Ikatan Cendekiawan Nasionalis Indonesia Dideklarasikan

Situasi Indonesia yang berada dalam penjajahan baru: neoliberalisme; tak berdaulat dan tergadaikan; tak mandiri dan tak berkepribadian, mendorong sebagian anak-anak bangsa berkumpul dan bertekad mengembalikan kedaulatan tersebut dengan membentuk dan mendeklarasikan Ikatan Cendekiawan Nasionalis Indonesia (ICNI) di Gedung Juang, Menteng 31, Jakarta(5/11).

“Persoalan Nasional kita bukanlah pekerjaan yang gampang untuk dituntaskan. Sepatutnya menjadi perhatian semua pihak, terutama para pemimpin dan generasi muda bangsa ini. Marilah membangun semangat gotong royong dan nasionalisme Indonesia sehingga menjadi bangsa yang mandiri dan berdaulat di tengah ancaman neo kolonialisme! Karena bagi bangsa ini, Revolusi belumlah selesai,” kata Marwah Unga JB yang menjabat Ketua Umum Ikatan Cendekiawan Nasionalis Indonesia (ICNI)

Menurut Soemarjoto, penggagas Ikatan Cendekiawan Nasionalis Indonesia (ICNI), Cita-cita revolusi Bangsa Indonesia adalah sangat luhur, yaitu melenyapkan kolonialisme dan imperialisme dari muka bumi dan berjuang menuju ketatanan masyarakat adil dan makmur.

Cita-cita yang terakhir ini bukanlah hanya khayalan belaka karena bangsa Indonesia adalah Negara yang menurut para ahli adalah terkaya ke-V di dunia. Justru karena Indonesia adalah Negara terkaya V di dunia itulah maka banyak Negara-negara besar yang ingin menguasai Indonesia.

Soemarjoto juga menyampaikan bahwa Indonesia saat ini sudah lengkap dikuasai oleh asing sebagaimana doktrin Mc Artkhi atau Chunchil yang muncul pada akhir Agustus 1945 dan merencanakan menguasai Indonesia dan membaginya menjadi tiga wilayah yaitu sebelah barat bagian utara menjadi Malesian Region, sebelah timur bagian utara menjadi Melanesian Region dan sebelah selatan menjadi Service Center.

Pada acara deklarasi yang dilanjutkan dengan seminar kebangsaan dengan tema Indonesiaku Telah Tergadaikan. Kembalikan Kedaulatan ke tangan Rakyat!!! ini hadir juga Sri Bintang Pamungkas, Ikrar Nusa Bhakti dan Christina M Rantetana, staf Ahli Menko Polhukam.

Sri Bintang dengan mengutip Habibie, mantan Presiden RI ke-3, menyampaikan bahwa Cendekiawan, tidak peduli Doktor atau tidak, adalah orang yang mampu mendengar bisikan rakyat atau suara rakyat.

Christina M Rantetana mengharapkan adanya pembangunan nasional yang berpihak dan bersandar pada dunia kemaritiman karena begitu luasnya wilayah laut di Indonesia. Sementara Ikrar Nusa Bhakti mengharapkan cendekiawan nasionalis agar juga memperhatikan nasib rakyat Papua dan menyayangkan sikap pemerintah yang lebih berlaku sebagai komprador asing dengan lebih mengutamakan kepentingan Freeport daripada mendukung anak-anak bangsa yang sedang menuntut kenaikan upah.

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut