Inilah Manfaat Kalau program Hilirisasi Mineral Serius Dijalankan

Indonesia seharusnya bisa mendapat banyak manfaat bila pemerintah konsisten melaksanakan program hilirisasi untuk komoditas mineral dan batubara.

Dalam diskusi bertajuk “PP nomor 1/2014 versus Kepentingan Nasional”, yang diselenggarakan oleh Gerakan Nasional Pasal 33 UUD 1945 (GNP 33 UUD 1945) Partai Rakyat Demokratik, di Jakarta, Kamis (13/2), Direktur Eksekutif Indonesia Resources Studies (IRESS), Marwan Batubara, membeberkan sejumlah keuntungan dari program hilirisasi minerba tersebut.

Pertama, meningkatkan nilai tambah atas produk mineral. Ia mencontohkan pada komoditi bauksit. Menurut dia, dari bahan mentah (raw material) menjadi produk jadi (final) bisa mendatangkan nilai tambah hingga 30 kali lipat. Nikel bisa menghasilkan nilai tambah 19 kali. Tembaga 11 kali. Dan timah bisa menghasilkan nilai tambah 12 kali.

Kedua, menciptakan lapangan pekerjaan. Ketiga, menarik investasi dari luar negeri: Foreign direct investment (FDI). “Ada sekitar 17 milyar USD investasi asing untuk pembangunan smelter,” ungkapnya.

Keempat, memberi kesempatan kepada Indonesia untuk berperan pada tataran pasar mineral global. Tak hanya itu, Indonesia juga bisa mengendalikan pasokan dan mempengaruhi harga.

Kelima, memberi kesempatan untuk konsolidasi produksi yang tersebar, yakni dari penambangan (mining), peleburan (smelting), dan pemurnian (refining).

Keenam, mencegah terjadinya penyelewengan terkait ekspor-impor produk mineral, seperti penyeludupan, transfer pricing, under reporting, dan lain-lain.

Ketujuh, memberi peluang kepada Indonesia untuk menguban status dari negara pengekspor bahan baku menjadi negara industri. Tak hanya itu, situasi itu juga akan semakin meningkatkan Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia.

Selain dampak umum di atas, kata Marwan, Indonesia sebetulnya juga akan langsung merasakan dampak ekonomis seandainya tegas memberlakukan larangan ekspor mineral mentah.

Pertama, tumbuhnya industri pengolahan biji nikel domestik dengan kebutuhan biji nikel dalam negeri sebanyak 18 juta ton per tahun.

Kedua, tumbuhnya industri bahan baku baja (sponge/pig iron) berkapasitas 9,5 juta ton per tahun.

Ketiga, tumbuhnya industri pengolahan konsentrat tembaga (copper concentrate) menjadi katoda tembaga (copper cathode) dalam negeri dengan kapasitas 425 ribu ton per tahun.

Keempat, meningkatkan daya saing industri hilir tembaga, seperti industri kabel, PCB, dan komponen elektronik lainnya.

Kelimat, tumbuhnya industri pengolahan bauksit menjadi alumina di dalam negeri dengan kapasitas 7 juta ton per tahun.

Keenam, kebutuhan alumina untuk PT. INALUM sebanyak 500 ribu ton per tahun bisa terpenuhi dari pasokan dalam negeri.

Marwan menegaskan, semua keuntungan atau manfaat ekonomi dari pengolahan mineral mentah di atas hanya bisa terwujud kalau pemerintah Indonesia bisa mengoptimalkan program hilirisasi dengan kebijakan larangan ekspor yang tegas. “Kalau mau berhasil, ya, jangan lagi ada relaksasi seperti sekarang,” tegasnya.

Mahesa Danu

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut