Independensi Media Kembali Digugat

Kasus pengunduran diri koresponden stasiun TV Aljazeera di Beirut, Ali Hashem, terus menuai kontroversi. Pasalnya, pengunduran diri Ali Hashem merupakan protes terhadap “keberpihakan terselubung” Al-Jazeera terhadap sejumlah kejadian di Timur Tengah.

Sebuah sumber koran di Lebanon menyebutkan, pengunduran diri Ali Hashem terjadi setelah stasiun TV Al-Jazeera menolak menampilkan gambar yang diambilnya saat pejuang pemberontak bertempur melawan Angkatan Darat Suriah.

Yang terjadi justru sebaliknya: Al Jazeera menuding Hashem sebagai shabeeh (loyalis rejim). Hashem menganggap Al-Jazeera hanya meng-cover kejadian di Suriah dari satu sudut pandang saja, yakni oposisi.

Sementara itu, banyak keganjilan di pihak oposisi Suriah tidak mau ditampilkan oleh Al-Jazeera. Al-Jazeerah, seperti juga posisi media barat, telah mengambil posisi menyerang rejim berkuasa di Suriah, Bashar al-Assad.

Tetapi masalahnya tidak berhenti di situ. Al-jazeera justru menolak melaporkan berbagai kejadian di Bahrain. Di negeri monarkis tersebut, gerakan oposisi telah ditindas dengan sangat kejam oleh mesin militer.

“Di Bahrain, kami melihat rakyat dibantai oleh ‘mesin penindasan teluk’. Dan, untuk Al-Jazeera, mereka diam atas nama permainan,” kata Hashem.

Ghassan Ben Jeddo, bekas kepala biro Beirut yang juga mengundurkan diri setahun lalu, mengatakan Al-Jazeera bersikap bias saat meliput kejadian di musim semi Arab (Arab Spring), khususnya di Suriah dan Bahrain.

Di Suriah, misalnya, Al-Jazeera menyuarakan keprihatinan terhadap penindasan oposisi oleh rejim berkuasa dan setuju dengan intervensi NATO. Tetapi, di Bahrain, seperti juga pemimpin barat, Al-Jazeera tutup mata atas kekejaman militer terhadap demonstran tak bersenjata. Sebab, monarki di Bahrain masih disokong oleh barat.

Jurnalis dan Aktivis Anti-Perang, Don Debar, yang juga mengaku punya pengalaman dengan Al-Jazeera, menganggap Al-Jazeera banyak menjadi perpanjangan tangan kepentingan penguasa di Qatar.

Terhadap kejadian itu, mantan koresponden Al Jazeera biro Beirut, Ali Hashem, mengatakan, “Tidak ada lagi independensi media. Ini adalah agenda mencari uang untuk outlet media.”

“Politisasi media berarti media hari ini seperti partai politik. Setiap orang mengadopsi sebuah sudut pandang, berjuang untuk itu dan membawa semua alat dan semua sarana yang mereka miliki untuk mencapai jumlah pemirsa yang banyak,” kata Hashem.

Masalahnya, seperti diungkapkan oleh Hashem, ketika media sudah mencapai pemirsa yang begitu luas, tidak ada jaminan bahwa apa yang diklaim sebagai fakta adalah benar-benar fakta.

“Apa yang mereka lihat sebagai fakta tampaknya bukan fakta,” kata Hashem.

Karena itu, bagi Hashem, media harus punya “kekebalan” ketika memasuki perang dan konflik politik. Tentunya, yang diperlukan adalah menjamin kebebasan untuk berbicara.

Pada tahun 2006, Israel membombardir stasiun TV Al-Manaar. Alasannya, Al-Manaar telah melakukan propaganda melawan Israel. Bagi Hashem, sekalipun Al-Manaar memihak dalam perang, yakni mendukung Hizbullah melawan Israel, tetapi apakah Israel punya hak membobardir Al-Manaar?

“Tentu tidak,” kata Hashem. “Kami sebagai wartawan, apapun sudut pandang kami, punya hak untuk menyampaikan apapun dengan aman, tanpa ancaman dibom, ditangkap, dieksekusi, atau dibunuh.”

ALI RAHMAN

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut