
  7. Kantor Kejaksaan Umum
  8. Stasiun Metro Caracas

Dalam situasi kekacauan itu, pelaku kudeta berencana membunuh sejumlah tokoh oposisi dan tokoh pemerintah—termasuk Presiden Nicolas Maduro. Kemudian, pelaku kudeta akan memaksa media massa untuk mengumumkan berakhirnya pemerintahan sosialis di bawah Nicolas Maduro.

13 Februari 2015: pemerintahan hasil kudeta diharapkan akan mengambil-alih secara penuh kontrol terhadap negara dan menghentikan proses revolusi sosialis Bolivarian.

Militer Tetap Loyal Kepada Pemerintah

Sementara itu, pada hari Jumat (13/2) sore, Menteri Pertahanan Venezuela  Vladimir Padrino Lopez menyatakan kesetiaan militer terhadap pemerintahan Nicolas Maduro yang terpilih secara demokratis.

“Angkatan Bersenjata menegaskan kembali dukungan dan kesetiaannya kepada Presiden Nicolas Maduro dan menegaskan komitmennya untuk pembangunan dan kehendak rakyat, juga terhadap rencana pembangunan negeri menuju sosialisme,” kata Padrino Lopez.

Ia juga menegaskan bahwa militer tetap bersatu dan mengutuk segala bentuk tindakan barbarisme. Ia juga mengatakan, rencana kekerasan—yang disokong oleh Washington dan akan dijalankan oleh oposisi sayap kanan Venezuela—berhasil digagalkan berkat kesetiaan segenap aparatus negara.

Sebelumnya, dalam rekaman video yang dibuat oleh perancang kudeta, yang ditemukan oleh pihak berwenang Venezuela, memperlihatkan sejumlah anggota militer membuat pernyataan bahwa militer tidak lagi setia terhadap pemerintah.

Solidaritas Untuk Pemerintahan Revolusioner Venezuela

Begitu mendengar kabar tentang rencana kudeta yang gagal terhadap pemerintahan Nicolas Maduro di Venezuela, Presiden Bolivia Evo Morales menyatakan solidaritas untuk rakyat Venezuela.

“Kita semua punya kewajiban untuk menegakkan penghormatan terhadap demokrasi dan hasil pemilu. Dan jika kita semua punya kesadaran yang jelas, tidak mungkin imperialis mengalahkan kita,” katanya.

Morales juga mengeritik perencanaan kudeta itu sebagai sebuah upaya melawan demokrasi rakyat.

Sebelumnya, seratusan politisi dan intelektual Inggris juga menandatangani petisi berisi penolakan terhadap aksi kekerasan yang dilancarkan oleh oposisi sayap kanan Venezuela dan penjatuhan sanksi oleh AS terhadap Venezuela.

Dalam pernyataan yang ditandatangani tersebut, selain kecaman terhadap aksi kekerasan sayap kanan dan penjatuhan sanksi oleh AS terhadap venezuela, juga disebutkan soal perlunya menghormati prinsip tidak mencampuri urusan internal negara masing-masing dan perlunya mempertahan institusi demokratis negara hukum.

Raymond Samuel  

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut
  • Atan Liar

    Hasrat AS menggulingkan kerajaan- kerajaan yang tidak menyokong dasar militernya di negara lain cukuplah nyata.