Imperialisme Mengincar Mali

Tentara Perancis

Sejak Senin, 11 Januari lalu, Perancis melancarkan serangan militer terhadap Mali. Berbagai alasan pun dijejalkan, termasuk alasan kemanusiaan, untuk membenarkan intervensi militer ini.

Perancis beralasan, serangan militer ke Mali diperlukan untuk menyelamatkan negara itu dari teroris-fundamentalis. Maklum, militer Mali telah luluh-lantak dan tak berdaya menghadapi gerakan separatis Tuareg dan jaringan al-qaeda.

“Mali adalah salah satu negara termiskin di dunia dan menjadi korban terorisme selama bertahun-tahun,” kata Presiden Perancis, Francois Hollande, memberi alasan intervensi militernya.

Benarkah Perancis bertindak sebagai pahlawan kemanusiaan? Ataukah, Perancis, yang pernah menjajah Mali, punya motif lain?

Awal Krisis Politik

Pasca kejatuhan Khadafi di Libya, pejuang suku Tuareg menyatakan keinginan mendirikan negara Azawad, yang meliputi Mali bagian utara. Pejuang Tuareg mengorganisasikan diri dalam organisasi Gerakan Nasional bagi Pembebasan Azawad Mali utara (MNLA).

Suku Tuareq ini adalah suku gurun dan masih hidup berpindah-pidah. Ketika Khadafi di Libya masih berkuasa, suku Tuareq banyak menjadi penyokongnya. Bahkan, ketika Libya digempur pasukan barat, pasukan Tuareq membantu Khadafi.

Begitu Khadafi tumbang, pejuang Tuareq pun pulang ke kampung halaman. Mereka menggagas negara Azawad yang merdeka. Presiden Mali saat itu, Amadou Toumani Toure, menggunakan cara lunak untuk menghadapi gerakan separatis ini.

Pihak barat, khususnya AS, tidak suka cara lunak itu. Mereka ingin loyalis Khadafi itu ditumpas habis. Karena itu, berkat sokongan AS, seorang Kapten bernama Amadou Sanogo melancarkan kudeta.

Sayogo menyerbu istana Presiden dan menahan Presiden Toure. Dunia internasional sebetulnya mengutuk kudeta ini. Tetapi, pada kenyataannya, negara-negara barat membenarkan kudeta militer tersebut.

Dalam perkembanganya, Sayogo tak bisa menghadapi pejuang Tuareg. Belakangan, pejuang Tuareg berhasil menggasak mundur pasukan pemerintah. Hanya saja, pejuang Tuareg tak punya minat menguasai kota-kota, seperti Timbuktu, Gao, dan Kidal. Karenanya, begitu mereka berhasil mengusir tentara pemerintah, pejuang Tuareg kembali ke gurun.

Pada saat kekosongan itulah muncul kelompok jihadis Islam, seperti Ansar-al-Din (Pembela Iman), Gerakan Untuk Persatuan dan Jihad Afrika Barat (MUJAO), dan Al-Qaeda di Maghreb Islam (AQIM). Kelompok islam Fundamentalis ini segera menguasai kota seperti Timbuktu, Gao, dan Kidal.

Begitu menguasai kota-kota itu, kelompok islam fundamentalis menerapkan syariat islam. Seluruh kebudayaan dan tradisi afro-sufi diharamkan. Kelompok jihadis salafis ini juga menghancurkan makam-makan leluhur masyarakat asli. Seluruh perempuan harus mengenakan jilbab. Pencuri dipotong tangan, sedang pelaku zina dirajam.

Lebih parah lagi, kelompok jihadis itu juga memerintahkan pembakaran puluhan ribu naskah kuno. Beruntung, rakyat setempat berhasil menyelundupkan sebagian naskah kuno itu di rumah-rumah mereka. Sehingga, ketika kaum jihadis-salafis membakar museum utama, sebagian naskah kuno terselamatkan.

Kebangkitan kelompok jihadis-salafis ini, yang terkait erat dengan Al-qaeda, menjadi kekhawatiran barat. Mereka takut kalau Mali akan menjadi Afghanistan baru di bawah Taliban. Inilah yang dijadikan dalih oleh Perancis untuk menggempur Mali.

Motif ekonomi dan politik

Pada masanya, Perancis pernah menjadi kolonialis besar, yang kekuasannya tersebar di Amerika Latin, Asia, dan Afrika. Mali termasuk wilayah Jajahan Perancis. Meski Mali sudah merdeka di tahun 1960, Perancis tetap mempertahankan pengaruhnya di Mali dan bekas-bekas jajahannya. Muncul istilah “Françafrique”.

Mali sendiri negara yang sangat kaya raya. Negara ini punya emas, uranium, bauksit, besi, mangan, timah dan tembaga. Laporan terbaru menyebutkan bahwa Mali bagian utara—yang sekarang ini menjadi zona perang—punya cadangan minyak yang luar biasa.

Kepentingan ekonomis Perancis di Mali juga bisa dibaca. Sebagian besar investasi Perancis di Afrika ada di Mali dan Nigeria. Tambang-tambang uranium di Mali dan Nigeria menjadi sumber energi nuklir Perancis, yang melayani 75 persen kebutuhan listrik negeri itu.

Ironisnya, sekalipun Mali sangat kaya raya, tetapi sebagian besar rakyatnya bergelimpangan dalam kemiskinan. Angka kematian bayi di Mali mencapai 109.08, yang merupakan terburuk ketiga di dunia. Di Mali, hanya 31,1 persen orang dewasa yang bisa membaca.

Selain motif energi di atas, Perancis—juga negara-negara Eropa dan AS—sangat khawatir dengan menguatnya pengaruh trio: Tiongkok, Rusia, dan Venezuela. Namun, diantaranya ketiganya, Tiongkok-lah yang paling mengkhawatirkan. Untuk diketahui, sepertiga kebutuhan energi Tiongkok didapatkan dari Afrika.

Itulah imperialisme, dengan segala kedoknya, tetap tidak bisa mengurunkan nafsunya menguasai sumber daya dan kekayaan bangsa lain.

Raymond Samuel

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut