Inilah Lima Skenario Imperialis Merongrong Bung Karno

Setiap pilihan politik pasti akan memikul konsekuensi. Bung Karno sangat menyadari hal itu. Karena itu ia menyadari, dengan pilihan politiknya yang tegas anti-kolonial dan anti-imperialis, dirinya pun tak akan luput dari intaian mara bahaya dan upaya pendongkelan.

Pada tahun 1958, Bung Karno membeberkan setidaknya 5 skenario pihak imperialis bersama sekutunya di dalam negeri untuk mendompleng pemerintahannya.

Pertama, pihak imperialis bersama sekutu lokalnya menggunakan dalih pembangunan daerah untuk merongrong pemerintahan nasional. Padahal, kata Bung Karno, pemerintah nasional sudah merespon aspirasi daerah, semisal dengan lahirnya UU Otonomi.

Namun, para pemain lokal ini justru melakukan petualangan ekonomi, seperti korupsi besar-besaran dan penyelundupan. Selain untuk memperkaya diri, petualangan ekonomi itu untuk membiayai gerakan separatis di daerah.

Kedua, sekutu imperialis di dalam negeri menggunakan dalih “anti-komunis” untuk menggoyang pemerintahan pusat. Mereka menuding Jakarta, Ibukota Republik Indonesia, sebagai “kota Komunis”. Pemerintahan pusat adalah pemerintahan komunis. Dan Soekarno adalah gembong-nya komunis.

Menurut Bung Karno, penyakit “communistophobie”, yakni penyakit yang membesar-besarkan ketakutan terhadap komunis, hanyalah dalih pihak imperialis dan sekutunya untuk menghasut Rakyat agar membenci pemerintahan nasional yang berpusat di Jakarta.

Di Sulsel, misalnya, salah satu dalih yang digunakan Kahar Muzakkar untuk menyeberang ke DI/TII adalah, bahwa pemerintahan pusat sangat memberi tempat kepada komunis. Padahal, Kahar Muzakkar sangat akrab dan cukup dipengaruhi oleh Salawati Daud, salah satu tokoh kiri di Makassar.

Ketiga, melakukan aksi teror. Di jaman itu, aksi teror paling banyak dilakukan oleh gerombolan DI/TII. “Teror yang menggertak, menggranat, dan membunuh,” kata Bung Karno. Bung Karno sendiri berkali-kali menjadi sasaran aksi teror DI/TII, seperti peristiwa Cikini, penembakan mortir di Makassar, pemberondongan membabi buta saat Bung Karno menunaikan Sholat Idhul Adha, dan lain-lain.

Keempat, mencari bantuan dan kerjasama dengan pihak-pihak imperialis dan kontra-revolusioner di luar negeri. Pihak imperialis, seperti dalam kasus pemberontakan PRRI/Permesta, mengirimkan bantuan uang dan senjata kepada pihak pemberontak.

Namun demikian, pemberontakan PRRI/Permesta, yang didukung oleh CIA dan imperialis itu, berhasil dipatahkan oleh aliansi militer pro-Republik dan rakyat Indonesia.

Kelima, agresi terselubung dari pihak imperialis. Jadi, selain mendanai dan menyuplai senjata bagi sejumlah gerakan separatis di Indonesia, imperialis sendiri mengirim tentaranya untuk melakukan agresi terselubung di wilayah Republik.

Salah satu contohnya adalah petualangan Allen Pope, seorang tentara bayaran yang ditugasi CIA, untuk bekerjasama dengan Permesta menghancurkan Republik Indonesia. Tahun 1958, Allen Pope menggunakan pesawat B-26 Invader untuk memborbardir kota Ambon. Beruntung, penerbang-penerbang AURI berhasil menghentikan aksi itu dan menembak jatuh pesawat Allen Pope. Allen Pope sendiri berhasil selamat dari peristiwa itu. Ia berhasil terjun degan parasut sebelum pesawatnya hancur. Tetapi Ia berhasil ditangkap oleh pasukan TNI di darat. Allen Pope kemudian dijatuhi hukuman mati. Namun, atas pertimbangan kemanusiaan, Bung Karno mengampuni tentara bayaran asal AS tersebut.

Seusai perjanjian KMB tahun 1949, Republik yang masih muda ini sudah berhadapan dengan pemberontakan dan gerakan separatis: Republik Maluku Selatan (RMS), DI/TII, Pemberontakan Andi Azis/eks KNIL di Makassar, dan lain-lain. Puncak dari pemberontakan separatis ini, yang dibelakangnya imperialisme AS, adalah pemberontakan PRRI/Permesta. Bung Karno menyebut periode ini sebagai tahap survival atau bertahan hidup.

Tak hanya itu, pada tahun 1952, sudah terjadi upaya kudeta terhadap pemerintahan Bung Karno. Upaya kudeta itu, yang kemudian dikenal dengan istilah “peristiwa l 17 Oktober 1952”, digerakkan oleh sejumlah petinggi Angkatan Darat untuk membubarkan parlemen. Saat itu lusinan tank dan artileri mengepung Istana. Belum lagi demonstrasi ribuan orang yang digerakkan oleh tentara. Tetapi, syukurlah, kudeta itu berhasil digagalkan.

Bung Karno juga berkali-kali mengalami percobaan pembunuhan: ia pernah digranat di Cikini oleh gerombolan DI/TII (1957); ia pernah diberondong dari udara oleh pesawat Mig-17 yang dipiloti oleh Maukar (1960); iring-iringan kendarannya juga pernah diberondong mortir saat berkunjung ke Sulawesi Selatan (1960). ia juga pernah diberondong saat menunaikan sholat Idul Adha (1962); Ia juga pernah digranat di Makassar di tahun 1962.

Tetapi Bung Karno tidak menyerah. Ia tahu, setiap revolusi yang benar-benar revolusi akan selalu dirintangi oleh kontra-revolusi. Dan bukannya melemah, Revolusi Indonesia malah makin bergelora. Ini ditegaskannya pada pidato tanggal 17 Agustus 1959, yang diberi judul “Penemuan Kembali Revolusi Kita”. Pidato inilah yang melahirkan Manifesto Politik (Manipol) tahun 1959, yang menegaskan bahwa “hari depan Revolusi Indonesia adalah menuju Sosialisme Indonesia.”

Sayang, satu hal mungkin yang tidak terpikirkan oleh Bung Karno, yakni “kudeta merangkak”, yang dirancang oleh pihak imperialis dan sekutu loyalnya di dalam negeri (Baca pula: Kontra-Kudeta Yang Dirancang Gagal). Dan, sejarah kemudian menulis, Soeharto sukses menjalankan kudeta merangkak itu terhadap Bung Karno.

Rudi Hartonopengurus Komite Pimpinan Pusat – Partai Rakyat Demokratik (KPP-PRD); Pimred Berdikari Online

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut